15.9.12

Jadi kejadiannya gini bray, gua kan sekarang sekolah dan sekelasnya sama anak-anak yang dulu jadi adek kelas gue, yang gue gak tau orang-orangnya seperti apa, psikologi dan latar belakang pemikiran mereka serta interest mereka tuh apa-apa aja gue belom ngerti banget lah.

Yang mau gue bicarain di sini bukan derita gue 'gak naik kelas' tapi pandangan gue setelah gue kembali lagi ke sekolah lama dengan pemikiran gue yang baru. Banyak banget perbedaan yang gue lihat dengan kembali bergaul dengan mantan adek-adek kelas gue ini, bergaul dengan mereka nggak kayak waktu gue bergaul dengan angkatan lama gue, atau mungkin setidaknya itu yang gue rasakan. Gue bukannya mau ngejudge yang mana yang lebih seru atau yang mana yang lebih ini-itu, tapi ternyata emang society yang gue lihat selama ini bukan seperti yang gue harapkan saat gue berada di benua sana.


Pas gue pulang, gue punya banyak ekspektasi tentang teman-teman baru gue ini, dan juga ekspektasi tentang teman-teman yang dulu seangkatan di sekolah. Gue berharap mereka adalah anak-anak yang bersemangat dalam mencapai cita-cita mereka, mereka adalah anak-anak yang dibesarkan dan bergaul dalam lingkungan ibukota Jakarta yang tau negaranya dengan baik, mereka anak-anak yang berani berpendapat dan bisa memakai kepala dan dada secara sinkron. Nyatanya?

Well, I don't want to judge who or what.

Tapi gue kadang merasa kecewa berada dalam lingkungan sekolah yang begini.
Atau mungkin, gue yang nggak normal.



And this is what I face in the past 2,5 months at school:

  • Dari 10 orang yang gue tanya: "Elo ntar mau kuliah apa?" yang bisa jawab dengan jelas cuma 3 orang. Please, ini urusan 8 bulan ke depan. Bukan urusan 3 tahun lagi 

  • Dari 5 kelompok yang memberikan presentasi di pelajaran-pelajaran IPS, semuanya membaca presentasi tersebut dan masih nggak ngerti esensi presentasi power point itu apa. Please, Power Point, bukan Power Paragraph. Mereka cuma copy paste dari web, tanpa mengolah kata lagi, mengambil hal yang penting, bahakan kadang nggak ngerti sama sekali apa yang mereka presentasiin, yang penting ada nilai.

  • Meresensi buku juga, copy paste dari web dan nggak dibaca bukunya, atau memilih buku dengan asal. Meresensi buku ilmiah atau nonfiksi atau biografi, tapi buku yang diambil, dia sendiri nggak tertarik dan nggak pernah mendengar soal apa yang dibahas buku itu, padahal gue udah bilang sama mereka, ambil buku yang kira-kira lo tau, pernah denger atau kontennya menarik buat elo, nggak didengerin juga. Mana ada meresensi buku cuma baca halaman/bab pertama doang?

  • Merangkum dari buku cetak. Oke ini merangkum. Tapi kenapa satu bab ditulis semua? Kenapa nggak bikin kata-kata sendiri, dimengerti gitu apa yang dirangkum. Stabilo-in poin penting di suatu bab. Poin pentingnya aja loh. Tapi kenapa yang distabiloin semua paragraf?

  • Mirisnya lagi, suatu hari di pelajaran Bahasa Inggris, dari yang kita diskusi tentang pertanyaan sehari-hari, sesimple "Where were you born?" dan cuma 1-2 yang bisa jawab, ujungnya kita belajarnya balik lagi kayak anak SD sampe belajar nyebutin nama-nama hari, nyebutin jam. Gue bilang: "Gue ngerasa bego," dan gue kelas 12.

  • Gue ngejelasin contoh di pelajaran Sosiologi "Apabila suatu negara merubah dasar negara," lalu yang gue jelasin malah nanya, "Emang dasar negara kita apaan sih?" Gue langsung yang, "HAH? elu orang Indonesia bukan sih?!" terus dia nebak "UUD 1945 ya?" "Ya bukan lah!" "Eh.. iya Pancasila deng," gue agak wondering, gak lama lagi dia mungkin gak hapal Pancasila

  • Gue mengemukakan pendapat, di kubu cowok-cowok gue denger komentar: Apaan sih?! Penting banget! Sok banget! WOOOO! atau Hiyaaaaahh! atau Udah apa udah!! Wujud bahwa mereka sendiri nggak bisa mikirin hal-hal yang kritis atau yang penting bahkan untuk kelangsungan pendidikan mereka sendiri  

  • Nyontek. Masih jaman? Plagiat. Mereka ngerti nggak sih arti plagiat dan itu adalah sebuah kejahatan intelektual?


SAYA MALU

MALU

Apa memang anak-anak remaja sekarang itu adalah anak-anak yang malas mikir?
Apa mereka nggak sadar bahwa tinggal hitungan 1 dasawarsa, yang bakal jadi suksesor negara ini tuh dia?
Kenapa cuma percintaan, musik-musik yang mereka suka, penampilan, pergaulan yang up to date, Blackberry, smartphone, gadgets, nongkrong, main game, dan hal-hal yang harusnya bisa dikurangi dulu yang malah mereka utamakan?
Gue nggak ngerti lagi.


Bukannya gue gila belajar.
Bergaul itu penting.
Asalkan ujungnya nggak menjadi bagian masyarakat yang materialistis.
Menjadi kelompok manusia yang hidupnya kurang berkualitas
Kelompok orang yang nanti pas udah gede nyeselin masa remajanya
Gue cuma mau kita lebih sadar umur.
Lebih menggunakan hati dan pikiran, setting priorities, lebih mengenal diri kita dan mengembangkan hal-hal yang penting dan positif.
Pikir dan rasakan.
Jangan masih bertindak karena merasa kalau "Gue masih muda, urusan yang laen ntar aja lah, itu urusan orang gede," tapi mereka sendiri lupa kalau mereka kalau udah punya KTP udah considered as 'orang gede'
Atau cuma ikut-ikutan temen.
Please, kita hidup bukan untuk dan karena temen, lo hidup untuk diri lo sendiri. Teman itu supporting agents.


Terakhir:
Apakah masih jaman nyalahin globalisasi dalam soal 'malas-malasan' ini?


Tuhanku....
Maafin saya yang nggak bisa berbuat apa-apa melihat hal ini.
Saya cuma bisa menulis posting blog ini dan tetap melakukan sesuatu yang saya anggap benar saya lakukan. Saya nggak ingin selamanya stuck hidup di dunia remaja.
Saya pengen berkembang
Saya pengen jadi dewasa muda yang suka berpikir, kritis dan peka terhadap lingkungan.
Semoga bukan cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berkembang ke arah positivity tapi nular juga ke remaja lainnya.
Amin.

btw, this is just my thoughts CMIIW :)

2 komentar:

dinikopi mengatakan...

Dhys, gw pernah merasakan yang persiiiis kayak lo. Sejauh yang gw bisa komen, emang lo yang salah nyemplung di lingkaran temen-temen kelas lo sih. Mereka akan tetap jadi seperti itu, Dhys. Mau lo ngomong ampe berbusa juga nggak ngaruh :P

Sara n gw, lo escape aja. Kalo di kelas, agak ansos *ngajarin sesat*. I mean, biar lo nggak terlalu stress banget. Or find one friend in class or school who understand this case too. Jadi biar ada temen curhat unek2nya :P

Go dreaming, Dhys! Don't let other people stop the best version of you ;)

Alya Shofiya mengatakan...

yap pemikiran yang sama kepada generasi yang akan datang

Poskan Komentar

 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.