Tampilkan postingan dengan label Experiences. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experiences. Tampilkan semua postingan

24.2.14

By the way,
Gue Januari lalu sempat ikut casting untuk sebuah musical production, dan setelah melewati proses panjang dan usaha mengumpulkan kepercayadirian seember, hasilnya...




Gue jadi bagian dari Jakarta Movement of Inspiration Musical Cast!
Gue bakal memerankan seorang ibu kantin tak bernama yang dipanggil Emak.
Emak ini ibu kantin yang cukup 'evil' (tapi pengen naik haji) dan Betawi asli lah
Selengkapnya?
Eits, rahasia!


Tunggu aja tiketnya dijual aja yaa
Sering-sering buka jktmovein.com
tonton aksi kami tanggal 21-22 Juni 2014 :D


Selangkah ke Broadway deh gue~~~
nggak deng.


12.1.14





Norak. Itu kata yang banyak orang lontarkan jika melihat orang kampung plesir ke kota besar, tapi bagaimana jika keadaannya dibalik? Saya, bisa dibilang, juga menjadi norak ketika melihat hamparan sawah begitu luas saat saya dalam perjalanan berkunjung ke Rangkasbitung, Banten. Kesan penat perkotaan sama sekali hilang dari pikiran saya, ketika menikmati pemandangan indah yang memberi kesan segar dari jendela kereta Rangkas Jaya yang dingin karena AC. Saya tidak ragu mengambil gambar sawah yang sangat luas itu dengan kamera telepon genggam, walau banyak orang duduk di sekitar. Ini akan jadi tiga hari yang menyenangkan untuk lebih mengenal greater Banten, berkunjung ke tempat yang jarang orang Jakarta kunjungi untuk berlibur, hanya dengan Rp. 15000 dan berangkat dari stasiun Tanah Abang jam 8 pagi. 


Pemandangan sawah di kanan kiri cukup saya nikmati sekitar 1,5 jam sampai saya tiba di stasiun Rangkasbitung, stasiun kecil yang awalnya tidak terlihat istimewa, namun jika melihat bangunan tak jauh dari stasiun, kita akan tahu bahwa stasiun ini adalah bagian dari sejarah pendudukan Belanda di Indonesia. Saya dijemput oleh ayah sahabat saya, Ajeng, untuk pergi ke rumahnya, tempat saya akan menginap selama dua malam di Rangkasbitung. Saya disambut oleh banyak angkot dan becak yang ada di sekitar terminal dan pasar Rangkasbitung. Kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sini tidak banyak, itu artinya polusi udara dan polusi suara sangat minim, udara yang saya hirup agak berbeda dari Jakarta, lebih ringan. Kesan pertama saya setelah beberapa menit melihat kota Rangkasbitung adalah, menenangkan dan menyegarkan.



Alun-alun Rangkasbitung dan Masjid Agung Rangkasbitung
Ajeng sangat fasih dengan kota kecamatan berpenduk sekitar 118.000 orang ini dari Ajeng lah saya mendapatkan banyak sekali cerita tentang kota ini. Darinya, saya jadi tahu kalau Rangkasbitung berasal kata dari kata rangkas dan bitung yang berarti bambu, dahulu sebelum Belanda datang, daerah Rangkasbitung adalah hutan bambu. Ajeng mengajak saya melihat sawah terhampar cantik dengan background Gunung Karang di dekat rumahnya, lalu menunjukkan jalan ke perkebunan kelapa sawit milik negara yang agak jarang dikunjungi orang, dan tak lupa mengajak saya berkeliling downtown Rangkasbitung. Ya, seperti banyak kota-kota di Indonesia, Rangkasbitung juga punya downtown yang cukup ramai dikunjungi, tapi jangan bayangkan kermaian ukuran Jakarta. Ramai di sini sangat sederhana, asal ada anak sekolah pacaran di alun-alun, pujasera ramai dengan PNS, atau kafe-kafe kecil tempat nongkrong remaja yang buka, tidak perlu banyak mobil atau motor. Saya juga tidak menyangka bahwa di kota kecamatan ini ada supermarket skala besar dan sebuah mall, “Iya, tapi ini mall-mallan, mall nggak jadi,” kata Ajeng. Benar sih, baru kali ini saya ke mall yang cuma punya satu lantai. Ada tempat-tempat penting untuk sightseeing di ibukota kabupaten Lebak ini, seperti Taman Makam Pahlawan Sirna Rana, Vihara Ananda Avalokitesvara yang ngejreng, Gereja Jemaat yang bangunan Belanda juga, serta Masjid Agung Rangkasbitung, ini menggambarkan cukup tingginya keberagaman dan toleransi beragama di sini, saya sempat berpikir bahwa penduduk Rangkasbitung cenderung homogen dalam urusan agama dan agak mendiskreditkan minoritas, nyatanya tidak. Di sebelah alun-alun, terdapat Kantor Bupati Lebak yang dulu merupakan kediaman dari penulis jaman Belanda, Multatuli, sayangnya, kami tidak berani masuk ke kantor kabupaten untuk ‘mempelajari’ sejarah hidup penulis “Max Havelaar” itu lebih dalam.


Gereja Belanda

Jalan Multatuli
Rangkasbitung merupakan settlement Belanda yang besar di zamannya, karena dulu di sini ada tambang minyak. Terbukti, saya melihat banyak sekali rumah-rumah Belanda di sekitar downtown Rangkasbitung, mudah sekali menemukannya tak jauh dari Kantor Bupati Lebak dan setu (danau kecil) di tengah kota. Kebanyakan rumah Belanda itu sekarang telah menjadi rumah penduduk sekitar, ada yang dibiarkan seperti aslinya, ada yang dipugar, ada juga yang menjadi aula dan kantor pemerintah. Selain rumah Belanda dan bangunan stasiun, ada Jalan Multatuli yang merupakan jalan protokol menjadi bukti bahwa orang-orang sadar akan kejayaan tempat ini pada masa pendudukan Belanda. Rangkasbitung adalah tempat yang kaya sejarah bagi saya, sayang tidak ada tempat bersejarah yang ‘ramah turis’ di sini. Ah, andai saja ada Museum Multatuli atau museum lain di Rangkasbitung…


Rangkasbitung lebih ramai ketika sore dan malam hari, khususnya di bagian downtown. Di alun-alun, para pemuda asyik bermain basket dan voli, ada pula sepeda tandem dan delman untuk berkeliling, penjual makanan pun mulai banyak. Makanan yang paling saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Pais Gurih, bentuknya seperti lontong, namun agak lebih besar dan dibakar, bumbunya kemerahan dan ada potongan kecil jeroan ayam di dalam nasinya. Saya juga merekomendasikan Sate Bandeng khas Banten yang rasanya manis gurih, cocok untuk dimakan bersama nasi. Ada juga Sop Durian yang juga enak, kalau minuman ini Ajeng sangat rekomendasikan. Makanan khas Banten cukup murah, kisaran harganya Rp. 5000 sampai Rp. 15000



Vihara Rangkasbitung
Di antara keramahan dan kesederhanaan Rangkasbitung, masih ada hal-hal yang mengganjal di hati saya. Rasa kehidupan Jakarta di sini memang hampir tidak terasa karena hampir semua orang berbicara bahasa Sunda dialek Banten dan orang-orangnya lebih santun, tetapi ternyata banyak sekali minimarket dan tempat nongkrong anak muda yang berkembang di sini, seperti kafe-kafe blended coffee dan distro yang menggambarkan bahwa anak muda kota ini terlihat mulai konsumtif. Selain itu, ada saja bangunan pemerintah yang terbengkalai, seperti pembangunan SMAN 1 Rangkasbitung yang masih setengah jadi dan somehow tidak terlihat akan dilanjutkan dalam waktu dekat “Yah dari dulu segini-segini aja sih pembangunan sekolah gue,” kata Ajeng, “Di sini banyak bangunan yang abandoned.” Padahal anggaran pembangunan SMA itu sekitar 2 milyar lebih (saya tahu dari plang pembangunannya), sementara di sisi lain kota, billboard Ratu Atut untuk sadar membayar pajak berdiri manis.


Serang menjadi tujuan saya mengeksplorasi Banten di hari berikutnya. Perjalanan saya dan Ajeng ini merupakan sudden journey (terinspirasi dari National Geographic Traveler J), kami tidak punya rencana untuk pergi ke sana. Cukup membayar Rp. 15.000 per orang, kami dapat menikmati kereta ekonomi AC Kalimaya Express tujuan akhir Merak. Perjalanan sekitar satu jam lagi-lagi menyuguhkan pemandangan sawah dan Gunung Karang, bahkan ada perhentian kereta yang ada tepat di tengah sawah! Di beberapa titik, saya dapat melihat seperti pemukiman besar di kaki Gunung Karang, saya pikir mungkin saya melihat bagian dari kota Pandeglang. Stasiun Serang ternyata lebih kecil dari stasiun Rangkasbitung, cukup membingungkan, karena Serang merupakan ibukota Provinsi Banten, saya pikir seharusnya ibukota provinsi memiliki stasiun yang lebih besar dan tidak seterbengkalai ini, tapi kemudian kami tahu ternyata stasiun itu adalah bangunan cagar budaya, pantas saja terlihat dibiarkan saja seperti aslinya.


Stasiun Serang
Masjid Agung Serang

Kantor Gubernur Banten
Alun-alun Serang
Billboard Atut
billboard atut lagi

lagi-lagi billboard atut...

Ajeng memberi tahu saya pendapatnya tentang kota Serang, “Serang itu kota yang nanggung, besar enggak, kecil juga enggak,” katanya, “Makanya gue pribadi kurang suka, daripada ke Serang, gue lebih suka main ke Jakarta sekalian.” Saya juga sempat membaca di ulasan tentang kota ini dari internet, ada yang bilang bahwa Serang bukan tempat untuk mencari keunikan. Semua hal itu telah saya buktikan, atau mungkin sebenarnya kami datang di waktu yang kurang tepat. Dari hasil tanya-tanya saya ke polisi dan orang-orang di sekitar, jika ingin mencari makanan khas Serang harus menunggu hingga sore atau malam hari. Kami bisa juga berkunjung ke situs Banten Lama, di mana kita bisa lebih banyak eksplor tentang sejarah Kerajaan Banten dan peninggalan purbakala, tetapi untuk berkunjung ke sana memakan waktu cukup lama, padahal waktu kami di Serang hanya 3 jam karena harus naik kereta terakhir ke Rangkasbitung. Alhasil, kami hanya jalan-jalan seadanya di Serang.


Tempat pertama yang kami kunjungi di Serang adalah Alun-Alun dan Kantor Gubernur Banten di pusat kota, mirip dengan Bunderan HI-nya Jakarta. Ada dua alun-alun di sini, barat dan timur, saat kami bertandang sedang ada pameran lukisan di alun-alun barat. Kantor Gubernur Banten terlihat sangat rindang, dihiasi gapura artistik bak kerajaan di depan kantornya, tepat di seberang kantor Gubernur ada kantor walikota Serang. Banyak sekali billboard di sepanjang jalan utama Kota Serang, isinya muka Ratu Atut semua, mulai dari sosialisasi KB, Hari AIDS sedunia, sampai program Jamsosratu yang billboardnya paling besar (dan penerapannya hoax). Saya belum pernah lihat ada gubernur senarsis ini.
Setelah puas melihat-lihat, kami sempat bingung berkunjung ke mana, karena kami tidak ingin masuk Mal Serang penuh dengan makanan cepat saji yang sebenarnya bisa dengan mudah saya temui di Depok, kami kemudian pergi ke Pasar Lama untuk makan siang, lagi-lagi kami tidak menemukan makanan khas sini, kami kemudian makan siang di rumah makan Padang dan saya menyempatkan diri untuk mencari oleh-oleh. Saya sempat melihat ada bongkahan bebentuk lonjong yang diikat dengan sejenis daun kering, “Itu gula aren, biasanya orang Baduy yang bikin, gue jamin, gula aren yang begitu otentik, cuma ada di Banten,” terang Ajeng, saya pun mendapatkan oleh-oleh pertama saya untuk Ibu di rumah. Kami beristirahat di Masjid Agung Serang, begitu masuk, kami disuguhi arsitektur khas Banten dan ukiran ornamen atapnya sangat detil, tempatnya juga sejuk sekali dan rindang. Sebelum pulang, saya mengunjungi sebuah kios yang menjual makanan khas Serang, Nasi Bakar Sumsum, kali ini kami datang di waktu yang tepat, saya mengantongi dua bungkus Nasi Bakar untuk disantap di kereta ekonomi.


Bukan hanya pengalaman jalan-jalan yang saya dapatkan dari berkunjung ke dua kota di Greater Banten ini, tapi saya melihat sendiri betapa pembangunan di provinsi muda ini tidak merata dan banyak sekali hal-hal yang luput dari perhatian pemerintahnya. Saya melihat dan membandingkan Kota Serang dan Rangkasbitung yang keduanya menurut saya stakeholder utama Banten, keduanya merupakan pusat pemerintahan dan yang saya lihat hanya pusat pemerintahannya yang ‘didandani’, tapi sebagian besar kabupatennya cuma punya jalan setapak yang susah dilewati kendaraan, jembatan ambruk, dan susahnya akses karena transportasi yang kurang memadai. 


Saya juga mendapatkan cerita-cerita keadaan sosial politik Banten dari Ajeng. “Ada wacana katanya Lebak Selatan mau memerdekakan diri jadi kabupaten baru, biar pembangunannya lebih merata dan lebih berkembang,” cerita Ajeng, memberikan cerita yang cukup mengejutkan bagi saya. “Bagus dong, gue sih dukung banget, biar sejahtera nggak ditinggalin terus, kasihan kan,” ucap saya, tapi Ajeng malah memberikan pandangan lain, “Masalahnya, pendapatan daerah Kabupaten Lebak saat ini sebagian besar datangnya dari hasil bumi Lebak bagian selatan, kalau mereka memisahkan diri kita bakal dapat pendapatan dari mana lagi?” Ternyata isu pemisahan ini cukup kontroversial, menarik, hal ini harusnya bisa menyadarkan pemerintah Banten maupun pusat tentang ketimpangan pembangunan yang memang terjadi. Tentang dinasti yang terjadi Banten saya pun mendapatkan cerita menarik lain, “Atut itu ingin menguasai seluruh Banten, makanya dia bikin dinasti kayak gitu, tapi cuma satu yang susah dikuasai Atut yaitu Kabupaten Lebak, di sini ada dinasti sendiri,” kata Ajeng, “Bupati yang kemarin menjabat itu Bapaknya, sekarang yang menjabat itu anaknya Bupati sebelumnya.” Saya sempat melihat billboard di Alun-Alun Rangkasbitung, ada tulisan “Terima Kasih Telah Mengabdi… 2003-2013” artinya 10 tahun menjabat, entah karena memang dipercaya rakyat atau hal lain. “Politik di Banten itu masih primitif,” ujar Ajeng, kalimat itu nendang sekali untuk mengomentari keadaan politik Banten sekarang.


Tiga hari mengeksplorasi Rangkasbitung, serta kunjungan singkat ke Serang, lebih dari cukup. Daerah-daerah yang saya kunjungi di Banten sebenarnya kaya akan sejarah, pernah jaya pada masanya, pula potensi wisata yang tidak kalah menarik dari pantai-pantai di Banten. Namun, penduduk di kedua daerah itu kini menjadi korban politik dinasti yang menyebabkan buruknya penanganan pemerintah dalam hal pembangunan karena sibuk mengurusi kekuasaan. Entah kapan kita bisa melihat kejayaan dan kesejahteraan itu lagi di tanah Banten.




Travel Tips Banten:
-          Untuk menikmati makanan khas dan suasana yang lebih lively, datang lah ke pusat kota di atas mulai jam 4 sore sampai jam 8 malam.
-          Kereta diesel adalah moda transportasi yang sangat disarankan bagi teman-teman yang ingin mengeksplorasi Banten dan menikmati perjalanan yang membebaskan diri dari penatnya Jakarta. Dengan Rp. 4000 sudah bisa naik kereta ekonomi diesel tujuan Merak berangkat dari Angke, untuk kereta express AC berangkat dari Tanah Abang ada kereta Rangkas Jaya tujuan Rangkasbitung harganya Rp. 15000, dan untuk tujuan Serang-Merak ada kereta Kalimaya harganya Rp. 30000.
-          Kota-kota yang dilalui kereta seperti Rangkasbitung, Serang, Cilegon, sampai Merak merupakan tempat wisata yang terjangkau dan berbeda dari biasanya, beranilah untuk bereksplorasi sendiri dengan bertanya dengan orang sekitar, preferably coba ngobrol dengan polisi atau marbot masjid.
-          Jika teman-teman ingin berkunjung ke tempat-tempat di Lebak Selatan, seperti Pantai Sawarna dan perkampungan Baduy, butuh waktu dan biaya yang lebih besar karena transportasi agak sulit serta membayar guide. Lebih baik datang pada bulan Mei-Agustus menghindari cuaca buruk.

31.8.13

Sudah tiga bulan lamanya gue nggak menulis. Benar-benar suatu prestasi yang tidak membanggakan sama sekali.

 

Apa kabar? Gue harap, blog ini masih punya nyawa, setidaknya hidup bersama post-post lama yang ada. Agak awkward rasanya menulis lagi di sini. Bahkan gue aja lupa cara berbahasa gue yang asli dan paling asyik untuk ngeblog apa. Things going on since May. Terakhir post adalah ketika gue mendapat kabar bahwa gue nggak dapat SNMPTN Undangan, hal itu cukup bikin gue down dan kehilangan gairah untuk melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, membaca, sampai menulis. Menyanyi, tiga bulan ini, benar-benar satu-satunya media pelepasan stres gue, apalagi sejak tayangan Stand Up Comedy Indonesia di TV juga sudah mulai jarang gue tonton.


Libur panjang ini, gue struggling untuk bisa berkuliah di universitas impian, atau setidaknya, apapun kesempatan yang Tuhan kasih, gue udah pasrah dan tetap akan berusaha maksimal. SBMPTN gue lalui pertengahan Juli kemarin, di sebuah SMA dengan angka yang, bisa dibilang, memang angka keberuntungan, nomor peserta SBMPTN gue aja banyak mengandung angka keberuntungan, hehehe. Bukannya percaya takhayul angka, tapi enath kenapa, angka-angka yang menurut kita bagus ada saja rezeki dan serendipity yang akan berjalan di situ. Selain itu, gue juga sempat ikut SIMAK. Gue milih Antropologi Sosial UI di pilihan pertama di SNMPTN Undangan dan SIMAK, khusus SBMPTN, gue dan nyokap membuat kesepakatan untuk memilih Psikologi UI di pilihan pertama, disusul Antropologi UI dan UGM.


Di sela SBMPTN dan SIMAK, gue juga magang di penerbit PlotPoint sebagai admin media sosial. Pikiran gue pun dengan sukses terpecah, antara persiapan dan hasil tes perguruan tinggi dengan beban pekerjaan di kantor magang. Di kantor magang, gue juga bertemu dengan orang-orang hebat yang mendukung perkembangan diri gue banget. Di sana pula lah, gue bertemu dengan ukulele dan belajar bermain untuk pertama kali.


Gue juga sempat stress di minggu-minggu menjelang pengumuman SBMPTN, sangat menekan pemikiran dan sempat terjadi mental breakdown. Bahkan sempat ada indikasi gejala gangguan kesehatan mental, yang sampai sekarang pun masih dalam penyelidikan apakah gue benar punya gangguan itu (please jangan ada yang takut sama gue). Pengumuman SBMPTN menjelang bulan puasa pun menjadi obat.


Ilmu Psikologi, Universitas Indonesia.
Selamat, Gladhys!

Beberapa waktu berselang, di pengumuman SIMAK UI, tidak lulus. Memang, mungkin memang sudah jodoh gue di Psikologi UI.


Selain itu, ada dua event yang gue lalui di tiga bulan ini. Pertama, Team Building Pengurus Taman Baca Bulian, di mana pertama kalinya menginap bersama teman-teman baik tercinta dari Taman Baca.

Ada juga Orientasi Nasional INAYpSch 2013 bersama keluarga AFS, di mana gue jadi panitia Akomodasi dan Konsumsi untuk mengorientasi adik-adik yang akan berangkat untuk program AFS dan YES ke belasan negara tahun ini. Yang terakhir cukup exhausting, karena event 10 hari yang memakan tenaga, pikiran dan tanggung jawab tinggi ini dibarengi dengan Orientasi Belajar Mahasiswa di UI, jadi harus bolak-balik site Orientasi AFS dan ke UI, back and forth. Jadi kontribusi gue di Orientasi AFS sangat merasa kurang maksimal dalam membantu, again, gue pun sempat mental breakdown 10 hari itu. Tapi Orientasi AFS ini gue belajar banyak sekali hal dan bikin gue belajar untuk lebih ikhlas dan lebih terbuka untuk berbagai hal, selain itu koneksi pertemanan gue juga bertambah, setidaknya, gue udah nggak sesungkan itu lagi sama kakak-kakak AFS.


Dan yang terakhir gue kerjakan, dan baruuu saja selesai adalah rangkaian Kegiatan Awal Mahasiswa Baru Universitas Indonesia dan rangkaian untuk Fakultas Psikologi masih berjalan sampai 27 September nanti. Untuk di tingkat fakultas, akan ada Program Penyesuaian Diri, tetapi I still have no clue about it though. Bersama kawan-kawan baru di Psikologi UI, gue yakin gue bisa survive jadi Maba dan bisa menyesuaikan diri di lingkungan dan sistem baru di universitas. Gue bangga bisa punya teman baru seperti kawan-kawan Psikologi UI 2013 :)


Di UI, gue punya rencana buat ikut beberapa UKM atau kegiatan, karena pilihan yang banyak, gue belum berani bercerita, apa yang akhirnya gue pilih dan gue akan geluti, makanya, jadi surprise aja ya. Tunggu cerita selanjutnya! #halah *berasa artis*

Sementara gue ingin menyesuaikan diri, kembali ke hobi lama, membangkitkan diri gue yang lama, yang cinta membaca dan menulis, membiasakan diri dengan menulis. Gue tau gue bisa kembali. Hanya butuh waktu untuk menyembuhkan diri lagi, hanya perlu bersabar saja.


Satu kata buat kita semua.
SEMANGAT!



27.5.13


I just don't accomplish one of my life target, but who cares? There's another way right?

But,

Do you ever wonder,

how if you can't have things that you planned to have and you know (or you think) that you're competent enough for having it?

You never know about future anyways.

What are you going to do?

Where are you going then?

I am thinking about this right now, why don't you?


25.3.13




Waktu SMP dan awal-awal SMA, gue sering banget dengar tentang isu Malaysia yang, katanya, jadi maling produk-produk  kebudayaan asli kita. Sudah banyak kan kejadiannya? Yang pernah kita tahu soal Reog, Tari Pendet, Rendang, Batik, dan sebagainya. Gue juga nonton di berita-berita waktu itu, yang gue pikir, kok kesannya Malaysia nih mau panas-panasin negara kita nih, kok dia ngajak berantem sih, gue sempet panas sih samapi ikut-ikutan bilang "Maling-sia", tapi gue nggak berlebihan lah. Ya pokoknya cukup tahu aja. Mungkin membahas hal ini agak telat ya, tapi ternyata sampai sekarang, stigma "Maling-sia" masih merajalela banget.




Di akhir program pertukaran pelajar tahun lalu, gue berkenalan dengan anak-anak delegasi Malaysia, yang gue lihat, ramah-ramah, baik hati dan seriously tidak sombong. Gue dan salah satu temen gue memberanikan diri untuk berkenalan waktu itu, di Bandara Chicago O'Hare sewaktu kami transit menuju Washington DC untuk reorientasi kepulangan. Kesan pertama bertemu anak Malaysia adalah, they are some kind of Indonesians with different dialect. That's it. Cara mereka berkenalan ya layaknya kenalan sama orang Indonesia, kehangatannya sama, yang beda hanya dialeknya saja kok. Salah satu temen gue asal Rangkasbitung yang satu sekolah sama anak Malaysia pun cerita bahwa mereka gampang dekat karena merasa berasal dari daerah yang serumpun. 


Gue dan temen gue kemudian memberanikan diri untuk bertanya: "No offense, kalian tahu nggak sih soal Malaysia pernah menganggap salah satu produk kebudayaan Indonesia bagian dari Malaysia?" dan jawabannya adalah, "Kami tak tahu, bahkan kami baru dengar," kami mendengarnya cukup kaget, dan kami mencoba menceritakan apa yang pernah terjadi. Mereka ada yang menegrnyitkan dahi dan malah bilang itu bukanlah tindakan terpuji, karena mereka tidak pernah merasa mengklaim.


Untuk-orang-orang yang nggak open-minded pasti bakal bilang, mana ada maling mau ngaku? Tapi, come on, they are teenagers dan sebagai pelajar pertukaran, kita harus jujur, bersikap terbuka dan mendukung komunikasi antarbudaya dengan baik. Jadi yang gue bilang, mereka 100% jujur.


Malaysia itu punya tiga kelompok etnis pokok, ada Melayu, Chinese dan India. Makanya mereka bilang "Malaysia, truly Asia" because literally, negara mereka terdiri atas difusi kelompok etnis besar yang ada di Asia. Mereka sudah cukup kaya kok, ngapain mereka harus maling?




Ada lagi alasan untuk kita nggak jelek-jelekin Malaysia sebagai maling, ini dia poin-poinnya:


  • Dari mana akar Bahasa Indonesia? Melayu Riau. Orang Malaysia sebagian besar terdiri atas suku apa? Melayu. Jadi ibaratnya Malaysian is the English people (karena Melayu baku) dan Indonesia is the Americans (karena Melayu-nya sudah mengalami perkembangan) iya nggak?
  • Rendang diklaim Malaysia, sewot? Nggak perlu. Kalian tahu the state of Negeri Sembilan di timur Malay Peninsula? Sebagian besar penduduknya terdiri dari keturunan Minangkabau, dan you know what, Rendang itu punya orang Minang, bukan totally Indonesian kan jadinya?
  • Reog diklaim Malaysia, sewot? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang di Malaysia ada settelement keturunan Jawa Timur gitu, mereka cuma mencoba melestarikan kebudayaan leluhurnya di tanah tempat tinggal, bukan ngejadiin identitas negara. Salah satu Menteri Malaysia aja orangtuanya berasal dari Ponorogo.
  • Tari Pendet diklaim Malaysia? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang itu salahnya Discovery Channel masukin tarian itu ke iklan pariwisata Malaysia, bukan salah orang Malaysia kan?
  • Batik diklaim Malaysia? Kapan? Orang udah didaftarin sebagai Warisan Dunia dari Indonesia kok, harusnya bangga dong dipakai Malaysia, mereka mengagumi keindahan seni kita, tuh Nelson Mandela hampir setiap event pake Batik kok gak ada yang sewot?
  • Sipadan-Ligitan? Nggak usah dibawa dendam ah, orang itu kita sendiri yang ingin bawa ke Lembaga Arbitrasi Internasional kan? Lagian cuma berapa pulau sih, dua atau tiga, ya sudah lah. Kita masih punya 17508 pulau buat diurus, kalau ada negara lain mau ngeklaim, capek juga kaliiii.




Di sini, gue nggak mau ngebela Malaysia habis-habisan, I just write based on the reality I saw, either on TV or in the reality dan bahan bacaan gue. Gue cinta Indonesia dan bangga jadi orang Indonesia yang memiliki toleransi, makanya gue prihatin dan menulis ini. Gue di sini pengen mengajak kita semua untuk bareng-bareng nggak mudah terprovokasi sama hal-hal gak penting yang berpotensi memecah belah hubungan kita dengan negara lain, apalagi negara yang, akui sajalah, serumpun dengan negara kita. Kita harus lebih objektif memandang hal-hal kebudayaan yang cakupannya luas, yang skalanya internasional seperti ini. 


Kalau suka nonton Upin-Ipin, mereka aja tanpa ragu masukin Susanti sebagai anak Indonesia yang tinggal di Malaysia yang sering cerita apa saja sih kebiasaan-kebiasaan orang sini, artinya kan mereka mau menjaga cultural understandings sesama serumpun dengan sangat baik. 


Kita hanya beda jajahan sama cakupan wilayah politik saja kok, nggak perlu kita dengki sama mereka. Mendingan kita bergerak aja, menjalin persahabatan, jadikan mereka sebagai panutan yang bikin 'malu' lah, masak serumpun tapi kita nggak semaju mereka? Dulu mereka memang pernah belajar dari kita, sekarang kenapa kita harus malu sih belajar dari mereka?

Mereka tidak pernah bermaksud jadi maling. Sementara di Indonesia masih banyak banget yang jadi maling kesejahteraan rakyat sendiri. Hayo, maling teriak maling?

22.1.13

Mungkin ini agak jorok, tapi believe it or not, analogi ini wali kelas saya sendiri yang mengemukakan:



"Hey Nak, kamu sekolah jangan seperti ngupil, masuknya lurus keluarnya bengkok."



Iya kan? Banyak anak yang masuk pertama kali ke sekolah, lugu, gak neko-neko, lurus-lurus saja, setelah lurus malah jadi berandal dan nggak tambah pintar karena pergaulannya. Lagipula upil kan output dari ngupil, dan itu jorok, kita nggak maupun punya output yang 'jorok', apalagi buat hidup kita sendiri. What a cool analogy :D
Well, hal-hal soal keterlambatan datang ke sekolah bisa saja menyalahkan anak muridnya. Setidaknya itu yang selalu dilakukan guru-guru, tak terkecuali. Alih-alih mereka akan selalu menggunakan jawaban: "Harusnya kalian bisa bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi!" semacamnya. Tapi bagaimana jika saya, atau teman-teman sekalian yang lain yang sudah punya jadwal khusus pagi hari dan sudah rutin berangkat di jam yang sama setiap hari, kemudian telat karena satu dan lain hal, contohnya karena masalah transportasi dan lalu lintas? Apakah guru-guru akan menuntut bahwa anak harus datang lebih pagi, walaupun anak sudah punya jadwal rutin?


Oke, bukan cuma perlakuan guru pada anak terlambat yang seperti itu yang saya mau garisbawahi.

Saya akan cerita sedikit. Hari Senin tanggal 21 Januari 2013 adalah hari di mana pertama kalinya dalam sejarah masa SMA saya, saya datang terlambat ke sekolah karena, again, saya harus menyalahkan commuter line, yang memang lagi trouble pascabanjir. Saya datang terlambat bersama dua teman saya dan satu guru yang sama-sama tinggal di Depok. Saat saya datang, sang guru dengan asyiknya melenggang masuk, sementara kami dihadang. Ternyata pagi itu ada sekitar 40an anak yang datang terlambat! Mereka bilang macet pagi itu tidak seperti biasanya, bahkan ada yang jalan di rumahnya diblokir karena posko banjir.


Jam 7.30 pagi, kami di suruh masuk dan di'tatar' di depan ruang guru oleh para staff kesiswaan, guru piket dan Sang Kepala Sekolah. Sang Kepala Sekolah memulai omelannya dengan mukanya yang memang saya rasa tak pernah bersahabat dan tidak ramah dengan para muridnya. "Sudah tidak hujan, sudah tidak banjir, kok kalian masih terlambat?!" ia mengeluarkan pertanyaan retoris, karena jelas ia tidak mau dijawab, "Kamu, mantan ketua OSIS!" katanya menunjuk teman sekelas saya di belakang, "Mantan ketua OSIS nggak bener!" ia lalu menanyakan di mana rumah teman saya itu dan mengomel kembali sedikit. Seorang murid laki-laki di sebelah saya yang berambut sedikit kribo sedang berbisik sedikit pada teman dibelakangnya, lalu ia menjambak kecil rambut si kribo "Jangan ngobrol!" katanya. "Kalian sudah kelas 12, masih aja telat, kamu nggak sayang duit orangtuamu apa, sampai nggak ikut PM pagi begini?!!" padahal Pendalaman Materi saat itu sedang berjalan dan entah mengapa ia tidak memperbolehkan anak kelas 12 masuk kelas untuk mengikuti.


Gurupun tidak pernah mau tahu mengapa anak-anak ini terlambat kalaupun ditanya, anaknya pasti disalahkan. Mematikan motivasi dan hormat anak-anak ini sekali. Secara sains (yang pernah saya dengar waktu saya SMP), itu malah mematikan beberapa sel otak anak, dengan menyalahkan dan membuat anak merasa bersalah.

"Kalian tidak boleh masuk kelas sampai jam 10! Duduk di sini saja, merenung!" ocehnya sekali lagi kemudian melenggangkan tubuh tambunnya ke arah kantor. Anak-anak terdiam. Hanya saya yang berani bersuara mengobrol dengan suara yang dikencangkan supaya guru-guru mendengar.

"Menurut gue sih, hukuman kayak gini tuh bego banget," kata saya mengawali obrolan, "Oke, kita di sini merenung, kita ngaku kok kalau kita salah, lagipula nggak semua anak dateng telat karena dia bangun siang kan, pada macet kan? Kereta juga lagi gak kondusif," lanjut saya,

"Benar kak, kalau bisa kita disuruh ngapain kek, daripada duduk di sini doang," jawab teman saya,

"Ya iyalah, sekarang sirkumstansinya begini, kita duduk di sini sekarang, nggak memberikan keuntungan buat guru-guru, nggak ngasih keuntungan buat kita juga, kerugian juga ada yang rugi, kita malah duduk begini nggak disuruh produktif, mikir deh, malah suruh merenung, belajar kek, baca kek, ataupun kerjain tugas. Mau merenung apa?!" Kemudian salah satu guru piket yang memang guru yang asyik, ternyata sedari tadi sudah memperhatikan pembicaraan kami, "Tuh Pak, bener nggak, daripada kita disuruh duduk begini, mendingan kita duduk sambil ngapain gitu," kata saya, Bapak tersenyum sambil mengangguk, ia kemudian menghampiri Wakasek dan membisikkan sesuatu. Tak lama sang Wakasek memberikan instruksi untuk kami, "Ya anak-anak kalau ingin sekalian membaca buku, atau belajar silakan saja, kerjakan tugas juga silakan,"


"Nah gitu kek dari tadi." bisik saya.




Memang soal anak murid yang telat, di Indonesia karena bangsa kita sepertinya punya krisis kedisiplinan, harus dihukum, tetapi hukuman haruslah masuk akal, memotivasi untuk tidak telat dan tetap memacu produktivitas walaupun telat. Bukannya diomeli dihardik dan dijudge segala macam, bagaimaan anak akan respek pada guru kalau begini caranya? Dan bagaimana pula pendidikan kita bisa mengajarkan pentingnya kedisiplinan dan keadilan tanpa pandang bulu kalau keadilan hukuman keterlambatan antara guru/staff dan murid tidak dipampang secara nyata? Malah anak-anaknya saja yang dimarahi secara lebay, tapi guru-guru tidak diperlihatkan ditegurnya, supaya kita bisa diajarkan dan diperlihatkan tentang baik-buruk. Contoh teman saya yang pernah sekolah di MAN terkemuka, ia terlambat dan dihukum untuk merangkum Bab pelajaran yang ia lewatkan pagi itu karena telat, that's it, produktif. Anak telat bukannya di'kriminalisasi' tetapi diberi hukuman yang masuk akal dan memacu produktivitas. Tak apa barang hanya berlari beberapa putaran, tetapi tidak dengan dijemur atau duduk tanpa jelas juntrungannya.





Memang terlambat datang ke sekolah itu sangat tidak enak, apalagi kalau harus berhadapan dengan Kepala Sekolah yang emang nggak kelihatan punya respek. Saya percaya dengan saya terlambat dan dihadapkan dengan situasi ini, menambah pertanyaan-pertanyaan saya tentang keadaan pendidikan, kualitas kedisiplinan pada bangsa kita dan tentang kualitas tenaga pengajar kita yang harus saya jawab sendiri dan saya harus ikut perbaiki di masa datang.

17.1.13

Sudah dua malam yang saya niatkan untuk latihan soal UN malah berujung dengan diskusi seru panjang lebar dengan ibu saya. Tentang apapun dan banyak sekali hal yang bisa kita saling cerita dan ambil sari-sarinya. Tapi yang tercantol di kepala saya salah satunya adalah cerita tentang om saya.


Malam tanggal 16 Januari itu, saya bicara sambil diteman teh dan sup kaldu hangat di ruang keluarga disertai rintikan hujan di luar. Awalnya ibu saya bercerita tentang om yang tidak pernah saya kenal karena meninggal pada tahun 1986 karena gagal ginjal, itu juga awalnya saya sendiri yang minta ibu bercerita. Namanya Slamet, atau biasa dipanggil Mamet. Om saya meninggal di usia 19, dan om adalah calon mahasiswa FISIP UGM yang sebelumnya cuti setahun karena tidak diterima SPMB tahun sebelumnya.

Saya sebenarnya sudah banyak mendengar tentang kisah hidupnya yang pendek. Menurut ibu dan tante-tante saya, om sangat care terhadap adik-adiknya, dari bayangan saya, dia itu pria yang ramah dan perhatian.

Di beberapa surat terakhirnya untuk ibu saya yang ada di Jakarta sementara ia ada di Wonogiri, ia menulis bahwa ia ingin ke Jakarta dan 'ngemong' anak-anak kakaknya saat kakaknya, yaitu ibu saya, sudah menikah one day, walau baru delapan tahun kemudian saya lahir. Sampai pada suatu hari, ibu saya membaca surat darinya yang kira-kira ada kalimat berbunyi begini: "Kemarin saya ke rumah Mas Lis (sepupu ibu saya) dan membaca buku kedokteran, sepertinya penyakit saya sudah tidak bisa disembuhkan lagi, Mbak."

Saya bisa membaca mata ibu saya yang berkaca-kaca saat menceritakan hal itu.

Kemudian ibu saya bercerita bahwa sepeninggal om saya, eyang putri berkabung selama 100 hari dan tidak keluar rumah selama masa berkabung itu.

Then, my mom said: "That's how hard to have a family member leaving us early, and it's tough"

And then I realize, I'm not that family-oriented,
I feel so bad.

I just want to pray for him from here and pray to God to always protect him, although I never knew him at all. Hanya fotonya saja yang sering saya lihat, itupun tak banyak.

Well, om saya pernah bilang di suratnya kan bahwa ia pengen 'ngemong' anak-anak kakaknya, did he done that to me in the different world? or did he watch me and my sister in his world? Hmm...


15.1.13

Senin sore tanggal 14 Januari 2013, saya dikejutkan oleh hal besar di Pasar Minggu.
Saya sehabis pulang try out di sekolah yang saya selesaikan buru-buru, sekitar jam 15.30 WIB tepat, langsung menuju kota tercinta saya, Depok, untuk belanja buku persiapan UN dan membeli binder di stasiun UI. Urgensi membeli binder itu adalah berjaga-jaga apabila pedagang di stasiun UI benar-benar akan digusur semua (jangan sampai terjadi), which will disappoint me very much.


Saya pikir, sore itu akan berjalan normal, tetapi kenyataannya tidak, saat saya lihat puluhan bahkan ratusan orang berbondong-bondong keluar dari Stasiun Pasar Minggu. Saya pikir, ada apa ini? Sepertinya kereta mogok. Yang lebih mengherankan lagi adalah, jarang sekali ada angkot 04 jurusan Depok Timur-Pasar Minggu, hanya ada beberapa. Saya kemudian lebih membuka telinga saya untuk mengetahui ada apa gerangan. Demonstrasi mahasiswa. Wow, pikir saya. Stasiun Pondok Cina diblokade mahasiswa serta pedagang di stasiun yang akan digusur. Mengacaukan seluruh perjalanan para komuter ini. Saya masih berpikir bahwa ini wow, dan di sepanjang perjalanan Pasar Minggu-Depok dalam Bus 75 yang dijadikan bus bantuan/charter untuk para penumpang menuju Depok pada hari itu, saya tersenyum.


Mengapa saya tersenyum? Saya merasa bahwa, mahasiswa-mahasiswa ini keren sekali. They made an impact that afternoon, a very big impact. Bukan karena perjalanan orang-orang terganggu, tapi mereka bisa membuat bagaimana mereka bisa dibicarakan. Soalnya, sepanjang perjalanan, saya tidak pernah dengar ada orang yang mengeluh tentang demo ini dan mengkritik, baru di media sosial saya melihatnya. Kedua, saya tersenyum karena saya terkesan dengan keberanian mereka beraspirasi dan shout what they need to shout, walau yang saya dengar ada beberapa metode yang nggak benar juga, dengan melemparkan batu lah, membawa balok kayu segala apa, saya kurang setuju kalau itu karena terdengar menjurus ke arah aksi anarkis, tapi aksi mereka meng'human shelter'kan rel kereta itu yang bikin saya terkesan. Nggak semua orang berani melakukannya.


Salah seorang teman saya bertanya pada saya di Twitter: "Kenapa kamu bangga dengan mereka yang jelas melanggar hukum?" Well, pertanyaan itu kurang tepat dilontarkan ke saya, karena saya sendiri adalah seorang yang rebel. Saya ini bukan manusia yang gampang menurut oleh aturan tertentu, walau saya tahu saya adalah warga negara Indonesia yang bilangnya adalah negara hukum. Saya sebenarnya bukan orang yang suka melanggar hukum pula, tapi jika saya melihat hal yang kurang sesuai dengan pandangan saya atau yang saya pikir dapat mengganggu hak dan kebebasan orang lain, saya berani-berani saja melawan.


Memang sih, ada beberapa hal yang tidak baik dalam pelaksanaan demonstrasi, di manapun itu, seperti menghambat transportasi lah, atau bikin macet jalan, fasilitas umum dirusak secara disengaja maupun tidak, dan sebagainya, tetapi saya sangat memegang teguh freedom of speech yang saya bawa dari negara tujuan pertukaran saya tahun lalu. Saya pikir, setiap manusia, secara individu maupun kelompok punya hak untuk mengekspresikan pendapat dan kekecawaannya dalam bentuk apapun. Itulah yang saya mau garisbawahi dalam setiap aksi demonstrasi.


Saya memang ingin sekali menjadi bagian dari sebuah kelompok demonstran atau aksi damai dan orasi publik suatu hari nanti, mungkin saat saya jadi mahasiswa, terlebih saya tergolong orang yang ekspresif. Saya juga akan tetap berusaha untuk menjalankan aksi unjuk rasa yang juga tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan dan/atau hak orang lain. Saya hanya ingin menyampaikan aspirasi, entah itu dari saya sendiri dari kelompok yang saya bawa nanti atau dari banyak rakyat yang sebenarnya sudah lelah mengadu dan belum percaya diri untuk berdiri sendiri melakukan swadaya dalam membantu program pemerintah yang belum pernah dilaksanakan.


Sore itu membuat saya gemetar dan menggebu, saya ingin merasakan menjadi bagian dalam aksi semacam itu walau sekali. Saya mungkin masih belum mengerti banyak tentang hal-hal ini, saya juga kurang pengalaman tentang kehidupan mahasiswa dan kehidupan aktivisme yang beragam jenisnya dan beragam latar belakangnya. Saya harap di suatu sore, suatu siang atau mungkin suatu pagi, pengalaman itu akan datang pada saya. Saya tidak takut dianggap bodoh, saya tidak takut dianggap buang-buang tenaga dan waktu, saya tidak takut dianggap aneh atau apapun yang jelek-jelek. Tidak apa-apa. That's why it is called experience so that we can learn things.



6.1.13

our last full member gathering, May 20th, 2012


International Dinner, RIP Rayetta Fetter (the one who sit was our deceased coordinator) October 14th, 2011
ma good friends, October 14th, 2011

Halloween Party on Bloomsbury Farm, early October 2011

Salah satu hal yang paling saya kangenin dari tahun pertukaran saya adalah pertemanan sesama exchange students dalam organisasi penempatan kami.
There were 15 amazing youth from 13 countries around the world that became my very good friends in 2011/2012 academic year hosted by our placement organization PAX, and we were hosted in eastern part of the state of Iowa.
 Beberapa dari kami adalah penerima beasiswa penuh dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, ada yang dari program FLEX dan ada dari program YES. They have different personalities and they are so friendly and welcome. I never experience things that are not fun with them and I always feel so happy every time I'm talking and having fun with them.
Bahkan, kita bisa saling curhat-curhatan kalau ada masalah, merasa ada yang satu nasib, yang kangen negara masing-masing saling sharing, yang bisa cerita minat masing-masing, mimpi masing-masing, semuanya deh.
Saya beruntung banget bisa bertemu mereka. Saya belajar banyak dari mereka. Perspektif saya banyak berubah karena mereka. Banyak dari teman-teman saya ini yang lebih muda dari sana tapi keberanian mereka untuk ikut pertukaran pelajar bisa jadi lebih besar dari pada keberanian saya. Saya jadi tahu lebih banyak tentang negara dunia dan kehidupan remajanya.
Saya kangen mereka semua.
Saya kangen kebersamaan dan sesi berbaginya.
Saya kangen volunteering bersamanya.
Saya kangen berkeluh kesah tentang Iowa yang penuh ladang jagung, sementara most of us datang dari perkotaan di negara masing-masing.
Saya kangen tertawanya.
Saya kangen belajar bahasa sama mereka.
Saya kangen saling memujinya.
Saya kangen kami semua bertemu.
Memang nggak ada yang nggak mungkin kalau kita having reunion. 
Mungkin sama sahabat Thailand saya mungkin gampang lah ya, atau kalau gua naik haji ke Arab bisa ngesot-ngesot ke rumah sahabat saya di Riyadh ;)
Intinya adalah, saya bersyukur bisa menjalin pertemanan internasional, jadi saya nggak perlu lagi deh kuliah Hubungan Internasional buat cari teman-teman internasional, karena teman itu bisa datang dari pengalaman apa saja dan di mana saja, iya kan?

7.10.12

Kemaren gue habis datang ke Bedah Kampus Universitas Indonesia 13. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kegalauan tentang jurusan yang ingin gue ambil saat kuliah di nanti, dan semoga saja gue diterima jadi mahasiswa Universitas Indonesia tahun depan.

Terima kasih banyak BKUI13 yang super membantu dan oh wahai BEM UI juga sebagai penyelenggara!

Well, memang sebenarnya tujuan utama gue adalah untuk belajar Psikologi (masuk Psiko pun karena ingin lebih mengenal diri dan karena gue punya kebanyakan minat, dan juga ingin menguji kebenaran quote: "Mother knows best"). Cuma gue pun perlu menjaga-jaga apabila gue pada akhirnya nggak memenuhi syarat untuk masuk ke Fakultas Psikologi, gue pun menemukan beberapa kemungkinan. Awalnya gue berniat masuk Komunikasi karena gue ingin mempelajari media dan mungkin perfilman secara lebih lanjut, tapi saat gue dijelaskan di BKUI, ternyata kurang cocok, malah perfilman lebih baik lari ke Vokasi Komunikasi. Lalu Hubungan Internasional yang teman-teman selalu menyarankan gue untuk masuk sana, gue juga nggak cocok karena nggak sreg dengan mata kuliah dan tujuan pembelajarannya, kurang gue banget gitu.

Nah, gue menemukan pilihan baru, yang fix saya akan ambil jadi pilihan alternatif yaitu:











Antropologi.


Kenapa?
Ternyata yang selama ini gue idamkan untuk gue pelajari lebih dalam adalah tentang budaya dan hubungan antarbudaya, bukan hubungan antarnegara, yang dari dulu gue kira serupa.

Gue mengingat-ngingat lagi, ternyata gue sudah tertarik dengan perihal kebudayaan ini sejak kecil. Terbukti saat gue mampir ke stand jurusan Antropologi, mereka memamerkan bukunya James Danandjaja tentang folklor, terus gue dengan polosnya bilang, "Ih waw,bukunya James Danandjaja!" "Kamu tau dek?" "Tau kak, aku pernah baca bukunya dia waktu SD," lalu kakak Antropnya pun terbelalak. Beneran.

Yup, gue sudah diperkenalkan dengan cerita rakyat Indonesia sejak TK, dan sejak SD kelas 2, gue membaca banyaaaaak sekali kompilasi cerita rakyat yang pengarangnya beliau dan juga bukunya bu Murti Bunanta. Sampai gue pernah ulang tahun dihadiahinnya buku cerita rakyat, bukunya cutting edge dan nggak banyak orang tau gitu, judulnya Si Bungsu Katak. Terus pernah ngisi teater buat Festival Mendongeng 2004, dan pernah ikut lomba mendongeng sekolah yang tapi ujungnya gak menang.

Ditambah lagi saat gue mengenal National Geographic, dan saat mereka membahas sebuah society, kehidupan berbudaya suatu negara, adalah artikel yang sangat menarik hati, yaa contohnya artikel Suara-Suara yang Sirna Juli 2012, atau saat ngomongin kebudayaan Indian Sioux yang punya trauma di edisi Agustus 2012, wow, that's really interesting to learn.


Sepertinyapun gue harus menyusun SWOT untuk decision making soal penjurusan ini, mengingat sebenarnya gara-gara ke BKUI juga bikin gue tertarik di Sosiologi.

Dan sejujurnya gue tidak terlalu memikirkan prospek kerja karena sebenarnya, tujuan ngambil jurusan ini juga bukan karena gue mau jadi budayawan. Dunia kerja yang gue lihat adalah rumus ini:

passion + opportunity +( knowledge you have x ability) + willingness + (sincerity x good attitudes) = "Happynomics"


Kalau gue kuliah Psikologi nanti, gue akan senantiasa mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan kebudayaan dan lingustik. Sementara gue akan melampiaskan dua passion gue di bidang menulis dan performing arts dengan ikut UKM atau freelance aja. Yang jelas kalau nggak dapat Psikologi, Antropologi, maukah engkau menunggu diriku? :')

Sincerely,
GladhysGalauKuliahGalauBelajarGakSukaMatematikaAnakIPSSejati

29.9.12

Jadi saya ini punya cerita besar yang harusnya saya share sebelum pulang, hanya saja, kepulangan membuat saya malas ngapa-ngapain kecuali packing, saying farewell sama sahabat dan keluarga saya di Amerika dan juga reunian lagi sama teman-teman YES Indonesia 2011-2012. Jadi mari, later is better than never kalo kata Lana Del Rey.

Jadi sebenernya tujuan utama saya adalah menghadiri pernikahan tante saya yang ngerawat saya dari kecil di Indonesia, saya panggil dia, Anti. Tanggal 27 Mei sampai 14 Juni, saya menghabiskan waktu saya di Harissburg, Pennsylvania (tempat tante saya tinggal) yang jug amerupakan ibukota dari negara bagian Pennsylvania.

Setelah itu, saya menghabiskan 3 hari 2 malam di New York City~ Di NYC, saya ditemani Tante Wahyu dan Kak Dinda, mereka kerabat keluarga, lalu juga ditemani teman Indonesian-American saya, Dara, teman lama dari SMP yang selama ini cuma keep contact dari email dan social network dia sekarang kuliah di Stony Brook University majoring in Medical, sama Syira, anak Jakarta cuma dia pindah baru setahun ke Harrisburg buat SMAnya berhubung dia technically a U.S Citizen.

Lalu berwisata bersama Anti ke Philadelphia di hari terakhir sebelum kepulangan saya kembali ke Iowa.

Berikut 'galeri foto' New York City-nya, saya persembahkan~~


Keluar dari Subway, norak

Broadway, my dream

Sama Mas Johnny :')

Bawa aku Mbak Poppins~

U-S-A RED WHITE AND BLUE!

Times Square siang hari

:') *speechless*

Will I featured in the poster? Future speaks

The Apple 'sanctuary' and Rockefeller Center, cool sunglasses huh?

PLEASE BRING ME BACK TO STRANDS BOOKSTORE!! GIMME SOME MONEY TO BUY THIS!


Brooklyn Bridge yeah

This beautiful view from Brooklyn Bridge

Good Indonesian friends, Dara (left) and Syira (right). They accompany me along the weeks in Pennsylvania and New York. World Trade Center in the background

Broadway at night

Finally I found where that Broadway musical plays, and I really want to watch it: "Once". I got the Playbill though :')

Another Broadway place: Evita. Ricky Martin play as Peron and the music is by Andrew Lloyd Weber :'D

Rela hujan-hujanan sama Syira dan Dara demi foto di Times Square malam hari~

I got to the Statue of Liberty


 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.