Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

12.1.14





Norak. Itu kata yang banyak orang lontarkan jika melihat orang kampung plesir ke kota besar, tapi bagaimana jika keadaannya dibalik? Saya, bisa dibilang, juga menjadi norak ketika melihat hamparan sawah begitu luas saat saya dalam perjalanan berkunjung ke Rangkasbitung, Banten. Kesan penat perkotaan sama sekali hilang dari pikiran saya, ketika menikmati pemandangan indah yang memberi kesan segar dari jendela kereta Rangkas Jaya yang dingin karena AC. Saya tidak ragu mengambil gambar sawah yang sangat luas itu dengan kamera telepon genggam, walau banyak orang duduk di sekitar. Ini akan jadi tiga hari yang menyenangkan untuk lebih mengenal greater Banten, berkunjung ke tempat yang jarang orang Jakarta kunjungi untuk berlibur, hanya dengan Rp. 15000 dan berangkat dari stasiun Tanah Abang jam 8 pagi. 


Pemandangan sawah di kanan kiri cukup saya nikmati sekitar 1,5 jam sampai saya tiba di stasiun Rangkasbitung, stasiun kecil yang awalnya tidak terlihat istimewa, namun jika melihat bangunan tak jauh dari stasiun, kita akan tahu bahwa stasiun ini adalah bagian dari sejarah pendudukan Belanda di Indonesia. Saya dijemput oleh ayah sahabat saya, Ajeng, untuk pergi ke rumahnya, tempat saya akan menginap selama dua malam di Rangkasbitung. Saya disambut oleh banyak angkot dan becak yang ada di sekitar terminal dan pasar Rangkasbitung. Kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sini tidak banyak, itu artinya polusi udara dan polusi suara sangat minim, udara yang saya hirup agak berbeda dari Jakarta, lebih ringan. Kesan pertama saya setelah beberapa menit melihat kota Rangkasbitung adalah, menenangkan dan menyegarkan.



Alun-alun Rangkasbitung dan Masjid Agung Rangkasbitung
Ajeng sangat fasih dengan kota kecamatan berpenduk sekitar 118.000 orang ini dari Ajeng lah saya mendapatkan banyak sekali cerita tentang kota ini. Darinya, saya jadi tahu kalau Rangkasbitung berasal kata dari kata rangkas dan bitung yang berarti bambu, dahulu sebelum Belanda datang, daerah Rangkasbitung adalah hutan bambu. Ajeng mengajak saya melihat sawah terhampar cantik dengan background Gunung Karang di dekat rumahnya, lalu menunjukkan jalan ke perkebunan kelapa sawit milik negara yang agak jarang dikunjungi orang, dan tak lupa mengajak saya berkeliling downtown Rangkasbitung. Ya, seperti banyak kota-kota di Indonesia, Rangkasbitung juga punya downtown yang cukup ramai dikunjungi, tapi jangan bayangkan kermaian ukuran Jakarta. Ramai di sini sangat sederhana, asal ada anak sekolah pacaran di alun-alun, pujasera ramai dengan PNS, atau kafe-kafe kecil tempat nongkrong remaja yang buka, tidak perlu banyak mobil atau motor. Saya juga tidak menyangka bahwa di kota kecamatan ini ada supermarket skala besar dan sebuah mall, “Iya, tapi ini mall-mallan, mall nggak jadi,” kata Ajeng. Benar sih, baru kali ini saya ke mall yang cuma punya satu lantai. Ada tempat-tempat penting untuk sightseeing di ibukota kabupaten Lebak ini, seperti Taman Makam Pahlawan Sirna Rana, Vihara Ananda Avalokitesvara yang ngejreng, Gereja Jemaat yang bangunan Belanda juga, serta Masjid Agung Rangkasbitung, ini menggambarkan cukup tingginya keberagaman dan toleransi beragama di sini, saya sempat berpikir bahwa penduduk Rangkasbitung cenderung homogen dalam urusan agama dan agak mendiskreditkan minoritas, nyatanya tidak. Di sebelah alun-alun, terdapat Kantor Bupati Lebak yang dulu merupakan kediaman dari penulis jaman Belanda, Multatuli, sayangnya, kami tidak berani masuk ke kantor kabupaten untuk ‘mempelajari’ sejarah hidup penulis “Max Havelaar” itu lebih dalam.


Gereja Belanda

Jalan Multatuli
Rangkasbitung merupakan settlement Belanda yang besar di zamannya, karena dulu di sini ada tambang minyak. Terbukti, saya melihat banyak sekali rumah-rumah Belanda di sekitar downtown Rangkasbitung, mudah sekali menemukannya tak jauh dari Kantor Bupati Lebak dan setu (danau kecil) di tengah kota. Kebanyakan rumah Belanda itu sekarang telah menjadi rumah penduduk sekitar, ada yang dibiarkan seperti aslinya, ada yang dipugar, ada juga yang menjadi aula dan kantor pemerintah. Selain rumah Belanda dan bangunan stasiun, ada Jalan Multatuli yang merupakan jalan protokol menjadi bukti bahwa orang-orang sadar akan kejayaan tempat ini pada masa pendudukan Belanda. Rangkasbitung adalah tempat yang kaya sejarah bagi saya, sayang tidak ada tempat bersejarah yang ‘ramah turis’ di sini. Ah, andai saja ada Museum Multatuli atau museum lain di Rangkasbitung…


Rangkasbitung lebih ramai ketika sore dan malam hari, khususnya di bagian downtown. Di alun-alun, para pemuda asyik bermain basket dan voli, ada pula sepeda tandem dan delman untuk berkeliling, penjual makanan pun mulai banyak. Makanan yang paling saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Pais Gurih, bentuknya seperti lontong, namun agak lebih besar dan dibakar, bumbunya kemerahan dan ada potongan kecil jeroan ayam di dalam nasinya. Saya juga merekomendasikan Sate Bandeng khas Banten yang rasanya manis gurih, cocok untuk dimakan bersama nasi. Ada juga Sop Durian yang juga enak, kalau minuman ini Ajeng sangat rekomendasikan. Makanan khas Banten cukup murah, kisaran harganya Rp. 5000 sampai Rp. 15000



Vihara Rangkasbitung
Di antara keramahan dan kesederhanaan Rangkasbitung, masih ada hal-hal yang mengganjal di hati saya. Rasa kehidupan Jakarta di sini memang hampir tidak terasa karena hampir semua orang berbicara bahasa Sunda dialek Banten dan orang-orangnya lebih santun, tetapi ternyata banyak sekali minimarket dan tempat nongkrong anak muda yang berkembang di sini, seperti kafe-kafe blended coffee dan distro yang menggambarkan bahwa anak muda kota ini terlihat mulai konsumtif. Selain itu, ada saja bangunan pemerintah yang terbengkalai, seperti pembangunan SMAN 1 Rangkasbitung yang masih setengah jadi dan somehow tidak terlihat akan dilanjutkan dalam waktu dekat “Yah dari dulu segini-segini aja sih pembangunan sekolah gue,” kata Ajeng, “Di sini banyak bangunan yang abandoned.” Padahal anggaran pembangunan SMA itu sekitar 2 milyar lebih (saya tahu dari plang pembangunannya), sementara di sisi lain kota, billboard Ratu Atut untuk sadar membayar pajak berdiri manis.


Serang menjadi tujuan saya mengeksplorasi Banten di hari berikutnya. Perjalanan saya dan Ajeng ini merupakan sudden journey (terinspirasi dari National Geographic Traveler J), kami tidak punya rencana untuk pergi ke sana. Cukup membayar Rp. 15.000 per orang, kami dapat menikmati kereta ekonomi AC Kalimaya Express tujuan akhir Merak. Perjalanan sekitar satu jam lagi-lagi menyuguhkan pemandangan sawah dan Gunung Karang, bahkan ada perhentian kereta yang ada tepat di tengah sawah! Di beberapa titik, saya dapat melihat seperti pemukiman besar di kaki Gunung Karang, saya pikir mungkin saya melihat bagian dari kota Pandeglang. Stasiun Serang ternyata lebih kecil dari stasiun Rangkasbitung, cukup membingungkan, karena Serang merupakan ibukota Provinsi Banten, saya pikir seharusnya ibukota provinsi memiliki stasiun yang lebih besar dan tidak seterbengkalai ini, tapi kemudian kami tahu ternyata stasiun itu adalah bangunan cagar budaya, pantas saja terlihat dibiarkan saja seperti aslinya.


Stasiun Serang
Masjid Agung Serang

Kantor Gubernur Banten
Alun-alun Serang
Billboard Atut
billboard atut lagi

lagi-lagi billboard atut...

Ajeng memberi tahu saya pendapatnya tentang kota Serang, “Serang itu kota yang nanggung, besar enggak, kecil juga enggak,” katanya, “Makanya gue pribadi kurang suka, daripada ke Serang, gue lebih suka main ke Jakarta sekalian.” Saya juga sempat membaca di ulasan tentang kota ini dari internet, ada yang bilang bahwa Serang bukan tempat untuk mencari keunikan. Semua hal itu telah saya buktikan, atau mungkin sebenarnya kami datang di waktu yang kurang tepat. Dari hasil tanya-tanya saya ke polisi dan orang-orang di sekitar, jika ingin mencari makanan khas Serang harus menunggu hingga sore atau malam hari. Kami bisa juga berkunjung ke situs Banten Lama, di mana kita bisa lebih banyak eksplor tentang sejarah Kerajaan Banten dan peninggalan purbakala, tetapi untuk berkunjung ke sana memakan waktu cukup lama, padahal waktu kami di Serang hanya 3 jam karena harus naik kereta terakhir ke Rangkasbitung. Alhasil, kami hanya jalan-jalan seadanya di Serang.


Tempat pertama yang kami kunjungi di Serang adalah Alun-Alun dan Kantor Gubernur Banten di pusat kota, mirip dengan Bunderan HI-nya Jakarta. Ada dua alun-alun di sini, barat dan timur, saat kami bertandang sedang ada pameran lukisan di alun-alun barat. Kantor Gubernur Banten terlihat sangat rindang, dihiasi gapura artistik bak kerajaan di depan kantornya, tepat di seberang kantor Gubernur ada kantor walikota Serang. Banyak sekali billboard di sepanjang jalan utama Kota Serang, isinya muka Ratu Atut semua, mulai dari sosialisasi KB, Hari AIDS sedunia, sampai program Jamsosratu yang billboardnya paling besar (dan penerapannya hoax). Saya belum pernah lihat ada gubernur senarsis ini.
Setelah puas melihat-lihat, kami sempat bingung berkunjung ke mana, karena kami tidak ingin masuk Mal Serang penuh dengan makanan cepat saji yang sebenarnya bisa dengan mudah saya temui di Depok, kami kemudian pergi ke Pasar Lama untuk makan siang, lagi-lagi kami tidak menemukan makanan khas sini, kami kemudian makan siang di rumah makan Padang dan saya menyempatkan diri untuk mencari oleh-oleh. Saya sempat melihat ada bongkahan bebentuk lonjong yang diikat dengan sejenis daun kering, “Itu gula aren, biasanya orang Baduy yang bikin, gue jamin, gula aren yang begitu otentik, cuma ada di Banten,” terang Ajeng, saya pun mendapatkan oleh-oleh pertama saya untuk Ibu di rumah. Kami beristirahat di Masjid Agung Serang, begitu masuk, kami disuguhi arsitektur khas Banten dan ukiran ornamen atapnya sangat detil, tempatnya juga sejuk sekali dan rindang. Sebelum pulang, saya mengunjungi sebuah kios yang menjual makanan khas Serang, Nasi Bakar Sumsum, kali ini kami datang di waktu yang tepat, saya mengantongi dua bungkus Nasi Bakar untuk disantap di kereta ekonomi.


Bukan hanya pengalaman jalan-jalan yang saya dapatkan dari berkunjung ke dua kota di Greater Banten ini, tapi saya melihat sendiri betapa pembangunan di provinsi muda ini tidak merata dan banyak sekali hal-hal yang luput dari perhatian pemerintahnya. Saya melihat dan membandingkan Kota Serang dan Rangkasbitung yang keduanya menurut saya stakeholder utama Banten, keduanya merupakan pusat pemerintahan dan yang saya lihat hanya pusat pemerintahannya yang ‘didandani’, tapi sebagian besar kabupatennya cuma punya jalan setapak yang susah dilewati kendaraan, jembatan ambruk, dan susahnya akses karena transportasi yang kurang memadai. 


Saya juga mendapatkan cerita-cerita keadaan sosial politik Banten dari Ajeng. “Ada wacana katanya Lebak Selatan mau memerdekakan diri jadi kabupaten baru, biar pembangunannya lebih merata dan lebih berkembang,” cerita Ajeng, memberikan cerita yang cukup mengejutkan bagi saya. “Bagus dong, gue sih dukung banget, biar sejahtera nggak ditinggalin terus, kasihan kan,” ucap saya, tapi Ajeng malah memberikan pandangan lain, “Masalahnya, pendapatan daerah Kabupaten Lebak saat ini sebagian besar datangnya dari hasil bumi Lebak bagian selatan, kalau mereka memisahkan diri kita bakal dapat pendapatan dari mana lagi?” Ternyata isu pemisahan ini cukup kontroversial, menarik, hal ini harusnya bisa menyadarkan pemerintah Banten maupun pusat tentang ketimpangan pembangunan yang memang terjadi. Tentang dinasti yang terjadi Banten saya pun mendapatkan cerita menarik lain, “Atut itu ingin menguasai seluruh Banten, makanya dia bikin dinasti kayak gitu, tapi cuma satu yang susah dikuasai Atut yaitu Kabupaten Lebak, di sini ada dinasti sendiri,” kata Ajeng, “Bupati yang kemarin menjabat itu Bapaknya, sekarang yang menjabat itu anaknya Bupati sebelumnya.” Saya sempat melihat billboard di Alun-Alun Rangkasbitung, ada tulisan “Terima Kasih Telah Mengabdi… 2003-2013” artinya 10 tahun menjabat, entah karena memang dipercaya rakyat atau hal lain. “Politik di Banten itu masih primitif,” ujar Ajeng, kalimat itu nendang sekali untuk mengomentari keadaan politik Banten sekarang.


Tiga hari mengeksplorasi Rangkasbitung, serta kunjungan singkat ke Serang, lebih dari cukup. Daerah-daerah yang saya kunjungi di Banten sebenarnya kaya akan sejarah, pernah jaya pada masanya, pula potensi wisata yang tidak kalah menarik dari pantai-pantai di Banten. Namun, penduduk di kedua daerah itu kini menjadi korban politik dinasti yang menyebabkan buruknya penanganan pemerintah dalam hal pembangunan karena sibuk mengurusi kekuasaan. Entah kapan kita bisa melihat kejayaan dan kesejahteraan itu lagi di tanah Banten.




Travel Tips Banten:
-          Untuk menikmati makanan khas dan suasana yang lebih lively, datang lah ke pusat kota di atas mulai jam 4 sore sampai jam 8 malam.
-          Kereta diesel adalah moda transportasi yang sangat disarankan bagi teman-teman yang ingin mengeksplorasi Banten dan menikmati perjalanan yang membebaskan diri dari penatnya Jakarta. Dengan Rp. 4000 sudah bisa naik kereta ekonomi diesel tujuan Merak berangkat dari Angke, untuk kereta express AC berangkat dari Tanah Abang ada kereta Rangkas Jaya tujuan Rangkasbitung harganya Rp. 15000, dan untuk tujuan Serang-Merak ada kereta Kalimaya harganya Rp. 30000.
-          Kota-kota yang dilalui kereta seperti Rangkasbitung, Serang, Cilegon, sampai Merak merupakan tempat wisata yang terjangkau dan berbeda dari biasanya, beranilah untuk bereksplorasi sendiri dengan bertanya dengan orang sekitar, preferably coba ngobrol dengan polisi atau marbot masjid.
-          Jika teman-teman ingin berkunjung ke tempat-tempat di Lebak Selatan, seperti Pantai Sawarna dan perkampungan Baduy, butuh waktu dan biaya yang lebih besar karena transportasi agak sulit serta membayar guide. Lebih baik datang pada bulan Mei-Agustus menghindari cuaca buruk.

29.9.12

Jadi saya ini punya cerita besar yang harusnya saya share sebelum pulang, hanya saja, kepulangan membuat saya malas ngapa-ngapain kecuali packing, saying farewell sama sahabat dan keluarga saya di Amerika dan juga reunian lagi sama teman-teman YES Indonesia 2011-2012. Jadi mari, later is better than never kalo kata Lana Del Rey.

Jadi sebenernya tujuan utama saya adalah menghadiri pernikahan tante saya yang ngerawat saya dari kecil di Indonesia, saya panggil dia, Anti. Tanggal 27 Mei sampai 14 Juni, saya menghabiskan waktu saya di Harissburg, Pennsylvania (tempat tante saya tinggal) yang jug amerupakan ibukota dari negara bagian Pennsylvania.

Setelah itu, saya menghabiskan 3 hari 2 malam di New York City~ Di NYC, saya ditemani Tante Wahyu dan Kak Dinda, mereka kerabat keluarga, lalu juga ditemani teman Indonesian-American saya, Dara, teman lama dari SMP yang selama ini cuma keep contact dari email dan social network dia sekarang kuliah di Stony Brook University majoring in Medical, sama Syira, anak Jakarta cuma dia pindah baru setahun ke Harrisburg buat SMAnya berhubung dia technically a U.S Citizen.

Lalu berwisata bersama Anti ke Philadelphia di hari terakhir sebelum kepulangan saya kembali ke Iowa.

Berikut 'galeri foto' New York City-nya, saya persembahkan~~


Keluar dari Subway, norak

Broadway, my dream

Sama Mas Johnny :')

Bawa aku Mbak Poppins~

U-S-A RED WHITE AND BLUE!

Times Square siang hari

:') *speechless*

Will I featured in the poster? Future speaks

The Apple 'sanctuary' and Rockefeller Center, cool sunglasses huh?

PLEASE BRING ME BACK TO STRANDS BOOKSTORE!! GIMME SOME MONEY TO BUY THIS!


Brooklyn Bridge yeah

This beautiful view from Brooklyn Bridge

Good Indonesian friends, Dara (left) and Syira (right). They accompany me along the weeks in Pennsylvania and New York. World Trade Center in the background

Broadway at night

Finally I found where that Broadway musical plays, and I really want to watch it: "Once". I got the Playbill though :')

Another Broadway place: Evita. Ricky Martin play as Peron and the music is by Andrew Lloyd Weber :'D

Rela hujan-hujanan sama Syira dan Dara demi foto di Times Square malam hari~

I got to the Statue of Liberty


1.5.12

So I have a big list, what countries that I want to visit in my life, I want to visit before I die. It's important for me because I found myself as an explorer and living in another country for almost a year, alone (yeah not really alone though but sort of alone) as an exchange student, it opened up my eyes to make my world wider to explore. Other than United States.

1. Thailand
Why: because I want to study their language, because it's close to my home. I just found them interesting and I feel like my culture and them are pretty related

2. New Zealand
Why: because for me it's a unique country, where early settlers and English descendant live together in islands of South Pacific, and also their landscape are beautiful.

3. United Kingdom
Why: who doesn't want to go to UK?! especially after the Harry Potter phenomenon and stuff, but for me I want to know how the original land of English looks like

4. France
Why: who doesn't want to go this 'romantic place' thingy?! but for me I want to learn their language further more, like activate it, for real, parceque j'aime francaise~ also also, I love French movie and I heard that France is a good place to start career for cinematography

5. Saudi Arabia
Why: I need to go to pilgrimage and knowing more about my religion as part of me *angel mode: on*

6. Nederlands
Why: after reading an Indonesian novel titled Negeri Van Oranje, it just inspired me to get there. Leiden especially, they had my country's history, and I really curious for being there.

7. Norway
Why: yes, it's a beautiful northern country. not to mention Kings of Convenience, but there's a magnet that pulls me that I want to go there someday in my life.

8. Australia
Why: it's my neighbour country, it's close to Java, and my cousin was there for her study, and I want to go to the Opera House.

9. South Africa
Why: same like Norway, there is a magnet that pulls me and make me want to go there. maybe because its culture and diversity and, I want to experience the longest flying fox in the world there :D

10. Japan
Why: Japaneese influence had been entering me since I was little. I watch a lot of cartoons, series and stuff. I want to learn their language further more too, and I want to experience those things I watch in TV

other countries worth to go for me too: Turkey, Greece, South Korea, Egypt, Brazil, Italy, Canada, Spain, Denmark, Panama.


18.4.11

14.3.11

Bolang Ria Busway by gladhys
Bolang Ria Busway a photo by gladhys on Flickr.
Pada tanggal 5 Maret 2011, hari Sabtu. Temen ogut seperjuangan di YES Selection dari Samarinda yang bernama Yudhis sudah bikin janji dengan saya untuk jalan sama-sama keliling Jakarta siang hari mengisi waktu sebelum Java Jazz... Plis, gue aja yang anak Megapolitan kagak nonton Java Jazz, nah diaa?! Aduuuuuuuh enaknya, mana nonton Santana dan George Benson.... *nangis*

Kemudian, dia bilang bahwa mendingan ajak temen lagi, sebenernya anak Jakarta sudah ogut ajakin semua tapi yang dateng (lagi-lagi) hanya Vio. Setelah ogut jalan bertigaan sama Vio dan Arwan dari Bogor, berarti kami jalan bertiga lagi, tapi sekarang sama Yudhis bukan sama Arwan. Yah, beginilah peserta seleksi YES memang terlalu keren jadi pada sibuk gitu...

Perjalanan berawal jam 11. Gue sampe di Hotel Sheraton Media yang super keren gila-gilaan, waktu masuk, jujur, gue nganga, "***jrit ini hotel... Keren..." gitu dalam hati. Akhirnya ogut ketemu Yudhis diantar oleh ortunya yang sedang ingin pergi juga.
Gue ngajak Yudhis ke @america dan maen ke Pacific Place, coba kalo bawa duit lebih, gue ajakin ke Kidzania (tapi pasti ditolak petugasnya juga). Main iPad dan nonton Akeelah and The Bee. Pokoknya, hari itu adalah hari busway, kemana-mana kami naik busway. Sebagian besar hari itu adalah di busway, kami mengobrol lebih buanyak di busway ketimbang di tempat lain. Yah obrolan kita nggak lepas dari masalah anak YES dan daily life. Balik lagi, waktu di @america, Yudhis BBMan sama anak YES Jogja (yang gue sempet kesengsem berat sama dia karena ganteng dan pinter setengah mati dan ternyata udah punya pacar ANAK JAKARTA *nangis darah*) begini sneak peaknya:

Dia: Yud, lo lagi di Jakarta?
Yudhis: Iya, lo di Jakarta juga?
Dia: Iya nih, di rumah pacar di Cinere
Yudhis: Wah, dateng kapan lo?
Dia: Tadi pagi...
Yudhis: Pulangnya kapan?
Dia: Ntar sore hehe

"Wah boker duit!" kata gue, "Ke Jakarta sehari cuma buat ngapel?! Hebat," lanjut gue lagi. Padahal dalam hati "Mau doooooongg cowok kayak gitu, unyu banget!" HAHAHAHAHAH lanjut.

Vio yang (katanya) lagi imunisasi kami suruh nyusul ke D'Cost Gajahmada Plaza. Kami makan duluan di situ. Sebenernya, tujuan ogut milih GM adalah supaya lebih deket dan cepet kalo ni anak mau langsung ke Kemayoran atau ke hotel dan memang tidak salah. Yudhis dengan sangat baik hati sekali mentraktir, sebenernya ogut juga traktir doi, tapi cuma tiket busway ^____^ waktu selesai makan, kami sibuk ngomongin soal YES dan AFS lagi. Dia bilang anak Samarinda udah ketauan 5 orang AFS, tapi kita simpen dulu ceritanya, kami lalu menelfon dua kawan sesama Jojoga (Jomblo-Jomblo Galau) YES, pertama Adli, ngangkat, terus langsung mati, kesel, (diketahui kemudian Adli lagi nyetir mobil pas angkat telfon) lalu telfon Tanto, ngobrol ampe 8 menit dan dia lagi di Pangandaran (lebih enak!) lagi libur panjang -,- lalu, Yudhis yang masih penasaran dengan hasil AFS lalu telfon kakak chapternya, sementara ogut hubungi Vio. Kemudian Yudhis stres... ogut kaget dan panik, wah anak orang nih gimana kalo pingsan, ditengah telfon, muncul Vio dengan lengan diplester dan kaku, lalu kenalan sama Yudhis lalu Yudhis lanjutin telfonnya. Pas tutup telfon... berita buruk, Yudhis nggak dapet AFS. Tapi semua langsung kecover sama obrolan hangat dengan Vio, tapi salahnya Vio dia dateng pas kami sudah selesai makan, so dia makan sendiri dah tuh.. Dan singkat sekali, dia selesai makan langsung kita capcus!

Habis itu kami bertiga ke Harmoni. Nunggu busway Ancol buat balik lagi ke Gunung Sahari dan buat nganter Yudhis ke JiExpo. Yudhis panik karena hari makin sore dan bus belom datang. Vio selow. Sementara Yudhis tidak, lalu melampiaskannya ke gue dengan nyubit lengan, parah, sakit abis! Fyi, itu cubitan sakitnya baru ilang total 2 hari yang lalu! Umur cubitan: 1 minggu... Gila!
Waktu udah mau sampe hotel, di busway, waktu rem mendadak, ogut udah berdiri sementara pas ogut nengok ke belakang, Vio dan Yudhis yang masih duduk ternyata saling bertahan agar tidak jatoh pas bus ngerem, yang bikin terus teringat adalah Yudhis yang ndut yang malah pegangan sama Vio yang gak ndut, megang telunjuknya doang lagi, apa gak mau copot tuh telunjuk HAHAHAHA (peace yud ^___^v)
Sebelum mengakhiri perjalanan selamanya, kami masih sempet FOTO-FOTO DULU DI JEMBATAN PENYEBRANGAN hahahaha untung sepi total jadi bebasssss. Oh ya dan foto di atas adalah candid, di jembatan penyebrangan, yg kiri Vio dan yang heboh Yudhis.

Yah gitu lah, hari yang seru dan semoga tidak membosankan bagi mereka, karena bagi gue hari itu adalah salah satu hari menyenangkan gue :) Thanks Yudhis, kapan-kapan kalo gue ke Samarinda elo yang guide ya (Y)!!

5.12.10


BOLANG RIA DI GONDANGDIA
Originally uploaded by gladhys
Ini foto Dewa dan Genta di jalan otw to stasiun Gondangdia. Jadi, hari ini, Minggu 5 Desember 2010, ogut barengan dua temen ogut yang bernama Dewa dan Genta (kali ini bukan nama samaran sob) berniat untuk nonton hari terakhir JIFFest di Kineforum TIM. Sedikit pengenalan, Dewa dan Genta adalah kakak beradik dari teman GCC yg keren, dan mereka seangkatan, jadi keren. Pagi-pagi, kita naik ekonomi, ada yang kecopetan, dan copwletnya pura pura ngerasa terhina karena dituduh, padahal dia emang nyopet beneran. Terus kite turun di Cikini. Kite kepagian, jadi liat-liat anak nari bali dulu di depan Teater Jakarta, jam 11 kita ambil tiket buat nonton International Shorts. Terus sembari nunggu, kita sholat di mesjid TIM. Pas masuk, film pertama udah mulai setengah, mana kita telat, jadinya kita duduk pisah pisah. Sumpeh dah filemnye keren banget! Habis filem selesai, kita kayak anak ilang, saling lempar tanya, habis ini kita mau kemana, yahwis, akhirnya kita jalan menuju stasiun, sekalian cari makanan unik buat kita jajan. Pas di jalan kecil, si Dewa pake ngelawak, lari lari sambil nendangin kaleng kopi kosong yang dibuletin kayak bola, ogut sama Genta ngakak, terus nemu tulisan aneh-aneh di jalan, yang nanti akan saya post, bahkan tulisannya keren kewren. Kita nemu Mie Gondangdia. Keren. Penasaran, kita makan di situ dan enak banget baru deh, kita lanjutin jalan lagi ke Stasiun Gondangdia, sepanjang jalan kecil, tulisan yang lebih bagus banyak lagi sampe kita akhirnya sampe ke stasiun. Kita terus naik AC Bogor, terus naik sampe Manggarai terus naik AC Depok yg ternyata ngetem hehe, di sono kita poto poto gak jelas tapi have fun hehe akhirnya kita pulang deh dari kereta itu, whatta day. Thanks for today mates :D
 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.