Sudah berapa lama gue nggak menulis?
Bahkan gue sudah gak inget kapan terakhir kali nulis fiksi atau esai, atau artikel, apalah itu.
Yang gue tau sampai bulan lalu, gue harus mendapatkan nilai bagus di UN dan bisa masuk universitas yang gue idam-idamkan sejak gue SD.
Which is, okay.
Tapi setelah UN, kelelahan gue untuk belajar sangat pintar membunuh hobi-hobi gue karena dia berhasil membuat gue hampir melupakan hobi-hobi gue dan menyulap gue menjadi seorang adolesen yang malas dan kurang kerjaan.
Saking kurang kerjaannya, gue sampai berpikir aneh-aneh tentang banyak hal, bahkan tentang diri gue sendiri. Bahkan secara ekstrem ingin mengubah diri gue, tapi selalu gagal. Itu semua buah dari kurang kerjaan gue.
Gue aja sekarang mati suri juga ngegambarnya karena bingung, semua wayang yang ganteng dan cantik gue udah gambar. Gue mencoba gambar raksasa tapi... entah kenapa stuck aja.
Menulis juga gitu. Thought Book gue hampir gak pernah diisi setelah UN, bahkan gue udah hampir gak pernah ngetwit karena nggak tau mau nulis apa di Twitter. Seakan, gue kena writers block (dan memang sudah kena sih) dan writers block adalah penyakit yang sejauh ini paling mematikan yang pernah dialami gue seumur hidup, gue pernah kena chikungunya, tapi penyakit itu bullshit dan bahkan tidak lebih berbahaya dari writers block. Karena writers block membunuh produktivitas dan semangat berkreasi gue, yang membuat gue gak bisa living life to the fullest.
Terus terang, gue malu, sedih, bingung.
I was so passionate.
Kenapa gue sendiri nggak bisa berperang melawan writers block ini.
Yang ternyata terus-terus gue salahkan
Ini bukan semata-mata karena writers block, ini pasti ada faktor-gue.
Malas.
Ada yang tau racun pembunuh malas secara cepat?
Eutanasia khusus kemalasan mungkin?
Setelah kemarin gue bertemu dengan teman baik gue yang sedang semangat-semangatnya ikut lomba menulis di mana-mana, walau dia punya motif lain, tapi who cares, he's writing with his passion gitu. Sementara kemarin di seleksi tahap dua AFS Jakarta, gue kebagian meng-observe seorang peserta cewek, namanya Ayunda, yang passionate untuk menulis dan sudah menerbitkan 14 buku seri Kecil-Kecil Punya Karya. Walau kabar baiknya dia bilang sendiri bahwa gue keren, dia sering baca blog gue dan terinspirasi dari gue, tapi tetap, gue hanyalah seonggok butir debu yang bahkan bisa muksa dengan tidak berarti, kapan saja.
Fiksi-fiksi gue sebagian besar tidak ada yang pernah selesai.
Semuanya karena gue menyalahkan writers block.
Tapi kalau semua penulis bisa menyelesaikan tulisan-tulisannya, kenapa gue nggak bisa?
Premisnya:
1. Gue adalah penulis
2. Semua penulis bisa menyelesaikan tulisan-tulisannya
Kesimpulannya:
Gue bisa menyelesaikan tulisan-tulisan gue.
Bagaimana mengimplementasikan silogisme itu di dunia nyata?
Ya, gue harus membangkitkan gairah menulis dari dalam kubur.
Menepis semua kenyataan bahwa writing devices (or drawing devices) gue terbatas karena gue gak punya gadget atau apa lah. Alasan apapun tidak diterima. Gue harus menulis.
Pusara ide yang lama mengendap, harus gue keruk.
Dengan apa?
Dengan semangat lah, masak dengan buldoser.
3.5.13
These are another drawings of mine. I need critics, comments, feedback or whatever. Just leave something in comment :D Enjoy my creations.
Oh iya, semua gambar di sini terinspirasi dari serial komik Wayang Purwa tahun 1956 karya Ardi Soma (yang diterbitkan kembali tahun 2002) dan gue modernisasi. Enjoy once again :)
Oh iya, semua gambar di sini terinspirasi dari serial komik Wayang Purwa tahun 1956 karya Ardi Soma (yang diterbitkan kembali tahun 2002) dan gue modernisasi. Enjoy once again :)
![]() |
| Dewi Citrawati |
![]() |
| Lovers |
![]() |
| Women Mercenary |
![]() |
| colored Princess |
![]() |
| Dewi Anjani, Hanoman's mother before turned into a white monkey |
![]() |
| Raden Sumantri, an excellent warrior |
29.4.13
Tidak semua orang dekat, bahkan masih banyak teman-teman gue yang gak tau bahwa gue ini ngefans abnget sama cerita-cerita wayang. Di rumah, saya punya seri lengkap komik Wayang Purwa dan Ramayana. Currently, gue lagi ngumpulin komik Mahabarata, baru sampe 2 seri padahal mungkin udah keluar sampai seri 5 sekarang, atau mungkin lebih.
Terus, gue nganggur. Dengan gue nganggur, gue kembali ke hobi lama gue, hobi yang sangat lama gue belum tekuni lagi yaitu gambar. Terakhir kali gue gambar (yang menurut gue) bagus dan niat itu setahun lalu di kelas Art SMA Amerika gue, ya udah, sekarng gue balas dendam, gue gambar lagi dan gue bikin karakter wayang, inspirasinya dari Komik Wayang Purwa.
Check this and please, I need critics. Gambar gue sebenarnya nothing hehe.
Terus, gue nganggur. Dengan gue nganggur, gue kembali ke hobi lama gue, hobi yang sangat lama gue belum tekuni lagi yaitu gambar. Terakhir kali gue gambar (yang menurut gue) bagus dan niat itu setahun lalu di kelas Art SMA Amerika gue, ya udah, sekarng gue balas dendam, gue gambar lagi dan gue bikin karakter wayang, inspirasinya dari Komik Wayang Purwa.
Check this and please, I need critics. Gambar gue sebenarnya nothing hehe.
![]() | |
| Dewi yang kabur dari khayangan |
![]() |
| Dewi yang galau |
![]() |
| Dua bangsawan muda, sepertinya mulai saling menyukai |
![]() |
| Interpretasi gue tentang Arjuna Sasrabahu. Cukup mirip yang ada di komik (menggambar ini setelah nonton World of Wayang) |
![]() |
| Sang putri raja |
25.3.13
Di akhir program pertukaran pelajar tahun lalu, gue berkenalan dengan anak-anak delegasi Malaysia, yang gue lihat, ramah-ramah, baik hati dan seriously tidak sombong. Gue dan salah satu temen gue memberanikan diri untuk berkenalan waktu itu, di Bandara Chicago O'Hare sewaktu kami transit menuju Washington DC untuk reorientasi kepulangan. Kesan pertama bertemu anak Malaysia adalah, they are some kind of Indonesians with different dialect. That's it. Cara mereka berkenalan ya layaknya kenalan sama orang Indonesia, kehangatannya sama, yang beda hanya dialeknya saja kok. Salah satu temen gue asal Rangkasbitung yang satu sekolah sama anak Malaysia pun cerita bahwa mereka gampang dekat karena merasa berasal dari daerah yang serumpun.
Gue dan temen gue kemudian memberanikan diri untuk bertanya: "No offense, kalian tahu nggak sih soal Malaysia pernah menganggap salah satu produk kebudayaan Indonesia bagian dari Malaysia?" dan jawabannya adalah, "Kami tak tahu, bahkan kami baru dengar," kami mendengarnya cukup kaget, dan kami mencoba menceritakan apa yang pernah terjadi. Mereka ada yang menegrnyitkan dahi dan malah bilang itu bukanlah tindakan terpuji, karena mereka tidak pernah merasa mengklaim.
Untuk-orang-orang yang nggak open-minded pasti bakal bilang, mana ada maling mau ngaku? Tapi, come on, they are teenagers dan sebagai pelajar pertukaran, kita harus jujur, bersikap terbuka dan mendukung komunikasi antarbudaya dengan baik. Jadi yang gue bilang, mereka 100% jujur.
Malaysia itu punya tiga kelompok etnis pokok, ada Melayu, Chinese dan India. Makanya mereka bilang "Malaysia, truly Asia" because literally, negara mereka terdiri atas difusi kelompok etnis besar yang ada di Asia. Mereka sudah cukup kaya kok, ngapain mereka harus maling?
Ada lagi alasan untuk kita nggak jelek-jelekin Malaysia sebagai maling, ini dia poin-poinnya:
- Dari mana akar Bahasa Indonesia? Melayu Riau. Orang Malaysia sebagian besar terdiri atas suku apa? Melayu. Jadi ibaratnya Malaysian is the English people (karena Melayu baku) dan Indonesia is the Americans (karena Melayu-nya sudah mengalami perkembangan) iya nggak?
- Rendang diklaim Malaysia, sewot? Nggak perlu. Kalian tahu the state of Negeri Sembilan di timur Malay Peninsula? Sebagian besar penduduknya terdiri dari keturunan Minangkabau, dan you know what, Rendang itu punya orang Minang, bukan totally Indonesian kan jadinya?
- Reog diklaim Malaysia, sewot? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang di Malaysia ada settelement keturunan Jawa Timur gitu, mereka cuma mencoba melestarikan kebudayaan leluhurnya di tanah tempat tinggal, bukan ngejadiin identitas negara. Salah satu Menteri Malaysia aja orangtuanya berasal dari Ponorogo.
- Tari Pendet diklaim Malaysia? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang itu salahnya Discovery Channel masukin tarian itu ke iklan pariwisata Malaysia, bukan salah orang Malaysia kan?
- Batik diklaim Malaysia? Kapan? Orang udah didaftarin sebagai Warisan Dunia dari Indonesia kok, harusnya bangga dong dipakai Malaysia, mereka mengagumi keindahan seni kita, tuh Nelson Mandela hampir setiap event pake Batik kok gak ada yang sewot?
- Sipadan-Ligitan? Nggak usah dibawa dendam ah, orang itu kita sendiri yang ingin bawa ke Lembaga Arbitrasi Internasional kan? Lagian cuma berapa pulau sih, dua atau tiga, ya sudah lah. Kita masih punya 17508 pulau buat diurus, kalau ada negara lain mau ngeklaim, capek juga kaliiii.
Di sini, gue nggak mau ngebela Malaysia habis-habisan, I just write based on the reality I saw, either on TV or in the reality dan bahan bacaan gue. Gue cinta Indonesia dan bangga jadi orang Indonesia yang memiliki toleransi, makanya gue prihatin dan menulis ini. Gue di sini pengen mengajak kita semua untuk bareng-bareng nggak mudah terprovokasi sama hal-hal gak penting yang berpotensi memecah belah hubungan kita dengan negara lain, apalagi negara yang, akui sajalah, serumpun dengan negara kita. Kita harus lebih objektif memandang hal-hal kebudayaan yang cakupannya luas, yang skalanya internasional seperti ini.
Kalau suka nonton Upin-Ipin, mereka aja tanpa ragu masukin Susanti sebagai anak Indonesia yang tinggal di Malaysia yang sering cerita apa saja sih kebiasaan-kebiasaan orang sini, artinya kan mereka mau menjaga cultural understandings sesama serumpun dengan sangat baik.
Kita hanya beda jajahan sama cakupan wilayah politik saja kok, nggak perlu kita dengki sama mereka. Mendingan kita bergerak aja, menjalin persahabatan, jadikan mereka sebagai panutan yang bikin 'malu' lah, masak serumpun tapi kita nggak semaju mereka? Dulu mereka memang pernah belajar dari kita, sekarang kenapa kita harus malu sih belajar dari mereka?
Mereka tidak pernah bermaksud jadi maling. Sementara di Indonesia masih banyak banget yang jadi maling kesejahteraan rakyat sendiri. Hayo, maling teriak maling?
5.3.13
SAYA SUDAH LUPA CARANYA NGEBLOG
karena apa?
KARENA SAYA HARUS PERSIAPAN UAS DAN UAN
ya sudah, kalau sempat saya akan banyak bercerita, karena selama persiapan US dan UN ini tidak ada cerita yang menarik, isinya belajar doang, lu pasti gak bakalan suka.Eh, ada deng.
Soal Stand Up Comedy Indonesia Season 3 di Kompas TV yang seru parah suka banget gueee, itu doang. Tapi ntar aja dah ceritanya.
Doakan saya ya. Love you!
31.1.13
Saya seriously berterima kasih kepada para pembaca blog saya. Akhirnya saya merampungkan juga partisipasi saya pada program 30 Hari Bercerita.
Serius, ini melatih konsistensi saya dalam menulis, reviewing, gak malas untuk bercerita, mengekspresikan hal-hal dalam diri, pokoknya semuanya.
TERIMA KASIH
Sampai jumpa di post-post absurd saya berikutnya ya.
Sabagai penutup, saya akan memberikan sebuah lagu yang juga absurd dari Lonely Island berjudul Threw It On The Ground. PECAHKAN SAJA SEMUANYA BIAR RAMAI DAN KARENA KITA TIDAK SESUAI DENGAN SISTEM :) Keep writing, breakthrough!
Serius, ini melatih konsistensi saya dalam menulis, reviewing, gak malas untuk bercerita, mengekspresikan hal-hal dalam diri, pokoknya semuanya.
TERIMA KASIH
Sampai jumpa di post-post absurd saya berikutnya ya.
Sabagai penutup, saya akan memberikan sebuah lagu yang juga absurd dari Lonely Island berjudul Threw It On The Ground. PECAHKAN SAJA SEMUANYA BIAR RAMAI DAN KARENA KITA TIDAK SESUAI DENGAN SISTEM :) Keep writing, breakthrough!
Langganan:
Entri (Atom)













