Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan

24.2.14


Belakangan sering muncul produk budaya populer yang mengedepankan tema cinta tapi beda. Bukan cuma film yang berjudul sama dengan tema ini yang cukup kontroversial karena ngangkat-ngangkat perbedaan agama yang ‘menghalangi’ cinta dan bikin hati nyesek bagi siapapun yang menontonnya, tapi ternyata di banyak negara, banyak banget loh ternyata literatur maupun film yang ngangkat tentang cinta tapi beda ini. Yang gue analisa dan menurut gue unik, ternyata ada perbedaan di budaya populer barat dan budaya populer timur dalam sudut pandang pengangkatan cerita cinta tapi beda ini, ribet nggak sih kata-kata gue? Oke kalo ribet, ini gue kasih contohnya.


Cinta tapi beda ala Barat:


1.   Romeo and Juliet karya William Shakespeare (Inggris)
Siapa (orang kota) yang nggak tau piece ini jaman sekarang? Bagi yang tau benar ceritanya, ini jelas banget ngangkat soal perbedaan, ini ranahnya udah soal perbedaan status ekonomi dan ideologi masing-masing keluarga yang pada akhirnya bikin si  Romeo dan Juliet cerita cintanya berakhir miris, mati bersama.


           

2.   The Great Gatsby karya F. Scott  Fitzgerald (Amerika Serikat)

Cerita cinta lain ber-setting tahun 1920-an di New York City di mana memang pada dekade itu, Amerika lagi ada dalam masa Roaring Twenties, orang-orang mulai punya banyak duit, makin banyak yang jadi kaya. Di sini kesetiaan Daisy diuji, dia malah kawin sama pengusaha kaya terus Gatsby yang seorang tentara dan bilang lagi gak punya duit ditinggal, sampai pada akhirnya Gatsby tiba-tiba jadi kaya, Daisy malah sempet kepincut lagi, terus pas dilamar balik, si Daisy malah ninggalin Gatsby lagi sampai dia dibunuh. Lagi-lagi, cinta tapi beda latar belakang ekonomi.




3. The Breakfast Club (Amerika Serikat)
Actually ini bukan film romantis sih, ini film remaja 80an klasik, tapi (spoiler alert) in the end of the story ketahuan lah pasangan-pasangan baru yg sebenernya saling suka, tapi cinta mereka terbatas sama peer group mereka di sekolah. Claire yang preppy kalau jadian sama Bender yang kriminal apa kata orang? Begitu juga Allison yang 'stress' kalau jadian sama Andrew yang super atlet itu... mana bisa? Sedih banget sih, cinta tapi beda peer di SMA bakalan bikin peer pressure yang makin gila.


Cinta tapi beda ala Timur:

               

1.    Veer Zaara (India)
Ini cerita yang super unyu antara Veer, seorang kapten skuadron udara yang hindu India dengan  Zaara yang seorang muslim Pakistan dan dari keluarga terpandang pula. Cerita berlatarbelakang perseteruan antar India-Pakistan yang pastinya juga mempengaruhi perjalanan cinta mereka yang memang udah penuh lika-liku, sampai harus terpisah. Ini cinta mereka nggak bersambut karena agama ditambah lagi karena perbedaan negara pula. Yang serupa juga bisa kita lihat di Kabhi Khushi Kabhie Ghaam (yup, 2000s Bollywood classic), yang ngangkat cinta yang tak direstui karena perbedaan status sosial-ekonomi.

                         

2. cin(T)a (Indonesia)
Lagi-lagi soal cinta beda agama, kali ini ditambah masalah beda etnis pula. Cina yang Cina-Kristen dengan Anisa yang Jawa-Islam yang saling sayang tapi kena 'tembok' perbedaan agama yang kemudian ceritanya berakhir tragis. Serupa dengan film Cinta Tapi Beda, tapi kebalik, ceweknya Katolik dan cowoknya Islam yang lagi-lagi akhirnya tragis.

                            

3. Fabulous 30 (Thailand)
Kalau cerita ini beda soal. Por yang berusia 23 tahun jatuh cinta dengan tetangganya, Ja yang berusia 30 tahun. Akhirnya sih manis, cuma garis besar ceritanya itu Ja gengsi banget untuk nerima cinta Por yang 7 tahun lebih muda dari dia. Selain itu, ada film serupa yaitu First Kiss bercerita tentang cewek bernama Sa yang berusia 25 tahun nggak sengaja nyium Ohm, anak usia 18 tahun, lagi-lagi ceweknya yang gengsi nggak pengen pacaran sama yang lebih muda (walaupun gantengnya kurang ajar).


Kesimpulannyaaa....

  • Cerita-cerita cinta yang terhalang perbedaan di budaya barat lebih tentang perbedaan status sosial dan ekonomi

  • Di negara-negara timur, cerita cinta tapi beda lebih banyak dan lebih nendang di-highlight perbedaan agama, etnis, dan usia, tapi tentang perbedaan status sosial-ekonomi tetap ada

Pertanyaannya sekarang... 

Kenapa di budaya barat, cinta beda agama dan etnis nggak jadi masalah berarti? Sementara di negara-negara berbudaya timur, kayaknya masalah banget kalau ada yang pacaran/nikah beda agama?

Ada apa juga dengan status sosial dan ekonomi yang, ternyata, di mana-mana jadi burden kisah cinta banyak orang? Padahal manusia adalah manusia yang memiliki hak sama, betul?

__________________________________________________

Wah, kalau membahas yang kayak gini, bisa jadi nggak ada habisnya ya.
Yang kayak gini perlu banget untuk direnungin. Gue mau mengambil real life message dari film-film tadi:

Mencintai dan dicintai itu adalah hak manusia dimanapun dan siapapun. Sesungguhnya perbedaan yang ada itu cuma karena gengsi manusianya aja yang pengen terlihat lebih superior, lebih terpandang, padahal kalau udah cinta mah sebenernya ya cinta aja. Lagipula di dunia ini hampir mustahil nggak ada perbedaan.

Bukan masalah makan cinta...
Tapi gue sih percaya, kalau cinta = senang = jalan menuju kebaikan bakal terbuka lebih lebar dan lebih banyak :)


6.11.13

(Post ini tidak bermaksud merendahkan instansi atau akun tertentu, ini merupakan opini pribadi penulis, no hard feeling ya, namanya juga pendapat :))

Gue mengikuti sebuah akun Twitter yang cukup terkenal yang concern untuk memperkenalkan bahasa dan kebudayaan di dunia, bahkan sempat mengikuti komunitas mereka dan 'menaruh nama' sebagai pengurus regional, tetapi tidak bertahan lama, karena ternyata gue nggak begitu memiliki visi yang sama dengan ini komunitas.


Sesuai namanya, akun ini bermaksud memberikan fakta-fakta tentang kebahasaan dan pengetahuan tentang banyak bahasa, gue cukup senang membaca tweets dari akun ini karena personally menambah wawasan gue di vocabulary dan grammar bahasa lain, tetapi semakin ke sini, beberapa tweets-nya malah tidak sejalan dengan namanya : Bahasa Dunia! dan bio-nya yang bertuliskan "Language Activist".


Mengapa gue bilang nggak sejalan, alias nggak konsisten? Karena begini:

1. Bahasa dunia itu ada banyak sekali. Menurut BBC Languages, ada sekitar kurang lebih 7000 bahasa. Mengapa yang dibahas hanya bahasa-bahasa populer dipelajari saja? 


2. Harusnya, sebagai (yang bilangnya) "Language Activist" akun ini bisa nambah wawasan banyak orang di sana tentang adanya 2471 bahasa yang terancam keberadaannya di dunia karena bentar lagi punah. UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger memetakan, ada 146 bahasa di Indonesia yang ada di tingkat vulnerable dan sudah termasuk 2 bahasa yang sudah punah.





Lihat dua tweets terakhir obrolan insan ini?



3. Harusnya, sebagai (yang bilangnya) "Language Activist" akun ini tidak membuat pengikutnya merasa terkesan digurui dalam menanggapi kritik pengikut akun, apalagi jika pengikut akunnya juga mengerti tentang kebahasaan. Kalau mengaku aktivis bahasa harusnya kan pintar-pintar memilih bahasa kan? Bermanis kata tidak cukup :) *mulai ikutan cara tulisannya akun ini*








4. Tweet yang dilontarkan di atas bilang bahwa: “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, cekoki saja dengan bahasa asing.” Menurut gue tweet ini kontradiktif, apalagi akun itu menamakan dirinya Bahasa Dunia dan membuka semacam les bahasa asing di banyak tempat dan mengajak pengikut akun ini untuk belajar bahasa asing, jadi akun ini ingin menghancurkan sebuah bangsa? Apakah seorang aktivis cara bicaranya seperti ini? Sampai tulisan ini di-publish, tweet ini belum dihapus.


Menurut pandangan gue, makna kata ‘aktivis’ itu strong banget. Nggak bisa kita ngaku-ngaku “Gue aktivis,” karena menjadi aktivis itu butuh dedikasi. Gue berpendapat, dedikasi itu perlu pengakuan orang banyak dan benar-benar memahami bidang di mana ia aktif itu secara mendalam, ya semacam expert gitu, biasanya pun aktivis nggak nyadar kalau dia aktivis sebelum ada orang yang nyebut-nyebut “Dia aktivis.”. 

Beda dengan enthusiast, semua orang bisa mengaku enthusiast karena dia antusias di bidang itu dan sedang/ingin belajar, atau bahkan memang sebenarnya sudah ahli tetapi memang mencoba rendah hati, hehehe (ada beberapa dosen gue yang menaruh kata enthusiast di bio-nya padahal gue tau dia udah ahli di bidang itu banget). Enthusiast bisa menjadi aktivis loh tanpa disadari, kalau dia antusiasnya dengan bidang tertentu konsisten dan dia dengan senang hati, dengan ikhlas mengerjakan, memelajari hal yang ingin dia dalami tersebut, serta jangan lupa, membuat aksi nyata tentang apa yang ia dalami tersebut.

Kalau menurut gue ya, menjadi aktivis itu harus rendah hati, open-minded, berjalan di samping dan bukan di depan, merangkul dan bukan merasa paling benar. Sepengalaman gue bergaul dengan teman-teman yang real activist, semua bidang aktivisme menurut mereka penting, hanya saja memang setiap aktivis harus bisa fokus di satu bidang sebagai bentuk mendukung bentuk gerakan aktivisme lain. Tujuan aktivis itu juga bukan berkuasa, tapi bisa melihat sisi positif dan negative secara seimbang dari suatu hal dan mengharmonisasikannya di dunia maupun di lingkungannya dengan baik untuk kehidupan yang lebih baik.


Itulah mengapa, menurut gue, penting banget untuk berhati-hati dalam menulis di sosial media, karena pastinya akan banyak multitafsir dari pengikut akun atau teman-teman kita. Menunjukkan kepribadian yang asli, berpendapat tentang apa aja boleh banget dan bebas sekali di media sosial, tapi juga seharusnya kita bisa menekan arogansi, lebih objektif lebih baik, apalagi jika akunnya diikuti oleh banyak orang, semakin terkenal harusnya semakin berhati-hati dalam berkicau, harusnya semakin ‘merunduk’ you know, peribahasa “Padi makin berisi makin merunduk”?



(Again, bagi pemilik akun ini gue ucapkan selamat dan sukses, karena gerakannya semakin besar ekspansinya, semoga ke depannya gerakan ini nggak sekedar bergerak ke belajar bahasa dan sharing tentang kebudayaan aja tapi juga dipertajam dan memperdalam studi kebudayaannya, kalau bisa based on culture journals dan tulisan-tulisan para ahli budaya dan linguistik biar makin mendalam memberikan fakta dan mengedukasi.)



21.10.13

I am an Indonesian female who was born in 1994. I grew up in a very kind family that teaches me a lot about life, because we were upper-middle class and turned upside down when the father and the mother stopped working in the same time, got debts, and now trying to start all over again with efforts to become closer to God. I went to various kinds of academic environment: I spent my elementary years in with bourgoises, kids that mostly came from rich family, experience different kinds of bullying every year, but the school itself taught me very well and shape me. In middle school I was a mediocre in a strong peer-group environment and the school helps me adaptating with middle class life. Then, in high school, I was something, even every year of my high school life I made myself proud of the achievements I got, it was my golden years so far, I went on an student exchange for free for a year, I compete in a lot of competitions and win big time, I join great organizations, I led an internationally funded community development project, became a young journalist in a national youth magazine, became a young reporter and announcer for a national radio private news station, I met great people and get great connections, it's all outside of my mediocre high school that just helps me to get diploma I need, and somehow helps me to easily do those activities without minding academic too much. Then now, I enroll psychology major in one of prestigious universities in the country, although I found out my passions in writing, cultural research, fine arts, and travelling already and I have a dream that I can become an anthropologist or a travel writer, although since I know my real passions I know for sure I want to take anthropology as my life even I already have plannings for my life, until the national public university enrollment test result said that I got psychology for major for me to study for approximately four years, after months, I realize that I face the personality and confidence deficiency, probably because of I still cannot fit in to the academic community, false consciousness, or I still cannot face the reality that maybe God want to be sincere for all of this. And here I am on a 19 going on 20 dilemma and doubts of everything, I know I am a bright person, I have very high potential for many things, it's for me to choose my own path of life, I don't want to drown in fallacies that I put myself into. I am curious, what will be the next chapter of my life after I wrote this crap. Thank you and good night.

Sincerely,
19-year-old self. (whose soul is trapped and not passionate by the time she's writing this)

8.9.13

 

 

Di sekitar kita ternyata banyak sekali orang inspiratif, siapapun dia, sedekat apapun dengan lingkungan kita, kalau kita nggak peka sama inspirasi sekecil apapun yang diberikan, kalau kita nggak perhatian ke lingkungan kita, kalau kita nggak terbuka pikirannya, kita akan melewatkan banyak pelajaran berharga untuk hidup kita, kita jadi memperlambat perbaikan diri kita, kita yang rugi.

 

 

 

 

27.5.13


I just don't accomplish one of my life target, but who cares? There's another way right?

But,

Do you ever wonder,

how if you can't have things that you planned to have and you know (or you think) that you're competent enough for having it?

You never know about future anyways.

What are you going to do?

Where are you going then?

I am thinking about this right now, why don't you?


25.5.13




Gue hampir selalu menjadi minoritas di berbagai kesempatan.
Bahkan di saat gue jadi bagian dari suatu mayoritas, gue akan selalu menjadi anggota yang paling berbeda di dalam kelompok mayoritas tersebut.

And I'm getting used to it.

Ketika temen-temen gue masih suka jalan-jalan ke mall, jalan-jalan, makan-makan, dress like hipsters, make fun about exes and falling love with strangers.
Gue sukanya berkutat di perpustakaan, bersama buku gue, atau melakukan kegiatan volunteering atau sibuk menulis dan ikut lomba. Kalau nggak, I prefer stay at home to watch movie by my self in my portable DVD.

Ketika temen-temen gue dan jutaan siswa SMA yang berumur sama dengan gue sibuk mempersiapkan UN dan ketar-ketir saat kelas 12 di tahun 2012
Gue malah leha-leha belajar asyik di negeri orang bersama 92 teman lain di tahun 2012

Ketika temen-temen gue mudah sekali mencari sahabat sehati sejiwa setiap kali masuk sekolah dan mereka menikmati masa sekolahnya.
Gue baru menemukan sahabat-sahabat gue ketika gue keluar dari lingkungan sekolah dan gue jujur aja nggak begitu menikmati masa-masa sekolah gue.

Dan lagi,
Ketika temen-temen gue sibuk pacaran, sibuk putus nyambung dan cari gebetan. Gue udah capek mikirin hal yang begituan, padahal belom pernah pacaran. #lho

Oke, skip!



See?

Despite of my 'sad' stories about always being a minority, makin ke sini gue baru nyadar kalau, menjadi minoritas atau menjadi mayoritas dari suatu kelompok itu adalah tergantung pemikiran dan juga kemauan lo sendiri.
Bahkan, menjadi mayoritas atau minoritas itu bisa juga karena keberuntungan lo. Misalnya ketika lo ikut suatu seleksi atau lomba, kan yang akan terseleksi jadi yang terbaik hanya sebagian kecilnya kan?
Atau saat kelulusan, malah yang beruntung itu kalau lo lulus dan anak yang lulus itu 99%nya sementara yang 1% itu minoritas yang kurang beruntung.

Nggak semua orang berani jadi minoritas dan nggak semua orang pula nyaman menjadi mayoritas kan?
Setiap sisi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing:


Mayoritas

Enaknya
- Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing ;)
- Suaramu besar dan sangat berpengaruh. Karena yang bersuara sama denganmu itu banyak orang.
- Nggak perlu capek-capek buat adaptasi

Gak Enaknya
- Harus pintar-pintar menjaga perkataan dan tindakan ketika masuk ke kalangan minoritas. Yah adaptif lah.
- Kadang kalau termasuk mayoritas, ketika lo ngomong satu hal yang beda dikit, lo bisa aja will be looked down into sama yang lain.
- Karena lebih komunal gitu, pemikirannya jadi gak begitu bebas dan nggak bisa stand out. Bisa jadi perkembangan diri atau prestasi mereka stagnan aja ketika mereka terlalu nyaman jadi mayoritas.



Minoritas

Enaknya
- Karena jumlah orang tidak sebanyak mayoritas, maka biasanya para minoritas akan lebih cerdik dan pemikirannya bisa lebih jalan untuk mengakali bagaimana caranya survive dan stand out
- Nggak banyak saingan karena persaudaraan antar anggota erat. Mudah dikenal sama orang lain juga
- Mental lebih kuat untuk menghadapi semua hal yang datang dari kelompok mayoritas.

Gak Enaknya
- Jumlahnya yang sedikit dan terlihat lebih aneh dari kebanyakan orang (in any kind of weirdness) bikin mudah dihujat sama orang yang masih nggak biasa dengan orang macam ini
- Harus caper, SKSD, apapun yang usahanya lebih ekstra untuk convince people bahwa mereka layak dan sangat sayang untuk dilewatkan apabila tidak dijadikan teman. *true story*
- Selalu diunderestimate



Back again, yang gue cantumin adalah berdasarkan pengalaman yang gue alami ya. Kalau ada yang punya pendapat lain silakan loh.
Entah kenapa, gue lebih menikmati diri gue sebagai minoritas. I just love it. Gue ngerasa bahwa unsur individuality lebih keluar ketika lo jadi minoritas dan lo dengan atau tanpa disadari akan struggling lebih sehingga menghasilkan hal-hal yang bahkan lo sendiri nggak nyangka.

Walau benar kejadian, orang-orang minoritas di Indonesia banyak yang tertindas dan lain-lain, HEY, mereka mencoba bangkit dari keterpurukan yang pernah dialami loh, dan mereka lebih belajar dari pengalaman mereka untuk jadi orang yang lebih baik di masa depan.

Coba, orang sukses lebih sedikit dari pada orang yang nggak sukses atau kebalikannya?


Kalau menurut lo gimana?

22.5.13


Apakah selama ini pendidikan bangsa Indonesia telah berkembang pesat? Apakah pendidikan Indonesia kualitasnya menyaingi produk negeri jiran, Malaysia? Bagi masyarakat Indonesia yang tidak cuek, mungkin akan merasa malu jika melihat perbandingan kualitas pendidikan kita dengan negara tetangga. Bukan semata-mata karena Malaysia jajahan Inggris yang mengedepankan politik etis, tetapi karena semangat juang dan teknologi yang mendukung.

            Banyak yang mengecap Malaysia adalah negara “tukang ikut-ikutan” tapi kok, masih banyak pelajar Indonesia di sana? Berarti siapa yang ikut-ikutan? Banyak orang kita yang belajar tekonologi di sana, alasannya sih untuk membuat bangsa kita lebih canggih dan global, tapi, melihat biaya dan kemampuan bangsanya (yang suka malas) menjangkau alat teknologipun menjadi kendala besar, apalagi, teknologi yang praktis bisa makin membuat bangsa kita malas.

            Penting bagi para penerus bangsa, untuk meneruskan bagaimana jalan keluarnya agar rakyat Indonesia mendapat pendidikan yang baik dan bisa bergaul di dunia global tanpa peralatan atau media yang mahal, melihat kondisi ekonomi Indonesia sedang carut marut karena adanya korupsi dan pemborosan APBN. Salah satu yang bisa menjawabnya adalah, meningkatkan minat baca.

            Mengapa membaca? Buku merupakan media yang tidak mahal dibanding dengan komputer, handphone, dan sejenisnya, memang kalangan bawah masih sering mengeluh tentang mahalnya buku, tetapi pemerintah bahkan masyarakat kalangan menengah dan atas bisa mengatasinya, tanpa membuang banyak biaya. Coba bandingkan, apabila pemerintah memberi bantuan komputer gratis, pengeluaran akan diminimalisir jika hanya memberi bantuan buku gratis dan jumlah anak yang terbantupun lebih banyak. Masyarakat biasa yang mampu juga dapat turut andil dalam pengembangan minat baca, seperti dengan menyumbang buku lama layak baca, atau membuka taman bacaan gratis.

            Sebelum mengembangkan minat baca, terlebih dahulu kita harus cek dan ricek tentang pengentasan buta aksara di desa dan daerah terpencil. Pemerintah telah mengadakan pusat kegiatan mandiri pemberantasan buta aksara, masyarakat juga bisa membantu lewat donasi maupun menjadi sukarelawan. Salah satu faktor utama kebodohan dan kemiskinan adalah buta huruf, maka dari itu, membaca merupakan kegiatan yang sangat penting.

            Coba kita bayangkan, betapa pentingnya membaca buku dalam kehidupan kita. Sebuah teknologi tidak akan berjalan tanpa pengetahuan penggunanya, maka mereka harus membaca buku panduan alat tersebut. Ada lagi, sebuah blog atau website pribadi dapat dijadikan buku, tetapi jika buku dijadikan blog akan sangat rumit. Kemudian, untuk mendapatkan info dunia, ada surat kabar dan majalah yang terbit rutin dan terjangkau dibandingkan harus bolak-balik warnet atau buka internet dengan peralatan berharga jutaan pula.

            Dengan begitu, kita bisa lihat bahwa membaca buku merupakan media yang gampang dijangkau, bahkan masyarakat kalangan bawah sekalipun. Membaca buku dapat menambah wawasan tanpa membaung waktu dan tempat. Buku adalah jendela dunia yang hanya bisa kita buka lewat membaca.  





ps.
Well, I was a better writer when I was 15 I guess. I made this essay for a Bahasa Indonesia lesson task at school when I was in 10th grade and  I haven't met most of my friends from Taman Baca Bulian yet that time. I'm pretty amazed, I feel like I'm reading someone's essay, not mine (Yes, Gladhys, you have to start to write good essays and stories again!). But seriously 1000% this essay is mine and I thought I never published it, so, feel free to comment


25.3.13




Waktu SMP dan awal-awal SMA, gue sering banget dengar tentang isu Malaysia yang, katanya, jadi maling produk-produk  kebudayaan asli kita. Sudah banyak kan kejadiannya? Yang pernah kita tahu soal Reog, Tari Pendet, Rendang, Batik, dan sebagainya. Gue juga nonton di berita-berita waktu itu, yang gue pikir, kok kesannya Malaysia nih mau panas-panasin negara kita nih, kok dia ngajak berantem sih, gue sempet panas sih samapi ikut-ikutan bilang "Maling-sia", tapi gue nggak berlebihan lah. Ya pokoknya cukup tahu aja. Mungkin membahas hal ini agak telat ya, tapi ternyata sampai sekarang, stigma "Maling-sia" masih merajalela banget.




Di akhir program pertukaran pelajar tahun lalu, gue berkenalan dengan anak-anak delegasi Malaysia, yang gue lihat, ramah-ramah, baik hati dan seriously tidak sombong. Gue dan salah satu temen gue memberanikan diri untuk berkenalan waktu itu, di Bandara Chicago O'Hare sewaktu kami transit menuju Washington DC untuk reorientasi kepulangan. Kesan pertama bertemu anak Malaysia adalah, they are some kind of Indonesians with different dialect. That's it. Cara mereka berkenalan ya layaknya kenalan sama orang Indonesia, kehangatannya sama, yang beda hanya dialeknya saja kok. Salah satu temen gue asal Rangkasbitung yang satu sekolah sama anak Malaysia pun cerita bahwa mereka gampang dekat karena merasa berasal dari daerah yang serumpun. 


Gue dan temen gue kemudian memberanikan diri untuk bertanya: "No offense, kalian tahu nggak sih soal Malaysia pernah menganggap salah satu produk kebudayaan Indonesia bagian dari Malaysia?" dan jawabannya adalah, "Kami tak tahu, bahkan kami baru dengar," kami mendengarnya cukup kaget, dan kami mencoba menceritakan apa yang pernah terjadi. Mereka ada yang menegrnyitkan dahi dan malah bilang itu bukanlah tindakan terpuji, karena mereka tidak pernah merasa mengklaim.


Untuk-orang-orang yang nggak open-minded pasti bakal bilang, mana ada maling mau ngaku? Tapi, come on, they are teenagers dan sebagai pelajar pertukaran, kita harus jujur, bersikap terbuka dan mendukung komunikasi antarbudaya dengan baik. Jadi yang gue bilang, mereka 100% jujur.


Malaysia itu punya tiga kelompok etnis pokok, ada Melayu, Chinese dan India. Makanya mereka bilang "Malaysia, truly Asia" because literally, negara mereka terdiri atas difusi kelompok etnis besar yang ada di Asia. Mereka sudah cukup kaya kok, ngapain mereka harus maling?




Ada lagi alasan untuk kita nggak jelek-jelekin Malaysia sebagai maling, ini dia poin-poinnya:


  • Dari mana akar Bahasa Indonesia? Melayu Riau. Orang Malaysia sebagian besar terdiri atas suku apa? Melayu. Jadi ibaratnya Malaysian is the English people (karena Melayu baku) dan Indonesia is the Americans (karena Melayu-nya sudah mengalami perkembangan) iya nggak?
  • Rendang diklaim Malaysia, sewot? Nggak perlu. Kalian tahu the state of Negeri Sembilan di timur Malay Peninsula? Sebagian besar penduduknya terdiri dari keturunan Minangkabau, dan you know what, Rendang itu punya orang Minang, bukan totally Indonesian kan jadinya?
  • Reog diklaim Malaysia, sewot? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang di Malaysia ada settelement keturunan Jawa Timur gitu, mereka cuma mencoba melestarikan kebudayaan leluhurnya di tanah tempat tinggal, bukan ngejadiin identitas negara. Salah satu Menteri Malaysia aja orangtuanya berasal dari Ponorogo.
  • Tari Pendet diklaim Malaysia? Siapa juga sih yang pernah ngeklaim? Orang itu salahnya Discovery Channel masukin tarian itu ke iklan pariwisata Malaysia, bukan salah orang Malaysia kan?
  • Batik diklaim Malaysia? Kapan? Orang udah didaftarin sebagai Warisan Dunia dari Indonesia kok, harusnya bangga dong dipakai Malaysia, mereka mengagumi keindahan seni kita, tuh Nelson Mandela hampir setiap event pake Batik kok gak ada yang sewot?
  • Sipadan-Ligitan? Nggak usah dibawa dendam ah, orang itu kita sendiri yang ingin bawa ke Lembaga Arbitrasi Internasional kan? Lagian cuma berapa pulau sih, dua atau tiga, ya sudah lah. Kita masih punya 17508 pulau buat diurus, kalau ada negara lain mau ngeklaim, capek juga kaliiii.




Di sini, gue nggak mau ngebela Malaysia habis-habisan, I just write based on the reality I saw, either on TV or in the reality dan bahan bacaan gue. Gue cinta Indonesia dan bangga jadi orang Indonesia yang memiliki toleransi, makanya gue prihatin dan menulis ini. Gue di sini pengen mengajak kita semua untuk bareng-bareng nggak mudah terprovokasi sama hal-hal gak penting yang berpotensi memecah belah hubungan kita dengan negara lain, apalagi negara yang, akui sajalah, serumpun dengan negara kita. Kita harus lebih objektif memandang hal-hal kebudayaan yang cakupannya luas, yang skalanya internasional seperti ini. 


Kalau suka nonton Upin-Ipin, mereka aja tanpa ragu masukin Susanti sebagai anak Indonesia yang tinggal di Malaysia yang sering cerita apa saja sih kebiasaan-kebiasaan orang sini, artinya kan mereka mau menjaga cultural understandings sesama serumpun dengan sangat baik. 


Kita hanya beda jajahan sama cakupan wilayah politik saja kok, nggak perlu kita dengki sama mereka. Mendingan kita bergerak aja, menjalin persahabatan, jadikan mereka sebagai panutan yang bikin 'malu' lah, masak serumpun tapi kita nggak semaju mereka? Dulu mereka memang pernah belajar dari kita, sekarang kenapa kita harus malu sih belajar dari mereka?

Mereka tidak pernah bermaksud jadi maling. Sementara di Indonesia masih banyak banget yang jadi maling kesejahteraan rakyat sendiri. Hayo, maling teriak maling?

26.1.13

Saya sedang membaca buku Sejarah Filsafat Yunani, tetapi belum selesai. Banyak hal yang mencuri perhatian saya. Pemikiran-pemikiran yang luar biasa intelektual untuk zamannya, seperti pemeikiran Phytagoras, Herakleitos, Empedokles. Yang ingin saya share sekarang adalah hal yang dianut oleh mazhab Pythagorean tentang kosmos atau semesta. Bisa di lihat di halaman 46.



Kosmos itu terdiri dari hal-hal yang berlawanan dan utamanya dalam sepuluh perbandingan berikut:
terbatas : tak terbatas
ganjil : genap
satu : banyak
kanan : kiri
pria : wanita
diam : gerak
lurus : bengkok
terang : gelap
baik : jahat
bujur sangkar : empat persegi panjang

(jujur, saya masih belum mengerti poin terakhir)



Yang saya pikir, unsur-unsur di lajur kiri tidak selamanya 'sejalan' dengan unsur dibawahnya. Contohnya 'lurus' dan 'terang' belum tentu sama dengan 'baik'. Sesuatu yang lurus dan terang memang identik dengan baik, tetapi tidak selamanya bernilai baik. Kita pun harus melihat konteks lurus dan terang itu apa. Ada lagi 'banyak' bukan berarti 'jahat' dalam lajur kanan. Itu sih yang saya pikir. Kira-kira ada yang punya pemikiran lain?

I can't say anything to this point on the Thought Catalog's article on 8 Reasons You Are Single:


3. Your life is a friend zone.

Whether you’re one of the Nice Guys who take pictures of themselves wearing a fedora and complaining about how shallow women are with no irony, or you’re a walking Taylor Swift song who thinks every girl who manages to get a boyfriend when you don’t is an evil slut, you are just not making it to the “romance” stage. For some reason, everyone you want to date is leaving you out to dry in that awkward middle ground between “we don’t really talk to each other” and “we see each other naked on a regular basis.” It’s all the agony of having to hear about your beloved’s romantic tribulations without getting to touch some titties/weenie afterwards, and it has become your life’s calling.



Alright okay, alright, you're right.
.................

22.1.13

Well, hal-hal soal keterlambatan datang ke sekolah bisa saja menyalahkan anak muridnya. Setidaknya itu yang selalu dilakukan guru-guru, tak terkecuali. Alih-alih mereka akan selalu menggunakan jawaban: "Harusnya kalian bisa bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi!" semacamnya. Tapi bagaimana jika saya, atau teman-teman sekalian yang lain yang sudah punya jadwal khusus pagi hari dan sudah rutin berangkat di jam yang sama setiap hari, kemudian telat karena satu dan lain hal, contohnya karena masalah transportasi dan lalu lintas? Apakah guru-guru akan menuntut bahwa anak harus datang lebih pagi, walaupun anak sudah punya jadwal rutin?


Oke, bukan cuma perlakuan guru pada anak terlambat yang seperti itu yang saya mau garisbawahi.

Saya akan cerita sedikit. Hari Senin tanggal 21 Januari 2013 adalah hari di mana pertama kalinya dalam sejarah masa SMA saya, saya datang terlambat ke sekolah karena, again, saya harus menyalahkan commuter line, yang memang lagi trouble pascabanjir. Saya datang terlambat bersama dua teman saya dan satu guru yang sama-sama tinggal di Depok. Saat saya datang, sang guru dengan asyiknya melenggang masuk, sementara kami dihadang. Ternyata pagi itu ada sekitar 40an anak yang datang terlambat! Mereka bilang macet pagi itu tidak seperti biasanya, bahkan ada yang jalan di rumahnya diblokir karena posko banjir.


Jam 7.30 pagi, kami di suruh masuk dan di'tatar' di depan ruang guru oleh para staff kesiswaan, guru piket dan Sang Kepala Sekolah. Sang Kepala Sekolah memulai omelannya dengan mukanya yang memang saya rasa tak pernah bersahabat dan tidak ramah dengan para muridnya. "Sudah tidak hujan, sudah tidak banjir, kok kalian masih terlambat?!" ia mengeluarkan pertanyaan retoris, karena jelas ia tidak mau dijawab, "Kamu, mantan ketua OSIS!" katanya menunjuk teman sekelas saya di belakang, "Mantan ketua OSIS nggak bener!" ia lalu menanyakan di mana rumah teman saya itu dan mengomel kembali sedikit. Seorang murid laki-laki di sebelah saya yang berambut sedikit kribo sedang berbisik sedikit pada teman dibelakangnya, lalu ia menjambak kecil rambut si kribo "Jangan ngobrol!" katanya. "Kalian sudah kelas 12, masih aja telat, kamu nggak sayang duit orangtuamu apa, sampai nggak ikut PM pagi begini?!!" padahal Pendalaman Materi saat itu sedang berjalan dan entah mengapa ia tidak memperbolehkan anak kelas 12 masuk kelas untuk mengikuti.


Gurupun tidak pernah mau tahu mengapa anak-anak ini terlambat kalaupun ditanya, anaknya pasti disalahkan. Mematikan motivasi dan hormat anak-anak ini sekali. Secara sains (yang pernah saya dengar waktu saya SMP), itu malah mematikan beberapa sel otak anak, dengan menyalahkan dan membuat anak merasa bersalah.

"Kalian tidak boleh masuk kelas sampai jam 10! Duduk di sini saja, merenung!" ocehnya sekali lagi kemudian melenggangkan tubuh tambunnya ke arah kantor. Anak-anak terdiam. Hanya saya yang berani bersuara mengobrol dengan suara yang dikencangkan supaya guru-guru mendengar.

"Menurut gue sih, hukuman kayak gini tuh bego banget," kata saya mengawali obrolan, "Oke, kita di sini merenung, kita ngaku kok kalau kita salah, lagipula nggak semua anak dateng telat karena dia bangun siang kan, pada macet kan? Kereta juga lagi gak kondusif," lanjut saya,

"Benar kak, kalau bisa kita disuruh ngapain kek, daripada duduk di sini doang," jawab teman saya,

"Ya iyalah, sekarang sirkumstansinya begini, kita duduk di sini sekarang, nggak memberikan keuntungan buat guru-guru, nggak ngasih keuntungan buat kita juga, kerugian juga ada yang rugi, kita malah duduk begini nggak disuruh produktif, mikir deh, malah suruh merenung, belajar kek, baca kek, ataupun kerjain tugas. Mau merenung apa?!" Kemudian salah satu guru piket yang memang guru yang asyik, ternyata sedari tadi sudah memperhatikan pembicaraan kami, "Tuh Pak, bener nggak, daripada kita disuruh duduk begini, mendingan kita duduk sambil ngapain gitu," kata saya, Bapak tersenyum sambil mengangguk, ia kemudian menghampiri Wakasek dan membisikkan sesuatu. Tak lama sang Wakasek memberikan instruksi untuk kami, "Ya anak-anak kalau ingin sekalian membaca buku, atau belajar silakan saja, kerjakan tugas juga silakan,"


"Nah gitu kek dari tadi." bisik saya.




Memang soal anak murid yang telat, di Indonesia karena bangsa kita sepertinya punya krisis kedisiplinan, harus dihukum, tetapi hukuman haruslah masuk akal, memotivasi untuk tidak telat dan tetap memacu produktivitas walaupun telat. Bukannya diomeli dihardik dan dijudge segala macam, bagaimaan anak akan respek pada guru kalau begini caranya? Dan bagaimana pula pendidikan kita bisa mengajarkan pentingnya kedisiplinan dan keadilan tanpa pandang bulu kalau keadilan hukuman keterlambatan antara guru/staff dan murid tidak dipampang secara nyata? Malah anak-anaknya saja yang dimarahi secara lebay, tapi guru-guru tidak diperlihatkan ditegurnya, supaya kita bisa diajarkan dan diperlihatkan tentang baik-buruk. Contoh teman saya yang pernah sekolah di MAN terkemuka, ia terlambat dan dihukum untuk merangkum Bab pelajaran yang ia lewatkan pagi itu karena telat, that's it, produktif. Anak telat bukannya di'kriminalisasi' tetapi diberi hukuman yang masuk akal dan memacu produktivitas. Tak apa barang hanya berlari beberapa putaran, tetapi tidak dengan dijemur atau duduk tanpa jelas juntrungannya.





Memang terlambat datang ke sekolah itu sangat tidak enak, apalagi kalau harus berhadapan dengan Kepala Sekolah yang emang nggak kelihatan punya respek. Saya percaya dengan saya terlambat dan dihadapkan dengan situasi ini, menambah pertanyaan-pertanyaan saya tentang keadaan pendidikan, kualitas kedisiplinan pada bangsa kita dan tentang kualitas tenaga pengajar kita yang harus saya jawab sendiri dan saya harus ikut perbaiki di masa datang.

20.1.13

Ada dua hal yang saya sangat ikuti di peristiwa banjir Jakarta tahun ini.

1. Peristiwa Basement UOB Plaza


Mengapa ini menarik buat saya? Karena peristiwa ini paling jelas memakan korban dan ini sebuah kiamat kecil. Bayangkan, video ini saja diberi nama Tsunami Basement. So far sudah ditemukan dua tewas dan dua selamat dalam evakuasi tim SAR. Basement 1 sudah surut sampai 50 cm sampai dengan tulisan ini publish dan ada 20 mobil yang jadi 'korban'. Menurut berita, kerugian dari sebuah perusahaan jasa travel disinyalir sebesar 1,5 milyar dan sebuah dental workshop berkerugian 1 milyar. Mungkin terdengar lebay, tapi hal itu bisa saja terjadi. Tenants gedung ataupun para karyawan masih tidak tahu siapa yang perlu dimintai pertanggungjawaban atas peristiwa yang juga mengurangi produktivitas tenants maupun para karyawan. Ini terang sebuah disaster buat gedung ini, ya secara finansial, kegiatan ekonomi-sosial maupun infrastrukturnya, karena balik lagi, kalau ini sudah terjadi dan memakan korban jiwa mau gak mau pengelola gedung harus berpikir ulang bagaimana agar in the future hal ini tidak terjadi lagi. Mungkin juga, mereka harus memperbaiki alarm disaster, karena jelas, keselamatan para penghuni gedung nomor satu. Nggak mau kan gedungnya jadi haunted? :p JK.


2.  Banjir Pluit

Saat saya melihat berita di TV, daerah Pluit dan bahkan mall Pluit Village pun terkena imbas banjir. Ketinggian air ranging 1-2 meter. Padahal tempat ini berisi rumah-rumah mewah dan pusat kegiatan ekonomi kelas menengah atas sampai atas lah ya kira-kira. Developer macam Agung Sedayu atau Agung Podomoro juga sepertinya punya properti di daerah ini kan ya? CMIIW. Anyway, mengapa ini menarik? Karena yang saya lihat, mau gak mau orang-orang kaya bermobil keren dan berumah besar itu juga perlu mengungsi dan menaiki perahu karet. Sama seperti orang-orang di Kampung Melayu, Kampung Pulo, Kedoya, Bukit Duri yang sebenarnya rata-rata dari kalangan bawah atau menengah bawah. Ternyata banjir jadi membuat orang sama rata dan sama rasa, kesenjangan sosial jadi berkurang, yaaaah walau mereka mengungsinya pake jetski atau perahu karet pribadi sama aja lah ya. Mobil mewah Porche sama Maserati juga kerendam, sama aja.


Itu aja sih yang bisa saya ceritakan sekarang. Semoga Banjir Jakarta cepat surut dan berlalu ya. Badai pasti berlalu kok.




Hai, nama saya Gladhys dari Indonesia. Saya selalu percaya bahwa saya ini unik. Kenapa? Saya orang yang visioner, bersemangat, dan tidak takut untuk menjadi apa yang saya inginkan. Bagi orang-orang seusia saya, mereka mungkin akan menganggap saya sebagai orang yang abnormal atau sok pintar atau bukan termasuk lingkaran mereka, tapi sejujurnya saya tidak peduli. Saya bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri. Saya bukan pengikut, Saya seorang pengemudi. Saya tidak takut untuk berpikir out of the box, coba tebak kenapa? Karena dunia membutuhkan beberapa ide terobosan agar bisa menjadi tempat yang lebih baik. Tetapi ide-ide tidak bisa hanya datang dari saya, melainkan dari pemuda - pemudi seluruh  di dunia, termasuk kamu.
Jangan takut untuk mengikuti kata hatimu.
Jangan takut untuk menjadi berbeda dan berani!
Kau diberkati dengan beban!

15.1.13

Saya punya pesan buat teman-teman mahasiswa dan calon mahasiswa. Ini yang ada dipikiran saya:



"Mahasiswa itu adalah pengubah dan mengubah, bukan diubah."



Maksudnya apa? Hmm.. yang saya pikir, menjadi seorang mahasiswa itu adalah sebuah tanggung jawab, bukan cuma buat diri sendiri dan keluarga tapi juga buat lingkungan sekitar. Menjadi mahasiswa juga bukan cuma tentang mengubah lingkungan sekitar tapi juga mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik. Kemandirian dan independensi seseorang bisa sangat dilatih saat usia mahasiswa, bukan cuma karena ngekos sendiri tapi juga karena tanggung jawab akademik dan pengembangan diri sepenuhnya dikembalikan pad adiri sendiri bukan? "Bukan diubah" maksudnya lebih ke pengaruh lingkungan sekitar. Mahasiswa seharusnya bukan lagi anak SMA yang tergantung sama keputusan guru, tergantung keputusan teman dan segala macamnya, tetapi kita sendiri yang mengubah pilihan kita bukan diubah oleh pilihan orang lain. Kepada teman-teman yang sudah mahasiswa, apakah ada yang punya pendapat lain? CMIIW, seriously :)
Senin sore tanggal 14 Januari 2013, saya dikejutkan oleh hal besar di Pasar Minggu.
Saya sehabis pulang try out di sekolah yang saya selesaikan buru-buru, sekitar jam 15.30 WIB tepat, langsung menuju kota tercinta saya, Depok, untuk belanja buku persiapan UN dan membeli binder di stasiun UI. Urgensi membeli binder itu adalah berjaga-jaga apabila pedagang di stasiun UI benar-benar akan digusur semua (jangan sampai terjadi), which will disappoint me very much.


Saya pikir, sore itu akan berjalan normal, tetapi kenyataannya tidak, saat saya lihat puluhan bahkan ratusan orang berbondong-bondong keluar dari Stasiun Pasar Minggu. Saya pikir, ada apa ini? Sepertinya kereta mogok. Yang lebih mengherankan lagi adalah, jarang sekali ada angkot 04 jurusan Depok Timur-Pasar Minggu, hanya ada beberapa. Saya kemudian lebih membuka telinga saya untuk mengetahui ada apa gerangan. Demonstrasi mahasiswa. Wow, pikir saya. Stasiun Pondok Cina diblokade mahasiswa serta pedagang di stasiun yang akan digusur. Mengacaukan seluruh perjalanan para komuter ini. Saya masih berpikir bahwa ini wow, dan di sepanjang perjalanan Pasar Minggu-Depok dalam Bus 75 yang dijadikan bus bantuan/charter untuk para penumpang menuju Depok pada hari itu, saya tersenyum.


Mengapa saya tersenyum? Saya merasa bahwa, mahasiswa-mahasiswa ini keren sekali. They made an impact that afternoon, a very big impact. Bukan karena perjalanan orang-orang terganggu, tapi mereka bisa membuat bagaimana mereka bisa dibicarakan. Soalnya, sepanjang perjalanan, saya tidak pernah dengar ada orang yang mengeluh tentang demo ini dan mengkritik, baru di media sosial saya melihatnya. Kedua, saya tersenyum karena saya terkesan dengan keberanian mereka beraspirasi dan shout what they need to shout, walau yang saya dengar ada beberapa metode yang nggak benar juga, dengan melemparkan batu lah, membawa balok kayu segala apa, saya kurang setuju kalau itu karena terdengar menjurus ke arah aksi anarkis, tapi aksi mereka meng'human shelter'kan rel kereta itu yang bikin saya terkesan. Nggak semua orang berani melakukannya.


Salah seorang teman saya bertanya pada saya di Twitter: "Kenapa kamu bangga dengan mereka yang jelas melanggar hukum?" Well, pertanyaan itu kurang tepat dilontarkan ke saya, karena saya sendiri adalah seorang yang rebel. Saya ini bukan manusia yang gampang menurut oleh aturan tertentu, walau saya tahu saya adalah warga negara Indonesia yang bilangnya adalah negara hukum. Saya sebenarnya bukan orang yang suka melanggar hukum pula, tapi jika saya melihat hal yang kurang sesuai dengan pandangan saya atau yang saya pikir dapat mengganggu hak dan kebebasan orang lain, saya berani-berani saja melawan.


Memang sih, ada beberapa hal yang tidak baik dalam pelaksanaan demonstrasi, di manapun itu, seperti menghambat transportasi lah, atau bikin macet jalan, fasilitas umum dirusak secara disengaja maupun tidak, dan sebagainya, tetapi saya sangat memegang teguh freedom of speech yang saya bawa dari negara tujuan pertukaran saya tahun lalu. Saya pikir, setiap manusia, secara individu maupun kelompok punya hak untuk mengekspresikan pendapat dan kekecawaannya dalam bentuk apapun. Itulah yang saya mau garisbawahi dalam setiap aksi demonstrasi.


Saya memang ingin sekali menjadi bagian dari sebuah kelompok demonstran atau aksi damai dan orasi publik suatu hari nanti, mungkin saat saya jadi mahasiswa, terlebih saya tergolong orang yang ekspresif. Saya juga akan tetap berusaha untuk menjalankan aksi unjuk rasa yang juga tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan dan/atau hak orang lain. Saya hanya ingin menyampaikan aspirasi, entah itu dari saya sendiri dari kelompok yang saya bawa nanti atau dari banyak rakyat yang sebenarnya sudah lelah mengadu dan belum percaya diri untuk berdiri sendiri melakukan swadaya dalam membantu program pemerintah yang belum pernah dilaksanakan.


Sore itu membuat saya gemetar dan menggebu, saya ingin merasakan menjadi bagian dalam aksi semacam itu walau sekali. Saya mungkin masih belum mengerti banyak tentang hal-hal ini, saya juga kurang pengalaman tentang kehidupan mahasiswa dan kehidupan aktivisme yang beragam jenisnya dan beragam latar belakangnya. Saya harap di suatu sore, suatu siang atau mungkin suatu pagi, pengalaman itu akan datang pada saya. Saya tidak takut dianggap bodoh, saya tidak takut dianggap buang-buang tenaga dan waktu, saya tidak takut dianggap aneh atau apapun yang jelek-jelek. Tidak apa-apa. That's why it is called experience so that we can learn things.



11.1.13

Saya adalah seseorang yang sangat setuju dengan gender equality.
Walau saya mengerti beberapa batasan-batasan dari ekualitas gender, karena menurut pandangan saya, laki-laki dan perempuan memang punya perbedaan mendasar secara fisik yang memang nggak bisa diubah karena dari sononya, alias kodrat fisik.


Buat saya, laki-laki dan perempuan itu punya kesamaan hak dan kewajiban secara individu. Kecuali jika dalam keluarga baru, memang harus ada sebuah kesepakatan dan komitmen khusus dalam membangun keluarga. Saya pun berpendapat, baik laki-laki maupun perempuan harus menghargai kebebasannya masing-masing, nggak ada yang boleh saling mediskreditkan decisons masing-masing, serta nggak boleh looking down each other either. Saya lebih suka jika perempuan dan laki-laki saling berbaur dan sharing their own strengthness tanpa melihat gender atau orientasi seksual masing-masing.


Saya memang bukan seorang feminis, saya juga bukan aktivis HAM. Saya hanya sadar kalau saya mau menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, saya harus bisa melihat seluruh manusia sebagai manusia, terlepas perbedaan yang ada, karena setiap manusia punya kebebasan yang harus berdasarkan pada hati nuraninya.


Beberapa guru di sekolah saya terlihat nggak setuju dengan adanya ekualitas gender dan mengatasnamakan agama. Mereka bilang laki-laki kodratnya memimpin dan perempuan mengurus keluarga dan sebagainya, saya sebagai perempuan agak kesal juga sih, walau saya hargai pandangan mereka. Balik lagi, laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban yang sama sebagai individu, nggak boleh dibeda-bedakan. Setiap laki-laki dan perempuan punya pilihan hidupnya masing-masing, nggak boleh ada yang lebih disuperiorkan.


Adanya ekualitas punya 'hikmah' tersendiri. Ekualitas membuat toleransi jadi lebih terjaga dan tercipta di banyak lapisan. Ekualitas juga memberi kesempatan bagi semua orang untuk menjadi apa yang mereka mau tanpa harus terkekang oleh regulasi-regulasi seksis atau aturan adat yang kadang menjunjung superioritas suatu particular gender. Bahkan, semua agama juga ngajarin ekualitas, tapi ekualitas dalam agama memang ada batasannya dan nggak tidak terbatas.


Ini sudah 2013, sudah seharusnya ekualitas merupakan hal yang tidak perlu diingatkan lagi pada orang-orang banyak. Ekualitas itu soal toleransi.


Manusia adalah manusia, mereka punya kebebasan dan kewajiban. Tidak ada yang boleh mengekang satu sama lain karena manusia itu semuanya sama. Every single human is equal.


9.1.13

Buat saya, diversitas yang ada di dunia, termasuk di Indonesia, adalah suatu hal yang sangat baik adanya dan sebuah berkah dari Tuhan. Kalau tidak ada perbedaan di dunia, ya dunia ini nggak akan ada dinamika, walau bisa jadi nggak ada konflik, tapi kan kalau nggak ada konflik nggak bakal ada perubahan, kata Karl Marx dalam teori konflik dalam perubahan sosialnya. Perbedaan itu indah. Perbedaan harus dihargai dengan sebaik-baiknya dan kita harus menerima hal ini karena perbedaan tidak akan bisa dipisahkan dari hidup kita bagaimanapun ceritanya. Bahkan setiap agama mengajarkan tentang perbedaan dan tetap mengahrgainya kan. Perbedaan itu banyak tingkatannya, tapi yang paling kompleks adalah perbedaan yang ada di setiap individu. Nggak ada manusia yang plek sama persis physically or non-physically. Semua manusia pasti punya perbedaan. Itu lah alasan lain kenapa kita harus menghargai perbedaan dan harus selalu menerima dan menghargainya karena memang perbedaan itu ada di mana-mana dan kita seharusnya tidak bisa mengganggu perbedaan yang ada di setiap diri manusia, apapun itu. Guess what, Tuhan kan yang menciptakan perbedaan? Tuhan punya tujuan khusus kenapa harus ada perbedaan di dunia.


Teman saya sesama aktivis gerakan kepemudaan punya virtual activism project yang namanya Bless Burden
bisa di akses di sini:


Dari sini saya makin belajar bahwa. Kita, manusia, terberkahi dengan adanya perbedaan.
Mari berpartisipasi dan mari bersama-sama cintai setiap perbedaan yang ada.

We are blessed with burden.

7.1.13

Sebenarnya begini, jujur saja.
Saya sebenarnya sudah mulai tidak cocok berada di SMA sejak kelas 11.
Sampai kemudian saya dapet beasiswa pertukaran pelajar untuk tahun ajaran 2011/2012.
Saya makin sadar bahwa saya sudah seharusnya not belong to the high school society anymore.
Saya malah  merasa bahwa kalau saya the real anak SMA adalah ketika masuk kelas 10. Saat saya berada di SMA saya yang di Amerika tahun lalu, saya lebih merasa punya school spirit dan rasa bangga memiliki sekolah, yang American high school tentunya.
Malah di sekolah saya yang sekarang ini saya nggak merasa nyaman. It's not about the teacher or the lessons, it's more about the system.
Y'know how Indonesian curriculum system works right?
Ditambah lagi pergaulan di sekolah yang ngegap. Siapapun kalau ditanya, pasti akan lebih memilih main ke mall, hangout, makan dan konsumtif segala macam, mereka jadi semacam menyulap lembaga pendidikan menjadi lembaga pergaulan, mereka lupa tugas utama mereka.
Mending ya bergaulnya masih produktif, ini perilaku malas berpikirnya aja ketahuan, nggak cuma di sekolah tapi dari cara bergaul juga ketahuan kalau cuma mau senangnya doang.


Buat saya, adolescent phase itu seharusnya bukan cuma soal bersenang-senang aja.
Itu kan masa peralihan dari anak-anak ke kedewasaan.
Harusnya masa remaja itu adalah masa pembelajaran yang paling banyak untuk bekal seumur hidup.
Masa dewasa mah enak tinggal ongkang-ongkang kaki review-ing dan mengimplementasikan pelajaran hidup maupun pelajaran dari pendidikan yang udah didapat waktu remaja.


Ya sudah.
Jadi, saya memang harus kembali ke kungkungan seragam putih abu-abu ini.
Saya mau jadi seperti Jean-Dominique Bauby yang sekujur tubuhnya memang nggak bisa digerakkan kecuali mata kirinya yang bisa berkedip, tapi pemikirannya seperti kupu-kupu yang terbang bebas.
Saya bersyukur pemikiran saya masih bisa melanglangbuana.
Saya bersyukur saya masih bebas berpikir dalam kungkungan sementara ini.


Saya ikhlas kembali ke kungkungan, karena memang ini adalah proses yang hampir semua peserta pertukaran pelajar dari Indonesia dan saya tahu nggak cuma saya yang berjuang dalam fase pascapertukaran ini.


Saya tidak sabar Ujian Nasional. Saya sangat siap untuk Ujian Nasional.
Karena itu lah kunci kebebasan saya.
Semangat!

3.1.13

Life is not measured by the number of breaths we take but by the moments that take our breath away. -(well I still don't know who exactly said this, but it's maybe Hillary Cooper or Maya Angelou, any thoughts, readers?)

 

Guess what, aku punya quote tandingannya loh. Ini buah pemikiranku dan hasil observasiku.

 

Life is not about what is your desire but is about what you can do to best for yourself to reach your desire.

dengan apa?

Passion.


any thoughts? 

1.1.13

Ketika berbicara soal Tahun Baru, semua orang berlomba-lomba membuat resolusi. Semua orang membuat daftar target, apa-apa saja yang harus dicapai setahun ke depan, apa-apa saja ambisi yang belum tercapai dari tahun-tahun yang sudah berlalu.

Ketika kita berbicara tentang resolusi, semua orang berlomba-lomba membaginya kepada khalayak ramai, menceritakannya pada teman, pacar, keluarga, semuanya, bahkan Twitter dan Facebook perlu mendengarnya. Kemudian ketika resolusi diberitakan kepada banyak orang, hal itu jadi retorika kosong saja.

Ketika resolusi hanya jadi retorika kosong, perlahan-lahan kita akan melupakannya, karena apa? Kita hanya semangat memberi tahu target-targetnya tapi mungkin kita sendiri nggak menyimpan resolusi itu dalam hati dan berpegang teguh dengan visi yang sudah direncanakan tetapi tidak disusun dengan misi-misi yang tepat atau bahkan misi-misi tersebut tidak disusun.

Bukan, saya bukan bicara bagaimana saya nggak suka orang bikin resolusi, saya sendiri bikin resolusi kok, tapi saya cuma simpan saja dalam hati. Kalaupun perlu diceritakan (karena saya nggak tahan) saya akan cerita kepada orang yang saya percaya saja, dan kalau soal ini, mungkin nggak lebih dari 3 orang. Saya memang sedikit terpengaruh dengan artikel Scientific American tentang bagaimana resolusi kalau bisa tidak diberitahukan kepada siapa-siapa karena kemungkinan besar tidak akan tercapai, tapi kemudian saya jadi terpikirkan tentang hal ini. Untuk baca artikelnya, cek di sini:

http://blogs.scientificamerican.com/culturing-science/2012/12/30/new-years-resolution/

Jadi resolusi memang penting untuk disusun, setidaknya untuk pegangan target buat setahun ke depan, tapi resolusi akan lebih penting untuk menjadi hal dimana kita berlatih berpegang teguh dengan apa yang kita mau dan fokus menjalaninya tanpa harus terpengaruh orang lain. Untuk menjalankan sebuah resolusi, kita harus menyalakan mode visioner. Jangan sampai hanya jadi koar-koar Twitter saja, tapi jadikanlah resolusi sebuah keinginan mulia yang nggak cuma harus tercapai di tahun ini tapi bisa berefek ke tahun-tahun selanjutnya.

Selamat mulai menjalankan resolusimu!
 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.