17.1.13

Sudah dua malam yang saya niatkan untuk latihan soal UN malah berujung dengan diskusi seru panjang lebar dengan ibu saya. Tentang apapun dan banyak sekali hal yang bisa kita saling cerita dan ambil sari-sarinya. Tapi yang tercantol di kepala saya salah satunya adalah cerita tentang om saya.


Malam tanggal 16 Januari itu, saya bicara sambil diteman teh dan sup kaldu hangat di ruang keluarga disertai rintikan hujan di luar. Awalnya ibu saya bercerita tentang om yang tidak pernah saya kenal karena meninggal pada tahun 1986 karena gagal ginjal, itu juga awalnya saya sendiri yang minta ibu bercerita. Namanya Slamet, atau biasa dipanggil Mamet. Om saya meninggal di usia 19, dan om adalah calon mahasiswa FISIP UGM yang sebelumnya cuti setahun karena tidak diterima SPMB tahun sebelumnya.

Saya sebenarnya sudah banyak mendengar tentang kisah hidupnya yang pendek. Menurut ibu dan tante-tante saya, om sangat care terhadap adik-adiknya, dari bayangan saya, dia itu pria yang ramah dan perhatian.

Di beberapa surat terakhirnya untuk ibu saya yang ada di Jakarta sementara ia ada di Wonogiri, ia menulis bahwa ia ingin ke Jakarta dan 'ngemong' anak-anak kakaknya saat kakaknya, yaitu ibu saya, sudah menikah one day, walau baru delapan tahun kemudian saya lahir. Sampai pada suatu hari, ibu saya membaca surat darinya yang kira-kira ada kalimat berbunyi begini: "Kemarin saya ke rumah Mas Lis (sepupu ibu saya) dan membaca buku kedokteran, sepertinya penyakit saya sudah tidak bisa disembuhkan lagi, Mbak."

Saya bisa membaca mata ibu saya yang berkaca-kaca saat menceritakan hal itu.

Kemudian ibu saya bercerita bahwa sepeninggal om saya, eyang putri berkabung selama 100 hari dan tidak keluar rumah selama masa berkabung itu.

Then, my mom said: "That's how hard to have a family member leaving us early, and it's tough"

And then I realize, I'm not that family-oriented,
I feel so bad.

I just want to pray for him from here and pray to God to always protect him, although I never knew him at all. Hanya fotonya saja yang sering saya lihat, itupun tak banyak.

Well, om saya pernah bilang di suratnya kan bahwa ia pengen 'ngemong' anak-anak kakaknya, did he done that to me in the different world? or did he watch me and my sister in his world? Hmm...


1 komentar:

fariz syahtria mengatakan...

Sedih banget yaa, tapi nice posting lah. Salam kenal mungkin kalau mau mampir di blog hina saya http://farizsyahtria.blogspot.com/ hehe

Poskan Komentar

 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.