8.9.12

Sudah dua bulan lebih gue menginjakan kaki kembali di tanah air, akhirnya gue mulai coping with situations yang ada sebagai manusia Indonesia kembali, Insya Allah yang punya kualitas internasional juga (amin). Ada satu hal, yang nggak bisa dibilang sepele juga sih, tapi kayaknya udah mendarah-daging di komunitas kehidupan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yaitu salam-salaman. Nah dari dua kalimat tadi, apa hubungannya? Yaitu, baru setahun tinggal di negara barat, gue sempat lupa dengan tradisi salaman sama orang lain, termasuk yang lebih tua, nah loh.


Kurang lebih pas masih sebulan habis pulang, gue kalau ketemu guru memang selalu mencoba untuk salaman, cium tangan, tapi masih aja ada awkward feels gitu. Apalagi pas gue dan temen baik gue, Melody, datang ke kantor radio buat siaran beberapa kali, dia dengan sopan dan santunnya sama satpam dan siapapun di kantor yang dia kenal dia salaman cium tangan, gua pikir, buset ini anak baek bener ya, sopan bener, gaul tapi tetep aja siapapun disalamin, guepun ngikutin dia salaman sama siapapun yang dia salamin karena gue merasa gak sopan kalo gua gak salaman. Udah gitu, waktu gue jagain Taman Baca Bulian (taman baca yang dimotori teman-teman gue dimana gue volunteering aktif di sana, mungkin gue akan ngepost tentang taman baca ini), anak-anak yang udah selesai baca dan mau pulang mereka ngehampirin gue, "Pulang dulu ya kak," terus mereka nyodorin tangan, oh, mereka mau salaman, eh pada cium tangan. Sopan dan hormat banget.

Satu tradisi salaman yang besar dan semua orang pasti pernah lihat atau datang, Halal Bi Halal. Ini emang pake bahasa Arab judulnya, tapi tradisinya sangat mengakar di kehidupan Indonesia bro-sis, khususnya yang beragama Islam. Halbi, di manapun, pasti selalu akan ada salamannya. Misal kalau di sekolah, guru berjejer kemudian murid satu sekolah baris buat salam cium tangan satu-satu minta maaf.

Di sana, salaman itu hanya untuk hal-hal yang formal aja. Kalo ingin ngucapin selamat, atau greetings, goodbyes sama orang yang sudah dikenal dekat, biasanya kita pelukan, lebih mendalam dan berkesan. Misalnya waktu gue ngasih selamat graduation buat temen gue, tapi kita gak deket banget, kita pelukan aja, terus gue say goodbye sama guru-guru favorit karena mau pulang ke Indonesia, kita pelukan. Sementara pas latihan interview job di pelajaran bahasa Inggris, diajarinnya pake jabat tangan, sejauh ini yang gue lihat berjabat tangan di Amerika ya itu doang, sama apabila ada pemenang lomba hadiahnya dikasih sama petinggi-petinggi gitu.Yang gue lihat, hubungan antar orang dekat di sana itu dibuat untuk sangat intimate, lebih heart-to-heart eventhough hanya berteman di sekolah dan sama guru, tapi sekalinya nggak kenal mereka nggak akan mau intimate. Tak kenal tak akan sayang, dan sekali mengenal akan sayang.


Selama di sini, gue pikir budaya salam-salaman ini sangat Indonesia loh, gue belum menemukan hal serupa terjadi di negara lain, setidaknya yang gue lihat dari film dan pantauan langsung yang nggak banyak. Mungkin budaya salam-salaman dan cium tangan adalah bawaan dari budaya komunitas Muslim yang besar di Indonesia, sehingga mempengaruhi keseluruhan kehidupan berbudaya di Indonesia, nggak peduli suku, agama dan ras semua orang Indonesia juga suka salam-salaman dan cium tangan tanda hormat sama orang yang lebih tua. Coba, kalau di negara lain, orang Arab kalau ketemu temen sejenis salaman dan cipika-cipiki sih, orang Katolik kalau ketemu Paus juga cium tangan, tapi adakah yang menjadikan salaman dan cium tangan itu sebagai gaya hidup yang mengakar semua orang? Bangsa mana sih yang anak kecilnya sedari bayi udah diajarin "Ayo salim dulu sama kakaknya,"?

Tradisi ini seharusnya dipertahankan, tapi tujuannya positif. Tradisi ini harus mencerminkan bahwa bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang tahu sopan santun dan saling menghargai. Tidak seharusnya menunjukkan bahwa ada perasaan gila hormat dan senioritas oleh kalangan tertentu. Salaman itu untuk memperkuat silaturahmi dan bukan mencari kehormatan. Salaman juga menandakan bahwa kita ini sebagai makhluk Tuhan yang sederajat dan tidak berbeda di mata Tuhan.

1 komentar:

tofaninoff mengatakan...

wah iya juga ya

Poskan Komentar

 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.