11.1.13

Saya adalah seseorang yang sangat setuju dengan gender equality.
Walau saya mengerti beberapa batasan-batasan dari ekualitas gender, karena menurut pandangan saya, laki-laki dan perempuan memang punya perbedaan mendasar secara fisik yang memang nggak bisa diubah karena dari sononya, alias kodrat fisik.


Buat saya, laki-laki dan perempuan itu punya kesamaan hak dan kewajiban secara individu. Kecuali jika dalam keluarga baru, memang harus ada sebuah kesepakatan dan komitmen khusus dalam membangun keluarga. Saya pun berpendapat, baik laki-laki maupun perempuan harus menghargai kebebasannya masing-masing, nggak ada yang boleh saling mediskreditkan decisons masing-masing, serta nggak boleh looking down each other either. Saya lebih suka jika perempuan dan laki-laki saling berbaur dan sharing their own strengthness tanpa melihat gender atau orientasi seksual masing-masing.


Saya memang bukan seorang feminis, saya juga bukan aktivis HAM. Saya hanya sadar kalau saya mau menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, saya harus bisa melihat seluruh manusia sebagai manusia, terlepas perbedaan yang ada, karena setiap manusia punya kebebasan yang harus berdasarkan pada hati nuraninya.


Beberapa guru di sekolah saya terlihat nggak setuju dengan adanya ekualitas gender dan mengatasnamakan agama. Mereka bilang laki-laki kodratnya memimpin dan perempuan mengurus keluarga dan sebagainya, saya sebagai perempuan agak kesal juga sih, walau saya hargai pandangan mereka. Balik lagi, laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban yang sama sebagai individu, nggak boleh dibeda-bedakan. Setiap laki-laki dan perempuan punya pilihan hidupnya masing-masing, nggak boleh ada yang lebih disuperiorkan.


Adanya ekualitas punya 'hikmah' tersendiri. Ekualitas membuat toleransi jadi lebih terjaga dan tercipta di banyak lapisan. Ekualitas juga memberi kesempatan bagi semua orang untuk menjadi apa yang mereka mau tanpa harus terkekang oleh regulasi-regulasi seksis atau aturan adat yang kadang menjunjung superioritas suatu particular gender. Bahkan, semua agama juga ngajarin ekualitas, tapi ekualitas dalam agama memang ada batasannya dan nggak tidak terbatas.


Ini sudah 2013, sudah seharusnya ekualitas merupakan hal yang tidak perlu diingatkan lagi pada orang-orang banyak. Ekualitas itu soal toleransi.


Manusia adalah manusia, mereka punya kebebasan dan kewajiban. Tidak ada yang boleh mengekang satu sama lain karena manusia itu semuanya sama. Every single human is equal.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.