25.3.13




Waktu SMP dan awal-awal SMA, gue sering banget dengar tentang isu Malaysia yang, katanya, jadi maling produk-produk  kebudayaan asli kita. Sudah banyak kan kejadiannya? Yang pernah kita tahu soal Reog, Tari Pendet, Rendang, Batik, dan sebagainya. Gue juga nonton di berita-berita waktu itu, yang gue pikir, kok kesannya Malaysia nih mau panas-panasin negara kita nih, kok dia ngajak berantem sih, gue sempet panas sih samapi ikut-ikutan bilang "Maling-sia", tapi gue nggak berlebihan lah. Ya pokoknya cukup tahu aja. Mungkin membahas hal ini agak telat ya, tapi ternyata sampai sekarang, stigma "Maling-sia" masih merajalela banget.




Di akhir program pertukaran pelajar tahun lalu, gue berkenalan dengan anak-anak delegasi Malaysia, yang gue lihat, ramah-ramah, baik hati dan seriously tidak sombong. Gue dan salah satu temen gue memberanikan diri untuk berkenalan waktu itu, di Bandara Chicago O'Hare sewaktu kami transit menuju Washington DC untuk reorientasi kepulangan. Kesan pertama bertemu anak Malaysia adalah, they are some kind of Indonesians with different dialect. That's it. Cara mereka berkenalan ya layaknya kenalan sama orang Indonesia, kehangatannya sama, yang beda hanya dialeknya saja kok. Salah satu temen gue asal Rangkasbitung yang satu sekolah sama anak Malaysia pun cerita bahwa mereka gampang dekat karena merasa berasal dari daerah yang serumpun. 


Gue dan temen gue kemudian memberanikan diri untuk bertanya: "No offense, kalian tahu nggak sih soal Malaysia pernah menganggap salah satu produk kebudayaan Indonesia bagian dari Malaysia?" dan jawabannya adalah, "Kami tak tahu, bahkan kami baru dengar," kami mendengarnya cukup kaget, dan kami mencoba menceritakan apa yang pernah terjadi. Mereka ada yang menegrnyitkan dahi dan malah bilang itu bukanlah tindakan terpuji, karena mereka tidak pernah merasa mengklaim.


Untuk-orang-orang yang nggak open-minded pasti bakal bilang, mana ada maling mau ngaku? Tapi, come on, they are teenagers dan sebagai pelajar pertukaran, kita harus jujur, bersikap terbuka dan mendukung komunikasi antarbudaya dengan baik. Jadi yang gue bilang, mereka 100% jujur.


Malaysia itu punya tiga kelompok etnis pokok, ada Melayu, Chinese dan India. Makanya mereka bilang "Malaysia, truly Asia" because literally, negara mereka terdiri atas difusi kelompok etnis besar yang ada di Asia. Mereka sudah cukup kaya kok, ngapain mereka harus maling?




Ada lagi alasan untuk kita nggak jelek-jelekin Malaysia sebagai maling, ini dia poin-poinnya:


  • Dari mana akar Bahasa Indonesia? Melayu Riau. Orang Malaysia sebagian besar terdiri atas suku apa? Melayu. Jadi ibaratnya Malaysian is the English people (karena Melayu baku) dan Indonesia is the Americans (karena Melayu-nya sudah mengalami perkembangan) iya nggak?
  • Rendang diklaim Malaysia, sewot? Nggak perlu. Kalian tahu the state of Negeri Sembilan di timur Malay Peninsula? Sebagian besar penduduknya terdiri dari keturunan Minangkabau, dan you know what, Rendang itu punya orang Minang, bukan totally Indonesian kan jadinya?
  • Reog diklaim Malaysia, sewot? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang di Malaysia ada settelement keturunan Jawa Timur gitu, mereka cuma mencoba melestarikan kebudayaan leluhurnya di tanah tempat tinggal, bukan ngejadiin identitas negara. Salah satu Menteri Malaysia aja orangtuanya berasal dari Ponorogo.
  • Tari Pendet diklaim Malaysia? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang itu salahnya Discovery Channel masukin tarian itu ke iklan pariwisata Malaysia, bukan salah orang Malaysia kan?
  • Batik diklaim Malaysia? Kapan? Orang udah didaftarin sebagai Warisan Dunia dari Indonesia kok, harusnya bangga dong dipakai Malaysia, mereka mengagumi keindahan seni kita, tuh Nelson Mandela hampir setiap event pake Batik kok gak ada yang sewot?
  • Sipadan-Ligitan? Nggak usah dibawa dendam ah, orang itu kita sendiri yang ingin bawa ke Lembaga Arbitrasi Internasional kan? Lagian cuma berapa pulau sih, dua atau tiga, ya sudah lah. Kita masih punya 17508 pulau buat diurus, kalau ada negara lain mau ngeklaim, capek juga kaliiii.




Di sini, gue nggak mau ngebela Malaysia habis-habisan, I just write based on the reality I saw, either on TV or in the reality dan bahan bacaan gue. Gue cinta Indonesia dan bangga jadi orang Indonesia yang memiliki toleransi, makanya gue prihatin dan menulis ini. Gue di sini pengen mengajak kita semua untuk bareng-bareng nggak mudah terprovokasi sama hal-hal gak penting yang berpotensi memecah belah hubungan kita dengan negara lain, apalagi negara yang, akui sajalah, serumpun dengan negara kita. Kita harus lebih objektif memandang hal-hal kebudayaan yang cakupannya luas, yang skalanya internasional seperti ini. 


Kalau suka nonton Upin-Ipin, mereka aja tanpa ragu masukin Susanti sebagai anak Indonesia yang tinggal di Malaysia yang sering cerita apa saja sih kebiasaan-kebiasaan orang sini, artinya kan mereka mau menjaga cultural understandings sesama serumpun dengan sangat baik. 


Kita hanya beda jajahan sama cakupan wilayah politik saja kok, nggak perlu kita dengki sama mereka. Mendingan kita bergerak aja, menjalin persahabatan, jadikan mereka sebagai panutan yang bikin 'malu' lah, masak serumpun tapi kita nggak semaju mereka? Dulu mereka memang pernah belajar dari kita, sekarang kenapa kita harus malu sih belajar dari mereka?

Mereka tidak pernah bermaksud jadi maling. Sementara di Indonesia masih banyak banget yang jadi maling kesejahteraan rakyat sendiri. Hayo, maling teriak maling?

3 komentar:

muhamad alfandi mengatakan...

Tapi malaysia merubah nama reog itu . ! Dan salah satu warga malaysia megakui batik miliknya katanya batik terbesar di malysia ( apa salahnya kita bilang malaysia maling) malaysia lebih dari maling katanya negara islam kenapa tahu 1957-2000 dukung israel . Ayyo jawab . Fakta saja yg dilihat

Gladhys Elliona mengatakan...

Halo! Saya menulis ini berdasarkan pengalaman saya berteman dengan orang Malaysia dan apa yang saya baca. Boleh minta bukti link tentang berita yang Anda sebutkan itu? Di sini pun saya nulis bukan untuk membicarakan agama atau politik, tapi lebih ke kebudayaan. Tips dari saya: 1. Kalau kita tau Indonesia memiliki banyak hal, simpan baik-baik, gunakan dengan bijak dan banggakan 2. Jangan mudah terprovokasi sama hal-hal yang nggak penting, berpikir mah yang positif-positif aja ;)

Anonim mengatakan...

Terima kasih kepada penulis kerana menzahirkan penulisan yang neutral tanpa sebarang prejudis kepada kami rakyat Malaysia. Apa yang ditulis amat tepat. Kami warga Malaysia hidup dalam keadaan harmoni tanpa mengira apa juga bangsa, agama dan kepercayaan setiap rakyatnya. Yang Melayu dengan budaya Melayunya. Yang India bebas bercakap bahasa ibundanya dan mempraktikkan kepercayaan tersendiri. Begitu juga bagi kaum Cina. Kami warga Malaysia ramah kepada tetamu dan pelancong dari luar selagi mereka menghormati undang-undang dan tatacara kehidupan warga Malaysia. Pepatah Melayu ada mengungkapkan 'Tak kenal maka tak cinta' . Kepada En. Muhammad Alfandi kami tidak pernah mengatakan bahawa batik indonesia milik Malaysia. Satu ungkapan yang tidak masuk akal dan sudah tentu ungkapan dibuat tanpa sebarang kajian dan bacaan ilmiah. Begitu juga tuduhan Malaysia menyokong Israel. Itu satu fitnah yang nyata. Diharapkan En.Muahamad, meluaskan bacaan anda dan jangan menilai kami warga Malaysia dengan nilai provokasi yang akhirnya mencerminkan sisi peribadi yang negatif khusus kepada anda dan negara anda secara amnya.

Poskan Komentar

 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.