Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

24.2.14


Belakangan sering muncul produk budaya populer yang mengedepankan tema cinta tapi beda. Bukan cuma film yang berjudul sama dengan tema ini yang cukup kontroversial karena ngangkat-ngangkat perbedaan agama yang ‘menghalangi’ cinta dan bikin hati nyesek bagi siapapun yang menontonnya, tapi ternyata di banyak negara, banyak banget loh ternyata literatur maupun film yang ngangkat tentang cinta tapi beda ini. Yang gue analisa dan menurut gue unik, ternyata ada perbedaan di budaya populer barat dan budaya populer timur dalam sudut pandang pengangkatan cerita cinta tapi beda ini, ribet nggak sih kata-kata gue? Oke kalo ribet, ini gue kasih contohnya.


Cinta tapi beda ala Barat:


1.   Romeo and Juliet karya William Shakespeare (Inggris)
Siapa (orang kota) yang nggak tau piece ini jaman sekarang? Bagi yang tau benar ceritanya, ini jelas banget ngangkat soal perbedaan, ini ranahnya udah soal perbedaan status ekonomi dan ideologi masing-masing keluarga yang pada akhirnya bikin si  Romeo dan Juliet cerita cintanya berakhir miris, mati bersama.


           

2.   The Great Gatsby karya F. Scott  Fitzgerald (Amerika Serikat)

Cerita cinta lain ber-setting tahun 1920-an di New York City di mana memang pada dekade itu, Amerika lagi ada dalam masa Roaring Twenties, orang-orang mulai punya banyak duit, makin banyak yang jadi kaya. Di sini kesetiaan Daisy diuji, dia malah kawin sama pengusaha kaya terus Gatsby yang seorang tentara dan bilang lagi gak punya duit ditinggal, sampai pada akhirnya Gatsby tiba-tiba jadi kaya, Daisy malah sempet kepincut lagi, terus pas dilamar balik, si Daisy malah ninggalin Gatsby lagi sampai dia dibunuh. Lagi-lagi, cinta tapi beda latar belakang ekonomi.




3. The Breakfast Club (Amerika Serikat)
Actually ini bukan film romantis sih, ini film remaja 80an klasik, tapi (spoiler alert) in the end of the story ketahuan lah pasangan-pasangan baru yg sebenernya saling suka, tapi cinta mereka terbatas sama peer group mereka di sekolah. Claire yang preppy kalau jadian sama Bender yang kriminal apa kata orang? Begitu juga Allison yang 'stress' kalau jadian sama Andrew yang super atlet itu... mana bisa? Sedih banget sih, cinta tapi beda peer di SMA bakalan bikin peer pressure yang makin gila.


Cinta tapi beda ala Timur:

               

1.    Veer Zaara (India)
Ini cerita yang super unyu antara Veer, seorang kapten skuadron udara yang hindu India dengan  Zaara yang seorang muslim Pakistan dan dari keluarga terpandang pula. Cerita berlatarbelakang perseteruan antar India-Pakistan yang pastinya juga mempengaruhi perjalanan cinta mereka yang memang udah penuh lika-liku, sampai harus terpisah. Ini cinta mereka nggak bersambut karena agama ditambah lagi karena perbedaan negara pula. Yang serupa juga bisa kita lihat di Kabhi Khushi Kabhie Ghaam (yup, 2000s Bollywood classic), yang ngangkat cinta yang tak direstui karena perbedaan status sosial-ekonomi.

                         

2. cin(T)a (Indonesia)
Lagi-lagi soal cinta beda agama, kali ini ditambah masalah beda etnis pula. Cina yang Cina-Kristen dengan Anisa yang Jawa-Islam yang saling sayang tapi kena 'tembok' perbedaan agama yang kemudian ceritanya berakhir tragis. Serupa dengan film Cinta Tapi Beda, tapi kebalik, ceweknya Katolik dan cowoknya Islam yang lagi-lagi akhirnya tragis.

                            

3. Fabulous 30 (Thailand)
Kalau cerita ini beda soal. Por yang berusia 23 tahun jatuh cinta dengan tetangganya, Ja yang berusia 30 tahun. Akhirnya sih manis, cuma garis besar ceritanya itu Ja gengsi banget untuk nerima cinta Por yang 7 tahun lebih muda dari dia. Selain itu, ada film serupa yaitu First Kiss bercerita tentang cewek bernama Sa yang berusia 25 tahun nggak sengaja nyium Ohm, anak usia 18 tahun, lagi-lagi ceweknya yang gengsi nggak pengen pacaran sama yang lebih muda (walaupun gantengnya kurang ajar).


Kesimpulannyaaa....

  • Cerita-cerita cinta yang terhalang perbedaan di budaya barat lebih tentang perbedaan status sosial dan ekonomi

  • Di negara-negara timur, cerita cinta tapi beda lebih banyak dan lebih nendang di-highlight perbedaan agama, etnis, dan usia, tapi tentang perbedaan status sosial-ekonomi tetap ada

Pertanyaannya sekarang... 

Kenapa di budaya barat, cinta beda agama dan etnis nggak jadi masalah berarti? Sementara di negara-negara berbudaya timur, kayaknya masalah banget kalau ada yang pacaran/nikah beda agama?

Ada apa juga dengan status sosial dan ekonomi yang, ternyata, di mana-mana jadi burden kisah cinta banyak orang? Padahal manusia adalah manusia yang memiliki hak sama, betul?

__________________________________________________

Wah, kalau membahas yang kayak gini, bisa jadi nggak ada habisnya ya.
Yang kayak gini perlu banget untuk direnungin. Gue mau mengambil real life message dari film-film tadi:

Mencintai dan dicintai itu adalah hak manusia dimanapun dan siapapun. Sesungguhnya perbedaan yang ada itu cuma karena gengsi manusianya aja yang pengen terlihat lebih superior, lebih terpandang, padahal kalau udah cinta mah sebenernya ya cinta aja. Lagipula di dunia ini hampir mustahil nggak ada perbedaan.

Bukan masalah makan cinta...
Tapi gue sih percaya, kalau cinta = senang = jalan menuju kebaikan bakal terbuka lebih lebar dan lebih banyak :)


4.1.13

Sudah sekitar 2 minggu belakangan, saya ketagihan sama sebuah social network, yang ternyata nggak baru-baru amat. Social Network ini menurut saya adalah social network paling providing intellectual contents dan dengan konten paling berguna, karena socnet ini mengajak para penggunanya bertanya tentang hal apapun dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna lain, most of the topics adalah tentang hal-hal yang nggak konvensional, atau tergantung topik yang diminati dan diikuti si pengguna. Quora juga punya beberapa topik yang memberi life advice dan pengembangan diri loh, jawabannya pun bagus-bagus. Walau mulai banyak pertanyaan dan user yang jawabannya gak jelas, tapi tetap pertanyaan dan jawaban yang berkualitas jauh lebih banyak.


Penasaran? Ini print screen pengenalannya:


Ini halaman profilnya.
Ini home screennya. Providing aktivitas orang-orang yang kita follow dan topik serta pertanyaan yang kita follow, ada juga tombol Unanswered Question buat mencari pertanyaan yang mungkin kita bisa jawab dan Views, di mana kita bisa lihat siapa-siapa aja yang udah baca jawaban dan pertanyaan kita
Ini question atau discussion screen. Di atas petanyaan ada topik pertanyaannya dan biasanya ada question details di bawah pertanyaannya untuk lebih jelasnya. Di bawahnya langsung ada jawaban dari para pengguna lain dan di sampingnya ada related questions. Di setiap jawaban kita bisa upvote atau downvote jawaban itu yang artinya kita dukung atau nggak jawaban itu, semacam like atau unlike lah kalo di Youtube, dan kita bisa komentari pertanyaan atau jawabannya



Jadi selamat mencoba Quora di sini:
Jangan lupa add follow saya ya he-he-he ;D


Selamat mencoba, wahai insan-insan yang penuh pertanyaan.


26.10.12

I'm addicted to Storylane for just 2 days, and I think this is my first love at first sight ever. Definitely worth to try for you who likes to write. One of the best breakthrough social media for me :D




The universal dashboard, there are 12 issues you can post about with various theme and ideas to write
 

 
Write your story, based on the questions or you just tell a story, you can do it with text, image and even audio



The profile view, bigger font with minimalist and artistic design



Questions you can 'answer' with your story, so then you will always have idea to write about


 
Stories you have posted on your profile




23.9.12



Judul Buku       : Malam Terakhir
Pengarang       : Leila S. Chudori
Tahun Terbit   : 1989 (edisi revisi, 2009)
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman         : xviii + 117 halaman

            Malam Terakhir merupakan buku kumpulan cerpen yang diterbitkan pada tahun 1989 dan diterbitkan kembali pada 20 tahun kemudian dalam edisi revisi. Terdiri dari 9 cerita pendek karya Leila S. Chudori dari tahun 1986-1989.
            Leila S. Chudori merupakan seorang wartawan senior majalah Tempo yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi di luar negeri, khususnya Kanada.
            Hampir semua cerita dalam buku ini berlatar di kota yang ada di negara lain, seperti Paris, Brussels, dan ada juga yang berlatar kota di Kanada.

            Leila juga sukses membawa referensi teoritis dari berbagai filsuf dan sastrawan dalam cerpen-cerpennya, seperti di cerpen “Keats” dan “Adila”. Kedua cerpen tersebut juga menggambarkan konflik batin yang besar dari sang tokoh utama dalam menghadapi masalah hidupnya. Dari konflik-konflik batin tersebut, hadir sastrawan dan filsuf asing yang menemani pemikiran dan pengambilan keputusan tokoh utama.

            Pada cerpen “Keats”, Tami yang akan pulang ke Jakarta untuk menikah dengan kekasihnya, dan juga pasrah mengikuti kemauan serta tuntutan keluarganya, terus dihantui oleh bayangan penyair Inggris, John Keats dan puisinya yang berjudul “Tentang Mati” dengan kutipan berikut:
            Mungkinkah mati itu tidur, bila hidup hanyalah mimpi
            Dan gambaran bahagia
Luput seperti hantu berlalu
Serta pada bait kedua:
            Menatap bencana nanti, yang hakikatnya bangun belaka
Petikan puisi tersebut adalah yang paling relevan dan mengena dalam keseluruhan cerita. Tami terus mempertanyakan keputusannya untuk menikahi kekasih hatinya di Jakarta atau kekasih jasmaninya di Brussels.

            Sementara pada cerpen “Adila”, bercerita tentang anak perempuan yang sedang mengeksplorasi seksualitasnya, dibantu dengan imajinya akan A.S. Neill, seorang penulis Amerika, Ursula Brangwen, tokoh utama novel The Rainbow karya D.H. Lawrence, dan juga Stephen Dedalus, tokoh utama novel A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Ketiga tokoh yang hidup dalam imajinasi Adila itu mengajarkan tentang kebebasan dan kedewasaan pada Adila, saat ia terkekang oleh keotoriteran ibunya yang menjadi-jadi. Namun, Adila merasa didukung oleh ayahnya yang secara tidak langsung memperkenalkan tokoh-tokoh itu pada Adila.

            Kedua cerpen ini terlihat diolah sangat dalam dan dengan pemikiran matang, sehingga terpancar kedewasaan untuk para pembacanya. Kedua cerpen ini pun menuntut pembacanya untuk mengkaji ulang pemikiran yang ada dan membandingkannya dengan makna cerita pendek, agar bisa menghasilkan suatu pemahaman baru serta pengetahuan baru tentang satra ataupun filsafat.
            Buku ini secara umum sangat memuaskan. Tidak hanya cerita-cerita dan temanya yang menarik, tetapi pemikiran ynag biasanya terdapat di buku filsafat atau buku sastra lain dapat ‘dikawinkan’ dan diaplikasikan dalam cerita pendek. Cerita dalam buku ini juga mengajak pembacanya untuk ikut berpikir bersama dan bisa terinspirasi untuk menelurkan sudut pandang baru tentang kehidupan.
            Buku ini sepertinya tidak ditujukan untuk para pembaca pemula, karena konten yang terkandung dalam cerita-cerita pendek buku ini. Butuh pengetahuan tambahan, kesiapan dan pikiran yang terbuka dari pembaca sendiri agar dapat lebih mengerti tentang esensi cerpen.


(Catatan: yang plagiat tulisan ini, gua sumpahin mandul, yang membaca tulisan ini tapi niatannya baik gue sumpahin masuk surga o:-))
 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.