15.9.12

So, I randomly open www.behindthename.com and it was amazing, cause I found beautiful names from different ethnicity and these feminine names I like the most:

 

Aðalbjörg Hjördís
Icelandic: The noble protection from the sword goddess


Moema Nina
mix of Tupi and Quechua: Sweet fire


Bergljót 
Norwegian: Protection by light


Whetu Roimata 
Maori: Star in a teardrop


Radka
Czech: care


Siriporn Kanda
Thai: Lovely glorious blessing


Dagny
Danish: New day


Kanchana Veda
Indian: Golden knowledge


Sorne Hilargi
Basque: The moon conception


Sevgi Aygül
Turkish: Lovely moonrose


Subira Asha
Swahili: Patience in life


Gulshan Shabnam
Persian: Dew in the rose garden


Arevik Anehit
Armenian: Like the immaculate sun



Well, at least I got some inspiration for my (very) future child's name and/or for character in my story, the more uncommon the more unique :)
 
Jadi kejadiannya gini bray, gua kan sekarang sekolah dan sekelasnya sama anak-anak yang dulu jadi adek kelas gue, yang gue gak tau orang-orangnya seperti apa, psikologi dan latar belakang pemikiran mereka serta interest mereka tuh apa-apa aja gue belom ngerti banget lah.

Yang mau gue bicarain di sini bukan derita gue 'gak naik kelas' tapi pandangan gue setelah gue kembali lagi ke sekolah lama dengan pemikiran gue yang baru. Banyak banget perbedaan yang gue lihat dengan kembali bergaul dengan mantan adek-adek kelas gue ini, bergaul dengan mereka nggak kayak waktu gue bergaul dengan angkatan lama gue, atau mungkin setidaknya itu yang gue rasakan. Gue bukannya mau ngejudge yang mana yang lebih seru atau yang mana yang lebih ini-itu, tapi ternyata emang society yang gue lihat selama ini bukan seperti yang gue harapkan saat gue berada di benua sana.


Pas gue pulang, gue punya banyak ekspektasi tentang teman-teman baru gue ini, dan juga ekspektasi tentang teman-teman yang dulu seangkatan di sekolah. Gue berharap mereka adalah anak-anak yang bersemangat dalam mencapai cita-cita mereka, mereka adalah anak-anak yang dibesarkan dan bergaul dalam lingkungan ibukota Jakarta yang tau negaranya dengan baik, mereka anak-anak yang berani berpendapat dan bisa memakai kepala dan dada secara sinkron. Nyatanya?

Well, I don't want to judge who or what.

Tapi gue kadang merasa kecewa berada dalam lingkungan sekolah yang begini.
Atau mungkin, gue yang nggak normal.



And this is what I face in the past 2,5 months at school:

  • Dari 10 orang yang gue tanya: "Elo ntar mau kuliah apa?" yang bisa jawab dengan jelas cuma 3 orang. Please, ini urusan 8 bulan ke depan. Bukan urusan 3 tahun lagi 

  • Dari 5 kelompok yang memberikan presentasi di pelajaran-pelajaran IPS, semuanya membaca presentasi tersebut dan masih nggak ngerti esensi presentasi power point itu apa. Please, Power Point, bukan Power Paragraph. Mereka cuma copy paste dari web, tanpa mengolah kata lagi, mengambil hal yang penting, bahakan kadang nggak ngerti sama sekali apa yang mereka presentasiin, yang penting ada nilai.

  • Meresensi buku juga, copy paste dari web dan nggak dibaca bukunya, atau memilih buku dengan asal. Meresensi buku ilmiah atau nonfiksi atau biografi, tapi buku yang diambil, dia sendiri nggak tertarik dan nggak pernah mendengar soal apa yang dibahas buku itu, padahal gue udah bilang sama mereka, ambil buku yang kira-kira lo tau, pernah denger atau kontennya menarik buat elo, nggak didengerin juga. Mana ada meresensi buku cuma baca halaman/bab pertama doang?

  • Merangkum dari buku cetak. Oke ini merangkum. Tapi kenapa satu bab ditulis semua? Kenapa nggak bikin kata-kata sendiri, dimengerti gitu apa yang dirangkum. Stabilo-in poin penting di suatu bab. Poin pentingnya aja loh. Tapi kenapa yang distabiloin semua paragraf?

  • Mirisnya lagi, suatu hari di pelajaran Bahasa Inggris, dari yang kita diskusi tentang pertanyaan sehari-hari, sesimple "Where were you born?" dan cuma 1-2 yang bisa jawab, ujungnya kita belajarnya balik lagi kayak anak SD sampe belajar nyebutin nama-nama hari, nyebutin jam. Gue bilang: "Gue ngerasa bego," dan gue kelas 12.

  • Gue ngejelasin contoh di pelajaran Sosiologi "Apabila suatu negara merubah dasar negara," lalu yang gue jelasin malah nanya, "Emang dasar negara kita apaan sih?" Gue langsung yang, "HAH? elu orang Indonesia bukan sih?!" terus dia nebak "UUD 1945 ya?" "Ya bukan lah!" "Eh.. iya Pancasila deng," gue agak wondering, gak lama lagi dia mungkin gak hapal Pancasila

  • Gue mengemukakan pendapat, di kubu cowok-cowok gue denger komentar: Apaan sih?! Penting banget! Sok banget! WOOOO! atau Hiyaaaaahh! atau Udah apa udah!! Wujud bahwa mereka sendiri nggak bisa mikirin hal-hal yang kritis atau yang penting bahkan untuk kelangsungan pendidikan mereka sendiri  

  • Nyontek. Masih jaman? Plagiat. Mereka ngerti nggak sih arti plagiat dan itu adalah sebuah kejahatan intelektual?


SAYA MALU

MALU

Apa memang anak-anak remaja sekarang itu adalah anak-anak yang malas mikir?
Apa mereka nggak sadar bahwa tinggal hitungan 1 dasawarsa, yang bakal jadi suksesor negara ini tuh dia?
Kenapa cuma percintaan, musik-musik yang mereka suka, penampilan, pergaulan yang up to date, Blackberry, smartphone, gadgets, nongkrong, main game, dan hal-hal yang harusnya bisa dikurangi dulu yang malah mereka utamakan?
Gue nggak ngerti lagi.


Bukannya gue gila belajar.
Bergaul itu penting.
Asalkan ujungnya nggak menjadi bagian masyarakat yang materialistis.
Menjadi kelompok manusia yang hidupnya kurang berkualitas
Kelompok orang yang nanti pas udah gede nyeselin masa remajanya
Gue cuma mau kita lebih sadar umur.
Lebih menggunakan hati dan pikiran, setting priorities, lebih mengenal diri kita dan mengembangkan hal-hal yang penting dan positif.
Pikir dan rasakan.
Jangan masih bertindak karena merasa kalau "Gue masih muda, urusan yang laen ntar aja lah, itu urusan orang gede," tapi mereka sendiri lupa kalau mereka kalau udah punya KTP udah considered as 'orang gede'
Atau cuma ikut-ikutan temen.
Please, kita hidup bukan untuk dan karena temen, lo hidup untuk diri lo sendiri. Teman itu supporting agents.


Terakhir:
Apakah masih jaman nyalahin globalisasi dalam soal 'malas-malasan' ini?


Tuhanku....
Maafin saya yang nggak bisa berbuat apa-apa melihat hal ini.
Saya cuma bisa menulis posting blog ini dan tetap melakukan sesuatu yang saya anggap benar saya lakukan. Saya nggak ingin selamanya stuck hidup di dunia remaja.
Saya pengen berkembang
Saya pengen jadi dewasa muda yang suka berpikir, kritis dan peka terhadap lingkungan.
Semoga bukan cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berkembang ke arah positivity tapi nular juga ke remaja lainnya.
Amin.

btw, this is just my thoughts CMIIW :)

10.9.12

Well, gue lagi kena virus semangat nulis, semoga virus ingin menulis selalu ada di diri saya setiap minggu yeyeye lalala

Ngomong-ngomong soal virus, gue emang lagi kena virus, virusnya positif tapi yaitu virus taman baca ditambah volunteering. Ceritanya habis gua pulang, gue ketemu lagi sama temen-temen lama lah, terus di sebuah acara gue sempet ketemu sama Tofan, dia ini waktu itu masih temen yang baru suka ngobrol di internet doang, kenalnya ya dari temen-temen yang anak SMA 8 sih. Nah, sebelom gue pulang, dia emang sempet ngetweet tentang dia mau bikin taman baca, wuah, gue bacanya langsung semangat bray, habisan gue punya mimpi yang sama dari kecil yaitu bikin perpustakaan, nah sewaktu ketemu itu lah kita diskusi tentang banyak hal, termasuk pembangunan taman baca ini.

Yah, due to smaller circle of friends that I got, ternyata founder taman baca yang diberinama Bulian ini gak cuma Tofan tapi juga ada Dinda 'DL' yang memang teman gue sewaktu di FPPEA, dan satu lagi founder adalah Gesya yang ini gue baru kenal di Bulian deng hehe. Tapi ketiga orang ini memang orang-orang cerdas nan kreatif serta kritis lho.

Taman Baca Bulian ini sendiri, berdirinya di rumah Tofan di daerah Tanjung Barat.

By the way, Bulian itu apa sih? Nah Bulian ini ternyata adalah nama pohon langka Indonesia, yang nama lainnya Ulin, pohon ini katanya kuat banget dan berdirinya kokoh. Yang gue tangkap esensinya dari nama untuk Taman Baca ini adalah, harapan para founders dan volunteers agar di masa depan kita bisa bersama menjadi dan tumbuh sebagai generasi yang memperkokoh eksitensi dan nama baik bangsa kita. (Gue agak sotoy nih yang ini, padahal yang gue tau nama taman baca emang maunya nama tanaman langka biar orang-orang lebih mengenal tanaman Indonesia saja)

Pengembangan minat baca juga diharapkan bisa jadi isu utama dalam pembangunan taman baca ini (sailaaahhh). Biar ke depannya, walaupun TV ada, internet ada, tetap kita dan generasi muda yang selanjutnya nggak dibodohi sama hal-hal yang nggak relevan untuk perkembangan masa depan bangsa, terus budaya membaca nggak punah ya, karena membaca itu bisa ngembangin pola pikir dan imajinasi bos~

Taman Baca Bulian ke depannya akan membuat banyak aktivitas buat adik-adik pemustaka. Mengembangkan minat, bakat dan pengetahuan adik-adik pemustaka lewat les seperti menggambar, bahasa Inggris, dll. Sejauh ini, yang udah pernah dijalanin di taman baca sih cuma aktivitas kecil-kecilan kayak mendongeng, nonton film bareng, belajar origami, menggambar bersama dll.

Founders dan volunteers berharap agar ke depannya, akan ada 'cabang-cabang dari Pohon Perpustakaan Bulian' ini di tempat-tempat lain dan punya jaringan yang lebih luas

Gue pribadi senang banget bisa gabung di tim sukarelawan taman baca ini. Basically, Taman Baca Bulian ini adalah sebuah youth-led non-affiliated organization (organisasi berbasis kepemudaan yang tidak terikat dengan organisasi lain), artinya inisiatif anak muda, dari anak muda, untuk anak muda. Dengan rasa kepemudaan dan independensi yang ada, gue jadi ada semangat untuk belajar untuk lebih konsisten dan berani berkomitmen. Melihat semangat teman-teman volunteers dan keikhlasan mereka, mata gue jadi terbuka dan buat gue mikir, wah masih banyak ya temen-temen yang concern terhadap hal-hal beginian, tentang membaca, yang kadang orang suka sepelein, padahal impactnya besar.

Menurut gue, inisiatif dan implementasi teman saya yang hebat ini membanggakan sekali. Biar kata orang bilang gua aktif kesana kemari membawa alamat, gue masih suka malu karena gue masih belom berani memulai hal besar semandiri ini, ckck sungguh....


Nah, boleh lah cek Taman Baca Bulian kita ini di:

tamanbacabulian.org

 

http://twitter.com/TamanBacaBulian


Boleh dicek dulu lah lapak kita ini, kepuasan dijamin bray.
Oh iya, kita dengan senang hati dan welcome menerima donasi buku, uang tunai dll. atau donasi tenaga lo sebagai volunteer, dan yang berhubungan dengan kelangsungan taman baca, silahkan distalk, difollow dan dimention twitternya.

Hidup budaya membaca Indonesia! Hidup aktivisme kepemudaan!

8.9.12

1. Ternyata hidup itu memang tidak bisa lempeng-lempeng aja, kalo nggak ada ups and downs, hidup nggak akan maju

2. Inspirasi itu bisa datang dari mana saja, hanya kita berani mengolahnya bersama imajinasi dan kerajinan berpikir atau tidak

3. Individualitas itu penting. Menjadi komunal juga penting. Imbangi dengan baik

4. Cinta, kalau kita tidak mengikuti the triangular theory of love-nya Santrock mungkin kita nggak akan menemukan cinta sejati, men, yang di novel-novel itu ternyata di alam asli ya teori itu....

5. Buku, gue gak bisa hidup tanpa buku asli. Internet kadang hanya sebuah bullcrap bila dibandingkan dengan buku

6. Pengalaman percintaan berkembang, tapi ternyata menutup hati sementara juga perlu ya, tapi nggak perlu hipokrit juga

7. Fokus itu kata sakti. Nggak semua orang bisa fokus, pun nggak semua orang bisa multitasking.

8. Anti-kemapanan, memangnya buruk ya? Bukannya mau jadi diri sendiri yang unik dan ingin berdiri sendiri itu nggak papa ya?

9. Kebhinekaan dan persatuan di negara ini sepertinya harus dipertanyakan

10. Ikhlas adalah unsur terpenting dalam kehidupan
Sudah dua bulan lebih gue menginjakan kaki kembali di tanah air, akhirnya gue mulai coping with situations yang ada sebagai manusia Indonesia kembali, Insya Allah yang punya kualitas internasional juga (amin). Ada satu hal, yang nggak bisa dibilang sepele juga sih, tapi kayaknya udah mendarah-daging di komunitas kehidupan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yaitu salam-salaman. Nah dari dua kalimat tadi, apa hubungannya? Yaitu, baru setahun tinggal di negara barat, gue sempat lupa dengan tradisi salaman sama orang lain, termasuk yang lebih tua, nah loh.


Kurang lebih pas masih sebulan habis pulang, gue kalau ketemu guru memang selalu mencoba untuk salaman, cium tangan, tapi masih aja ada awkward feels gitu. Apalagi pas gue dan temen baik gue, Melody, datang ke kantor radio buat siaran beberapa kali, dia dengan sopan dan santunnya sama satpam dan siapapun di kantor yang dia kenal dia salaman cium tangan, gua pikir, buset ini anak baek bener ya, sopan bener, gaul tapi tetep aja siapapun disalamin, guepun ngikutin dia salaman sama siapapun yang dia salamin karena gue merasa gak sopan kalo gua gak salaman. Udah gitu, waktu gue jagain Taman Baca Bulian (taman baca yang dimotori teman-teman gue dimana gue volunteering aktif di sana, mungkin gue akan ngepost tentang taman baca ini), anak-anak yang udah selesai baca dan mau pulang mereka ngehampirin gue, "Pulang dulu ya kak," terus mereka nyodorin tangan, oh, mereka mau salaman, eh pada cium tangan. Sopan dan hormat banget.

Satu tradisi salaman yang besar dan semua orang pasti pernah lihat atau datang, Halal Bi Halal. Ini emang pake bahasa Arab judulnya, tapi tradisinya sangat mengakar di kehidupan Indonesia bro-sis, khususnya yang beragama Islam. Halbi, di manapun, pasti selalu akan ada salamannya. Misal kalau di sekolah, guru berjejer kemudian murid satu sekolah baris buat salam cium tangan satu-satu minta maaf.

Di sana, salaman itu hanya untuk hal-hal yang formal aja. Kalo ingin ngucapin selamat, atau greetings, goodbyes sama orang yang sudah dikenal dekat, biasanya kita pelukan, lebih mendalam dan berkesan. Misalnya waktu gue ngasih selamat graduation buat temen gue, tapi kita gak deket banget, kita pelukan aja, terus gue say goodbye sama guru-guru favorit karena mau pulang ke Indonesia, kita pelukan. Sementara pas latihan interview job di pelajaran bahasa Inggris, diajarinnya pake jabat tangan, sejauh ini yang gue lihat berjabat tangan di Amerika ya itu doang, sama apabila ada pemenang lomba hadiahnya dikasih sama petinggi-petinggi gitu.Yang gue lihat, hubungan antar orang dekat di sana itu dibuat untuk sangat intimate, lebih heart-to-heart eventhough hanya berteman di sekolah dan sama guru, tapi sekalinya nggak kenal mereka nggak akan mau intimate. Tak kenal tak akan sayang, dan sekali mengenal akan sayang.


Selama di sini, gue pikir budaya salam-salaman ini sangat Indonesia loh, gue belum menemukan hal serupa terjadi di negara lain, setidaknya yang gue lihat dari film dan pantauan langsung yang nggak banyak. Mungkin budaya salam-salaman dan cium tangan adalah bawaan dari budaya komunitas Muslim yang besar di Indonesia, sehingga mempengaruhi keseluruhan kehidupan berbudaya di Indonesia, nggak peduli suku, agama dan ras semua orang Indonesia juga suka salam-salaman dan cium tangan tanda hormat sama orang yang lebih tua. Coba, kalau di negara lain, orang Arab kalau ketemu temen sejenis salaman dan cipika-cipiki sih, orang Katolik kalau ketemu Paus juga cium tangan, tapi adakah yang menjadikan salaman dan cium tangan itu sebagai gaya hidup yang mengakar semua orang? Bangsa mana sih yang anak kecilnya sedari bayi udah diajarin "Ayo salim dulu sama kakaknya,"?

Tradisi ini seharusnya dipertahankan, tapi tujuannya positif. Tradisi ini harus mencerminkan bahwa bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang tahu sopan santun dan saling menghargai. Tidak seharusnya menunjukkan bahwa ada perasaan gila hormat dan senioritas oleh kalangan tertentu. Salaman itu untuk memperkuat silaturahmi dan bukan mencari kehormatan. Salaman juga menandakan bahwa kita ini sebagai makhluk Tuhan yang sederajat dan tidak berbeda di mata Tuhan.

22.7.12



Cultural Evening di Re-Entry Orientation KL-YES 2011-2012, Hyatt Capitol, June 28th 2012.

saya bagian nyanyi di choir dan sesekali kelihatan, saya cewek berbaju hijau di baris kedua, yang kalo nyanyi mumble-ing terus

Kita waktu itu tampil pertama, kita yang palin nggak seragam dari negara lain karena pake baju daerah masing-masing, tapi justru itu yang bikin kita kelihatan diverse dan paling berwarna-warni dan paling ramai dari negara lain, also, kita satu-satunya rombongan negara yang nggak pake softcopy lagu atau rekaman yang requiring komputer. Kita hanya bermodal tarian, suara paduan suara kita dan satu gitar, satu biola dan drum kardus, sungguh sangat merasa keren

Enjoy video kita ya, kawan semua :D
Sebenarnya.... saya ingin melanjutkan cerita saya di Amerika,
tapi apa daya
post-nya akan panjang dan akan ada foto-foto yang agak membuat saya malas dan ingin digeplak
padahal saya tau banyak yang nunggu cerita saya di New York City kaaaan *tuh pada excited kan baca New York City, hayooo hayoooo*

Well, sebelum saya lanjutkan cerita-cerita akhir saya di Amerika, mari kita simak hal apa saja yang di mata saya ganteng dan layak untuk dinikahi apabila mereka benar-benar berwujud manusia dan mereka laki-laki. Mari..... (dan ini according to saya sendiri sih, jadi maklumi saja kalo agak... ya... anda bisa asumsikan sendiri)



bikin ngiler banget, sumpah
1. Buku
Yup, buku adalah suatu entitas materi yang bisa jadi contoh suami terbaik saya, apalagi buku itu sejenis ensiklopedia atau sastra cerdas. Contoh buku yang ingin saya nikahi: The Diving Bell and The Butterfly by Jean-Dominique Bauby, buku-bukunya kakek Soseki Natsume, Supernova by Dee, buku-bukunya Sekar Ayu Asmara, dan tak lupa buku sejarah dan ensiklopedia. Semoga nanti ulang tahun saya yang ke 18 tanggal 5 Agustus nanti, saya bisa dikadoin buku yang banyak atau voucher Gramedia atau Aksara atau Kinokuniya. Amin, biar saya memperbanyak 'pacar' di rak saya.....


2. Musik
Jujur, saya nggak bisa hidup tanpa musik, well, saya lebih suka ada musik dibanding Twitteran. Walau kadang nggak Twitteran rasanya kayak nggak nafas *bohong deng* tapi kalau nggak ada musik kayaknya hidup gue tuh sepi. Saya suka banget bernyanyi, awalnya saya sebelum ke Amerika, saya nyanyi mah nyanyi aja, nggak ada kepikiran buat jatuh cinta lebih dalam sama musik begini. Saya jadi pengen terjun ke dunia profesional untuk performing arts. Kok saya jadi curhat? Saya cinta musik, musik buat hidup saya berwarna dan kebyar-kebyar sekalipun lagunya Ayu Ting-Ting yang Alamat Palsu.


3. Hari Jumat
Benar sekali kawan, hari kelima, hari weekday terakhir yet weekend pertama. Saya jatuh cinta sama hari Jumat, sampai kapanpun. Saya lahir di hari Jumat, saya semoga saja jadian sama pacar pertama dan terakhir di hari Jumat, semoga saja saya menikah di hari Jumat, semoga saya 'dipanggil' di hari Jumat, pokoknya saya cinta berat sama hari Jumat, kenapa? karena itu adalah hari yang paling melegakan, sekolah cuma setengah hari, banyak waktu buat hang out. Hari paling bebas aja pokoknya, juga hari religius pokoknya~
 


4. Jurnal Amerika saya
Jadina, sawaktu abdi teh di Amerika mah, saya dan teamn-teamn lain dikasih ada satu jurnal gitu pas arrival orientation di DC, bukuna itu yang ada di foto sebelah ini. Jadi sampai sekarang, isi buku ini adalah curhatan dan cerita saya selama saya di sana. Buku ini adalah sahabat terbaik saya di sana, menemani saya ketika sedih, bisa dimarahin saat saya marah, menemani saya ketika senang, dan tempat melampiaskan galau saya soal apapun, terutama cowok. Jurnal ini tidur di samping saya setiap malam, makanya saya sayaaaaaang banget sama dia.



5. National Geographic Magazine
*tatatataaaaaata tatatataaatataaatataaataaaaaaa* <--- (maksudnya theme song NatGeo)
Well, yang ini, tidak bisa diklasifikasikan dalam buku karena barang ini terlalu extraordinary buat saya. Memang, ada majalah serupa lain yang gila sekali dalam mengungkap pengetahuan umum, tapi hanya NatGeo yang bikin saya kesengsem berat. Ya fotonya, ya tulisannya, ya kontennya, ya gambar petanya dan segala macem, tolong banget deh, bikin saya jadi nyesel dulu langganan majalah remaja cewek, ampun Tuhan. Tapi, kalo boleh hipokrit sedikit, saya cuma punya 3 eksemplar NatGeo di rumah. 2 bahasa inggris dari tahun 1994 dan NatGeo Thai, yang merupakan sebuah treasure. Pun, mulai sekarang, saya harus nabung 50 ribu rupiah per bulan demi pacaran sama majalah terkeren sedunia ini.




Hal lain yang worthed masuk sepuluh besar
6. Film
7. iPhone saya
8. Teater
9. Fotografi
10. Bahasa-bahasa yang saya pelajari

Sekian ke-randoman saya kali ini, mungkin lain waktu bisa dilanjutkan, wassalam~
 

Copyright 2010 Singa Betina yang Terjebak.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.