21.10.13

I am an Indonesian female who was born in 1994. I grew up in a very kind family that teaches me a lot about life, because we were upper-middle class and turned upside down when the father and the mother stopped working in the same time, got debts, and now trying to start all over again with efforts to become closer to God. I went to various kinds of academic environment: I spent my elementary years in with bourgoises, kids that mostly came from rich family, experience different kinds of bullying every year, but the school itself taught me very well and shape me. In middle school I was a mediocre in a strong peer-group environment and the school helps me adaptating with middle class life. Then, in high school, I was something, even every year of my high school life I made myself proud of the achievements I got, it was my golden years so far, I went on an student exchange for free for a year, I compete in a lot of competitions and win big time, I join great organizations, I led an internationally funded community development project, became a young journalist in a national youth magazine, became a young reporter and announcer for a national radio private news station, I met great people and get great connections, it's all outside of my mediocre high school that just helps me to get diploma I need, and somehow helps me to easily do those activities without minding academic too much. Then now, I enroll psychology major in one of prestigious universities in the country, although I found out my passions in writing, cultural research, fine arts, and travelling already and I have a dream that I can become an anthropologist or a travel writer, although since I know my real passions I know for sure I want to take anthropology as my life even I already have plannings for my life, until the national public university enrollment test result said that I got psychology for major for me to study for approximately four years, after months, I realize that I face the personality and confidence deficiency, probably because of I still cannot fit in to the academic community, false consciousness, or I still cannot face the reality that maybe God want to be sincere for all of this. And here I am on a 19 going on 20 dilemma and doubts of everything, I know I am a bright person, I have very high potential for many things, it's for me to choose my own path of life, I don't want to drown in fallacies that I put myself into. I am curious, what will be the next chapter of my life after I wrote this crap. Thank you and good night.

Sincerely,
19-year-old self. (whose soul is trapped and not passionate by the time she's writing this)

8.9.13

 

 

Di sekitar kita ternyata banyak sekali orang inspiratif, siapapun dia, sedekat apapun dengan lingkungan kita, kalau kita nggak peka sama inspirasi sekecil apapun yang diberikan, kalau kita nggak perhatian ke lingkungan kita, kalau kita nggak terbuka pikirannya, kita akan melewatkan banyak pelajaran berharga untuk hidup kita, kita jadi memperlambat perbaikan diri kita, kita yang rugi.

 

 

 

 

31.8.13

Sudah tiga bulan lamanya gue nggak menulis. Benar-benar suatu prestasi yang tidak membanggakan sama sekali.

 

Apa kabar? Gue harap, blog ini masih punya nyawa, setidaknya hidup bersama post-post lama yang ada. Agak awkward rasanya menulis lagi di sini. Bahkan gue aja lupa cara berbahasa gue yang asli dan paling asyik untuk ngeblog apa. Things going on since May. Terakhir post adalah ketika gue mendapat kabar bahwa gue nggak dapat SNMPTN Undangan, hal itu cukup bikin gue down dan kehilangan gairah untuk melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, membaca, sampai menulis. Menyanyi, tiga bulan ini, benar-benar satu-satunya media pelepasan stres gue, apalagi sejak tayangan Stand Up Comedy Indonesia di TV juga sudah mulai jarang gue tonton.


Libur panjang ini, gue struggling untuk bisa berkuliah di universitas impian, atau setidaknya, apapun kesempatan yang Tuhan kasih, gue udah pasrah dan tetap akan berusaha maksimal. SBMPTN gue lalui pertengahan Juli kemarin, di sebuah SMA dengan angka yang, bisa dibilang, memang angka keberuntungan, nomor peserta SBMPTN gue aja banyak mengandung angka keberuntungan, hehehe. Bukannya percaya takhayul angka, tapi enath kenapa, angka-angka yang menurut kita bagus ada saja rezeki dan serendipity yang akan berjalan di situ. Selain itu, gue juga sempat ikut SIMAK. Gue milih Antropologi Sosial UI di pilihan pertama di SNMPTN Undangan dan SIMAK, khusus SBMPTN, gue dan nyokap membuat kesepakatan untuk memilih Psikologi UI di pilihan pertama, disusul Antropologi UI dan UGM.


Di sela SBMPTN dan SIMAK, gue juga magang di penerbit PlotPoint sebagai admin media sosial. Pikiran gue pun dengan sukses terpecah, antara persiapan dan hasil tes perguruan tinggi dengan beban pekerjaan di kantor magang. Di kantor magang, gue juga bertemu dengan orang-orang hebat yang mendukung perkembangan diri gue banget. Di sana pula lah, gue bertemu dengan ukulele dan belajar bermain untuk pertama kali.


Gue juga sempat stress di minggu-minggu menjelang pengumuman SBMPTN, sangat menekan pemikiran dan sempat terjadi mental breakdown. Bahkan sempat ada indikasi gejala gangguan kesehatan mental, yang sampai sekarang pun masih dalam penyelidikan apakah gue benar punya gangguan itu (please jangan ada yang takut sama gue). Pengumuman SBMPTN menjelang bulan puasa pun menjadi obat.


Ilmu Psikologi, Universitas Indonesia.
Selamat, Gladhys!

Beberapa waktu berselang, di pengumuman SIMAK UI, tidak lulus. Memang, mungkin memang sudah jodoh gue di Psikologi UI.


Selain itu, ada dua event yang gue lalui di tiga bulan ini. Pertama, Team Building Pengurus Taman Baca Bulian, di mana pertama kalinya menginap bersama teman-teman baik tercinta dari Taman Baca.

Ada juga Orientasi Nasional INAYpSch 2013 bersama keluarga AFS, di mana gue jadi panitia Akomodasi dan Konsumsi untuk mengorientasi adik-adik yang akan berangkat untuk program AFS dan YES ke belasan negara tahun ini. Yang terakhir cukup exhausting, karena event 10 hari yang memakan tenaga, pikiran dan tanggung jawab tinggi ini dibarengi dengan Orientasi Belajar Mahasiswa di UI, jadi harus bolak-balik site Orientasi AFS dan ke UI, back and forth. Jadi kontribusi gue di Orientasi AFS sangat merasa kurang maksimal dalam membantu, again, gue pun sempat mental breakdown 10 hari itu. Tapi Orientasi AFS ini gue belajar banyak sekali hal dan bikin gue belajar untuk lebih ikhlas dan lebih terbuka untuk berbagai hal, selain itu koneksi pertemanan gue juga bertambah, setidaknya, gue udah nggak sesungkan itu lagi sama kakak-kakak AFS.


Dan yang terakhir gue kerjakan, dan baruuu saja selesai adalah rangkaian Kegiatan Awal Mahasiswa Baru Universitas Indonesia dan rangkaian untuk Fakultas Psikologi masih berjalan sampai 27 September nanti. Untuk di tingkat fakultas, akan ada Program Penyesuaian Diri, tetapi I still have no clue about it though. Bersama kawan-kawan baru di Psikologi UI, gue yakin gue bisa survive jadi Maba dan bisa menyesuaikan diri di lingkungan dan sistem baru di universitas. Gue bangga bisa punya teman baru seperti kawan-kawan Psikologi UI 2013 :)


Di UI, gue punya rencana buat ikut beberapa UKM atau kegiatan, karena pilihan yang banyak, gue belum berani bercerita, apa yang akhirnya gue pilih dan gue akan geluti, makanya, jadi surprise aja ya. Tunggu cerita selanjutnya! #halah *berasa artis*

Sementara gue ingin menyesuaikan diri, kembali ke hobi lama, membangkitkan diri gue yang lama, yang cinta membaca dan menulis, membiasakan diri dengan menulis. Gue tau gue bisa kembali. Hanya butuh waktu untuk menyembuhkan diri lagi, hanya perlu bersabar saja.


Satu kata buat kita semua.
SEMANGAT!



30.5.13

Gue aku gue
Aku gue aku
Gue mengaku
Aku menggue
Kenapa gue mengaku aku
Sementara aku ke gue aku
Gue aku
Gue itu aku
Gue tak ingin terus aku
kalau semua tentang aku
yang lain kan juga "aku"
Di atas juga ada Aku
Aku tak cuma gue
tak ingin terus aku
Gue mengaku
Keakuanku
Gue mau
Pergi dari banyaknya aku
di diriku

(Mei 2013)

27.5.13


I just don't accomplish one of my life target, but who cares? There's another way right?

But,

Do you ever wonder,

how if you can't have things that you planned to have and you know (or you think) that you're competent enough for having it?

You never know about future anyways.

What are you going to do?

Where are you going then?

I am thinking about this right now, why don't you?


25.5.13




Gue hampir selalu menjadi minoritas di berbagai kesempatan.
Bahkan di saat gue jadi bagian dari suatu mayoritas, gue akan selalu menjadi anggota yang paling berbeda di dalam kelompok mayoritas tersebut.

And I'm getting used to it.

Ketika temen-temen gue masih suka jalan-jalan ke mall, jalan-jalan, makan-makan, dress like hipsters, make fun about exes and falling love with strangers.
Gue sukanya berkutat di perpustakaan, bersama buku gue, atau melakukan kegiatan volunteering atau sibuk menulis dan ikut lomba. Kalau nggak, I prefer stay at home to watch movie by my self in my portable DVD.

Ketika temen-temen gue dan jutaan siswa SMA yang berumur sama dengan gue sibuk mempersiapkan UN dan ketar-ketir saat kelas 12 di tahun 2012
Gue malah leha-leha belajar asyik di negeri orang bersama 92 teman lain di tahun 2012

Ketika temen-temen gue mudah sekali mencari sahabat sehati sejiwa setiap kali masuk sekolah dan mereka menikmati masa sekolahnya.
Gue baru menemukan sahabat-sahabat gue ketika gue keluar dari lingkungan sekolah dan gue jujur aja nggak begitu menikmati masa-masa sekolah gue.

Dan lagi,
Ketika temen-temen gue sibuk pacaran, sibuk putus nyambung dan cari gebetan. Gue udah capek mikirin hal yang begituan, padahal belom pernah pacaran. #lho

Oke, skip!



See?

Despite of my 'sad' stories about always being a minority, makin ke sini gue baru nyadar kalau, menjadi minoritas atau menjadi mayoritas dari suatu kelompok itu adalah tergantung pemikiran dan juga kemauan lo sendiri.
Bahkan, menjadi mayoritas atau minoritas itu bisa juga karena keberuntungan lo. Misalnya ketika lo ikut suatu seleksi atau lomba, kan yang akan terseleksi jadi yang terbaik hanya sebagian kecilnya kan?
Atau saat kelulusan, malah yang beruntung itu kalau lo lulus dan anak yang lulus itu 99%nya sementara yang 1% itu minoritas yang kurang beruntung.

Nggak semua orang berani jadi minoritas dan nggak semua orang pula nyaman menjadi mayoritas kan?
Setiap sisi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing:


Mayoritas

Enaknya
- Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing ;)
- Suaramu besar dan sangat berpengaruh. Karena yang bersuara sama denganmu itu banyak orang.
- Nggak perlu capek-capek buat adaptasi

Gak Enaknya
- Harus pintar-pintar menjaga perkataan dan tindakan ketika masuk ke kalangan minoritas. Yah adaptif lah.
- Kadang kalau termasuk mayoritas, ketika lo ngomong satu hal yang beda dikit, lo bisa aja will be looked down into sama yang lain.
- Karena lebih komunal gitu, pemikirannya jadi gak begitu bebas dan nggak bisa stand out. Bisa jadi perkembangan diri atau prestasi mereka stagnan aja ketika mereka terlalu nyaman jadi mayoritas.



Minoritas

Enaknya
- Karena jumlah orang tidak sebanyak mayoritas, maka biasanya para minoritas akan lebih cerdik dan pemikirannya bisa lebih jalan untuk mengakali bagaimana caranya survive dan stand out
- Nggak banyak saingan karena persaudaraan antar anggota erat. Mudah dikenal sama orang lain juga
- Mental lebih kuat untuk menghadapi semua hal yang datang dari kelompok mayoritas.

Gak Enaknya
- Jumlahnya yang sedikit dan terlihat lebih aneh dari kebanyakan orang (in any kind of weirdness) bikin mudah dihujat sama orang yang masih nggak biasa dengan orang macam ini
- Harus caper, SKSD, apapun yang usahanya lebih ekstra untuk convince people bahwa mereka layak dan sangat sayang untuk dilewatkan apabila tidak dijadikan teman. *true story*
- Selalu diunderestimate



Back again, yang gue cantumin adalah berdasarkan pengalaman yang gue alami ya. Kalau ada yang punya pendapat lain silakan loh.
Entah kenapa, gue lebih menikmati diri gue sebagai minoritas. I just love it. Gue ngerasa bahwa unsur individuality lebih keluar ketika lo jadi minoritas dan lo dengan atau tanpa disadari akan struggling lebih sehingga menghasilkan hal-hal yang bahkan lo sendiri nggak nyangka.

Walau benar kejadian, orang-orang minoritas di Indonesia banyak yang tertindas dan lain-lain, HEY, mereka mencoba bangkit dari keterpurukan yang pernah dialami loh, dan mereka lebih belajar dari pengalaman mereka untuk jadi orang yang lebih baik di masa depan.

Coba, orang sukses lebih sedikit dari pada orang yang nggak sukses atau kebalikannya?


Kalau menurut lo gimana?

22.5.13



Berawal dari serpihan atom mikroskopis
Yang tumbuh di kertas putihku
Ratusan jam kemudian
Berkembang jadi titik
Titik tinta yang panas dingin
Kemudian jadi noktah
Noktah itu terasa makin mengotori kertasku!
Lalu aku muak
Aku ingin cuci noktah-noktah absurd itu dari kertasku
Tapi intuisiku cuma diam dan bimbang
Kucoba berpikir keras
Haruskah kucuci semua tanpa sisa?
Bolehkah kertasku kosong selamanya?


(2010)
 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.